Jumat, 02 September 2022

PERPUSTAKAAN KELILING MASUK SEKOLAH






Pada hari rabu, 31 Agustus 2022 SMPN 1 Terbanggi Besar kedatangan mobil perpustakaan keliling dari perpustakaan daerah Kabupaten Lampung Tengah. Hadir saat itu ibu Ina Murata selaku kabid pelayanan perpustakaan daerah yang secara bersama-sama mengajak siswa-siswa untuk gemar membaca. 

Mobil perpustakaan keliling tersebut memfasilitasi siswa-siswa untuk membaca berbagai jenis bacaan yang menarik. Siswa-siswa tampak antusias memilih buku bacaan dan membacanya. Liputan selebihnya dapat dilihat pada tautan link youtube berikut ini: 

https://www.youtube.com/watch?v=sXuFeToPJEc&t=10s


Jumat, 29 Oktober 2021

FESTIVAL LITERASI SEKOLAH

 

FESTIVAL LITERASI SEKOLAH TINGKATKAN KEGIATAN LITERASI SISWA

 

1.    Fact (Peristiwa)

 

Latar Belakang

          Salah satu bagian dari visi SMPN 1 Terbanggi Besar adalah menjadi sekolah giat literasi. Berbagai kegiatan literasi sudah mulai dilaksanakan di SMPN 1 Terbanggi Besar. Kegiatan-kegiatan ini meliputi kegiatan mandiri yang dilakukan siswa maupun yang terbimbing didampingi oleh guru-guru yang ada. Namun dengan adanya pandemi Covid 19 kegiatan literasi menjadi terhambat. Beberapa kegiatan terpaksa tidak dapat dilakukan karena kondisi yang ada.

Melihat kondisi tersebut, saya selaku ketua tim literasi sekolah mengajak tim untuk memikirkan sebuah program aksi nyata yang berdampak pada siswa yang berhubungan dengan peningkatan kegiatan literasi. Program yang berdampak pada siswa tersebut kami beri nama “Festival Literasi Sekolah” (FLS).

Gambar 1, Logo FLS


Deskripsi Aksi Nyata

          Festival literasi sekolah adalah sebuah aksi nyata yang di lakukan dengan tujuan berdampak langsung pada siswa. Kegiatan ini mendayagunakan asset/modal yang dimiliki oleh sekolah yaitu modal manusia yang terdiri dari tim literasi sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan, modal sosial yang berupa interaksi warga sekolah yang selalu mendukung program-program yang diadakan oleh sekolah, modal fisik yang terdiri dari ruang kelas, laboratorium multimedia dan lain-lain, modal finansial berupa pendanaan dari sekolah dan modal/asset lainnya.

          Festival literasi ini terdiri dari berbagai kegiatan peningkatan literasi yaitu menulis pantun, puisi dan cerpen, baca puisi, desain poster literasi dan mendongeng. Kegiatan ini dilakukan secara daring maupun luring dengan beberapa tahapan. Tahap pertama yaitu merencanakan kegiatan. Pada tahap ini tim literasi mengusulkan kegiatan pada sekolah, kemudian menyusunpanitia pelaksanaan.

Gambar 2, Rapat perencanaan kegiatan

Setelah melaksanakan perencanaan, panitia mensosialisasikan kegiatan kepada siswa maupun guru. Sosialisasi dilakukan melalui tatap muka di kelas ataupun sosial media. Setelah sosialisasi diadakan pelaksanaan kegiatan.

Gambar 3, Lomba desain poster literasi dalam FLS

 

Panitia telah menentukan juri masing-masing untuk kegiatan festival literasi ini. Para juri menilai lomba baik yang diadakan secara langsung maupun yang diadakan dengan mengumpulkan melalui sosial media. Juri telah membuat instrumen penilaian untuk kegiatan masing-masing lomba.

 

Gambar 4, Juri sedang menilai pembacaan puisi oleh siswa

 

Setelah dilakukan penilaian pada setiap cabang lomba maka diadakan pengumuman untuk juara masing-masing lomba.

Gambar 5, Siswa dengan hasil karyanya.

 

2.   Feeling (perasaan)

Saya sangat senang dengan dilaksanakannya FLS ini. Kegiatan ini harapannya dapat dilakukan setiap tahun di sekolah kami. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan tumbuh dan berkembangnya kegiatan literasi bagi siswa. Saya bersukur kegiatan ini mendapat dukungan pimpinan, rekan kerja dan semua warga sekolah.

 

3.    Finding (Pembelajaran yang diperoleh)

Beberapa hal yang saya dapatkan dari kegiatan ini adalah:

a.         Festival literasi sekolah dapat menjadi salah satu momen pengenalan literasi dan peningkatan kegiatan literasi.

b.        Sebuah program yang berdampak pada siswa sangat diperlukan demi peningkatan kompetensi siswa.

c.         Program yang berdampak pada siswa dapat terlaksana dengan baik apabila pintar memanfaatkan aset/modal yang dimiliki oleh sekolah dan mendapat dukungan segenap warga sekolah.

 

4.    Future (Rencana perbaikan ke depan)

Untuk masa yang akan datang, kegiatan berdampak pada siswa ini dapat dilaksanakan dengan perencanaan yang matang salah satunya sosialisasi pentingnya kegiatan ini pada siswa sehingga makin banyak siswa yang terlibat dalam kegiatan ini.

Sabtu, 09 Oktober 2021

KARAKTER LITERASI SMPN 1 TERBANGGI BESAR DAN DESKRIPSINYA

 

KARAKTER LITERASI

SMPN 1 TERBANGGI BESAR

 

Karakter literasi SMPN 1 Terbanggi Besar adalah tokok-tokoh literasi  yang digambarkan dalam bentuk animasi, diambil dari nama-nama siswa SMPN 1 Terbanggi Besar yang berprestasi dalam kegiatan literasi sekolah. Mereka adalah Lala, Kinasih, Salma, Bertha, Fandi, Damar, dan Soni.




 

DESKRIPSI KARAKTER LITERASI

SMPN 1 TERBANGGI BESAR


 



Bertha adalah pribadi yang mandiri dan jago baca puisi. Ia pernah menjadi juara baca puisi tingkat Provinsi Lampung dan menjadi finalis baca puisi nasional di Manado.



Damar adalah siswa yang senang  bekerja sama dan suka mendongeng. Ia tergabung dalam ektrakurikuler Bahasa Inggris dan rajin berlatih serta mengikuti lomba story telling. 



Kinasih adalah siswa yang selalu menghormati teman, jujur dan hobi menulis cerita. Kegemaran menulis mengantarkan ia menjadi  1 dari 3 penulis buku tunggal ber ISBN pertama di SMPN 1 Terbanggi Besar.



Lala adalah siswa yang rajin beribadah dan juara pidato. Ia juga hobi menulis. Buku tunggal pertamanya adalah 1 dari 3 buku tunggal ber ISBN pertama di SMPN 1 Terbanggi Besar.



Fandi adalah siswa yang selalu ingin tahu dan gemar melukis. Ia pernah menyabet juara 2 melukis tingkat Provinsi Lampung.



Salma adalah siswa yang memiliki toleransi tinggi dan gemar membaca. Juara kelas ini adalah 1 dari 3 penulis buku tunggal ber ISBN pertama di SMPN 1 Terbanggi Besar.



Soni adalah siswa kreatif dan bagus dalam menggambar. Ia sering mewakili sekolah dalam kegiatan-kegiatan lomba menggambar.

LOGO GLS SMPN 1 TERBANGGI BESAR DAN MAKNA FILOSOFINYA

 

LOGO GERAKAN LITERASI SEKOLAH

SMPN 1 TERBANGGI BESAR


 

MAKNA FILOSOFI LOGO

GERAKAN LITERASI SEKOLAH

SMPN 1 TERBANGGI BESAR





 

1.    Nyala api berwarna merah, kuning dan biru melambangkan semangat berliterasi siswa kelas VII, VIII dan IX SMPN 1 Terbanggi Besar yang harus terus dijaga.

 

2.    Buku berwarna merah melambangkan buku sebagai sumber bacaan yang sarat informasi dalam berliterasi.

 

3.    Logo SMPN 1 Terbanggi Besar melambangkan SMPN 1 Terbanggi Besar sebagai institusi pendidikan selalu siap menjadi wadah berkembangnya literasi bagi  warga sekolah.

 

4.    Bingkai merah dan biru melambangkan dukungan yang menaungi dan menjaga gerakan literasi yang berasal dari dalam sekolah dan juga luar sekolah.

 

5.    Gambar tiga orang melambangkan pelaku gerakan literasi sekolah yang terdiri dari siswa, pendidik dan tenaga kependidikan.

 

6.    Lingkaran biru muda di belakang gambar buku melambangkan sebuah usaha yang tidak putus untuk terus mendukung gerakan literasi sekolah di SMPN 1 Terbanggi Besar.

 

7.  Tulisan Gerakan Literasi Sekolah SMPN 1 Terbanggi Besar melambangkan komitmen yang kuat untuk melaksakan kegiatan literasi di sekolah dan menjadikan SMPN 1 Terbanggi Besar sebagai sekolah literat.

 






























Rabu, 25 November 2020

PUISI HARI GURU 2020

 

AKU SEORANG GURU

(Siswanjaya)


 

Aku seorang guru

Seisi dunia kan kuberitahu

 

Aku seorang guru

Tak pernah malu

Menebar ilmu

 

Aku seorang guru

Engkau tahu itu

Banyak doa teruntai untukku

Dari murid-muridku

 

Aku seorang guru

Tiap hari kubagi ilmu

Untuk bekal hidup muridku

Agar kelak hidupnya maju

Hanya itu harapan-harapanku

 

Aku seorang guru

Tak seorangpun dapat menghalangiku

Tak seoragpun dapat mematahkanku

Tak seorangpun dapat menghinaku

Karena aku seorang guru

Aku bangga itu

 

 

PUISI HARI GURU 2020

 PAK GURU SUDI

(Siswanjaya)

 

 

Pak Guru Sudi

Melangkah sepenuh hati

Wujudkan mimpi-mimpi anak negeri

Siapa yang peduli?

Tak ada yang mengerti

Hanya ia sendiri

Yang punya tekad sepenuh hati

Tak pernah pusing dengan birokrasi

Tak pernah marah dengan caci maki

Tak pernah terpicu iri dan dengki

Mengajar dengan hati

 

Pak Guru Sudi

Tiga puluh tahun kini

Engkau masih dinanti

Senyum tipis menarik hati

Langkah tegap percaya diri

Didepan kelas engkau berdiri

Tak pernah lengah dan selalu mawas diri

Pada mereka yang ingin mengerti

 

Pak guru Sudi

Kami tak mau engkau terganti

Engkau matahari pagi kami

Hingga suatu saat kami akan kembali

Dengan kebanggaan didada kami

Dan berkata ini berkat Pak Guru Sudi


PUISI HARI GURU 2020

BU GURU ERMI 

(Siswanjaya)



Bu guru ermi

Apa kabarnya engkau kini

Senyum teduh laksana peri

Tak hilang kusimpan dalam memori

 

Bu guru ermi

Engkau tau kata-katamu memberi energi

Padaku yang yang masih tak percaya diri

Menikmati hari tanpa tujuan pasti

 

Enam belas tahun lalu

Masa depanku masih abu-abu

Tak tau kan kemana langkahku

Tapi kata-katamu yang selalu memujiku

Menjadi semangat yang memicu

Aku mampu

Hanya engkau yang menunjukkan itu

Engkau mempercayai itu dalam diriku

 

Bu guru ermi

Kau lihat anakmu kini

Berdiri tegap percaya diri

Semua karena bu guru Ermi

Terima kasihku dari hati

Semoga jasamu dibalas Illahi



Puisi Hari Guru 2020

 


Selasa, 06 Oktober 2020

Janji Caleg: Bang Darto

Janji Caleg: Bang Darto

 

Namanya Bang Tohar, Toharudin bin Zainal. Lelaki jawa kelahiran Medan. Siapa yang tak kenal ia? Semua pasti paham dengan lelaki satu ini terutama orang-orang yang biasa pergi ke pasar. Setiap pagi ia akan sudah petantang-petenteng di pintu masuk pasar dengan asap rokok mengepul dari mulutnya. Rambut ikal yang terlihat tak pernah disisir, mata tampak melotot bagai harimau melihat mangsanya serta tato hampir penuh diseluruh badan mencari ciri khasnya.

Sehari-hari hidupnya berkeliling pasar. Menemui setiap pemilik toko ataupun pedagang untuk meminta upeti: ‘uang keamanan’. Tak ada yang berani menolak, lebih baik memberi daripada sengsara dihajar Bang Tohar. Pernah ada yang berani melawan. Babak belur ia dibuat Bang Tohar. Belum lagi intimidasi terhadap keluarganya. Bang Tohar akan mencari tahu seluk beluk keluarga yang berani melawannya.

Tak ada yang berani melapor ke polisi. Melaporkan Bang Tohar ke polisi sama saja mencari perkara. Daripada melaporkan Bang Tohar dan mengirimnya ke sel namun ujung-ujungnya Bang Tohar nanti keluar dan akan mencarinya hingga ke lubang semut lebih baik memberinya sedikit upeti setiap pagi: itu cara berdamai.

Alih-alih memperbaiki diri karena sudah makin tua, rupanya Bang Tohar justru makin sadis. Nenek-nenek penjual kacang Sihobuk alias kacang goreng khas Medan pun tak ia lewatkan, harus membayar upeti juga. Parah!

Uang haram tak akan pernah berkah. Selepas pasar bubaran, Bang Tohar akan segera berpindah tempat tongkrongan. Lapak-lapak tuak menjadi tempat favoritnya. Minuman beralkohol yang terbuat dari beras atau cairan yang diambil dari tanaman seperti nira pohon enau atau pohon nipah tersebut menemani hari-harinya.

Uang upeti hari itupun akan ludes dalam waktu sekejap di meja judi. Kalau soal judi Bang Tohar profesional. Jika kalah, ia akan mengaku kalah. Tak pernah dia marah-marah dan berlagak jagoan di tempat judi tersebut. Jika sudah kalah dia akan pulang dengan kondisi rambut dan baju acak-acakan di sore hari. Ia akan tidur dari sebelum magrib hingga pagi. Setelah itu ia akan berangkat ‘dinas’ lagi ke tempat tugasnya: pasar. Begitulah sehari-hari kehidupan Bang Tohar.

Namun pagi ini ada yang berbeda. Bang Tohar tampak rapi. Celana jins dan kemeja kotak-kotak menjadi seragamnya pagi itu. Tampak senyum tersungging yang dipaksakan setiap bertemu orang-orang yang datang ke pasar. Bagi sebagian besar orang itu pasti terlihat aneh, tak biasanya.

“Pagi Bang Tohar,” aku memberanikan diri menyapanya.

“Hei, pagi, Cok! Nampak buru-buru kali, Kau. Mau beli apa?” balas Bang Tohar sambil memanggilku ucok, panggilan untuk anak laki-laki di Medan.

“Omak minta aku beli daun ubi, Bang,” jawabku.

“Rupanya omak kau itu mau buat gulai daun ubi tumbuk ya? Sedap kali itu, Cok,” ucap Bang Tohar menyebutkan masakan khas Medan yang terbuat dari daun singkong yang biasanya ditumbuk halus menggunakan lesung dan diolah menggunakan santan.

“Iya, Bang. Saya duluan ya, Bang,” ucapku meninggalkan Bang Tohar melewati beberapa jajaran toko penjual kopi Sidikalang, kopi khas Medan.

Dari bisik-bisik pembicaraan penjual dan pembeli di pasar kuketahui Bang Tohar ternyata sedang mendaftarkan diri sebagai calon legislatif. Bah!! umpatku dalam hati. Partai mana pula yang menerimanya sebagai kader untuk dicalonkan sebagai anggota legislatif. Orang macam Bang Tohar tau apa untuk urusan negara. Bisa apa Bang Tohar sebagai anggota legislatif nanti pikirku. Lama-lama bisa hancur negara ini jika orang-orang seperti dia menjadi anggota legislatif.

“Sudah seminggu ini ia tak keliling menarik upeti dari pedagang” bisik penjual lemang pada pembelinya.

“Mimpi apa dia mau jadi caleg?” tanya si pembeli.

“Entahlah. Yang jelas satu minggu ini aku bisa berhemat tak perlu membayar uang keamanan padanya,” jawab penjual lemang, makanan tradisional yang berbahan dasar beras ketan dicampur santan dengan digulung menggunakan daun pisang kemudian dimasukkan ke ruas bambu dan dibakar di atas bara api tersebut.

Dari hari ke hari aksi Bang Tohar makin gencar. Spanduk-spanduk dan poster bergambarkan mukanya tersebut tampak memenuhi sudut-sudut pasar. Hampir di setiap keramaian ia ada: di pesta pernikahan, kegiatan-kegiatan sosial maupun upacara adat. Jadwal Bang Tohar sangat padat, bak artis yang kejar sinetron stripping.

Di beberapa kesempatan Bang Tohar bediri di atas panggung menyampaikan visi misinya jika ia terpilih sebagai anggota legislatif. Sejak kapan ia belajar berbicara di depan orang banyak? Yang jelas saat dia sudah berbicara semua seakan lupa siapa Bang Tohar sebelumnya.

“Bang Tohar, jangan lupa perbaiki jalan-jalan kita jika nanti Bang Tohar terpilih menjadi anggota legislatif” ucap seorang pemuda pada pada Bang tohar di suatu kesempatan.

“Kau tenang saja, Jamal. Akan kuaspal kembali jalan-jalan rusak kita ini sampai ke gang-gang rumah kalian. Serahkan itu pada, Tohar” ucapnya pada pemuda bernama Jamal tersebut.

“Pikirkan juga kebutuhan pokok kami, Bang. Semua barang-barang harganya makin tak terjangkau. Bisa mati kelaparan kami kalau terus begini” teriak seorang ibu dengan lantang.

“Iya betul itu. Sudah berapa puluh kali pemilihan umum. Nasib kita tetap seperti ini saja. Tak ada perubahan sama sekali” timpal ibu yang lainnya.

“Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak tenang saja. Tohar akan mewujudkannya asal Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semua mendukung Tohar. Kita buat daerah kita ini menjadi daerah yang maju, daerah yang tidak ketinggalan dari daerah lainnya,” teriak Bang Tohar lantang tanpa malu.

Sedikit bergeser dari tempat berdirinya ia menambahkan kalimatnya, “Jika Tohar terpilih menjadi anggota legislatif, urusan jalan dan yang lain-lainnya itu urusan kecil. Takkan lama Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu akan menikmati perbaikannya. Saya pastikan itu.”

Janji-janji manis Bang Tohar membuat terlena kepala-kepala yang tak berlogika. Bujuk dan rayunya memikat setiap telinga yang mendengar. Orang-orang yang dulunya takut meski hanya untuk lewat di depannya sekarang seolah rela mengejarnya seperti fans yang menantikan berfoto bersama artis pujaaannya. Setiap kali bertemu warga tak tak segan-segan Bang Tohar membagi-bagikan lembaran rupiah dari dalam dompetnya. Entah uang dari mana yang dia bagikan itu.

Tak pelak, saat pemilu usai Bang Tohar mendapatkan suara yang lebih dari cukup untuk mengantarkannya menjadi anggota legislatif mewakili orang-orang yang menerima sabun mandi dan susu kaleng serta kaos bergambar mukanya dan partai yang mengusungnya. Tak rugi ia mengutus penjilat-penjilat yang mengantarkan ampop-amplop berisi lembaran rupiah ke rumah-rumah warga di pagi buta sebelum pemilihan.

“Selamat, Bang Tohar. Jangan lupa realisasikan janji-janji Bang Tohar,” ucap Binsar dengan berani pada Bang Tohar.

“Tenang saja kau, Binsar. Setelah aku dilantik nanti akan segera kutunaikan janji-janjiku” jawab Bang Tohar dengan jumawanya.

“Akan aku aspal semua jalan kita ini hingga ke gang-gang kecil seperti janjiku tempo hari itu. Tak lupa juga aku akan perbaiki selokan-selokan mampet di pasar kita ini. Kau tak perlu khawatir dengan janji-janjiku, Binsar,” kembali Bang Tohar meyakinkan Binsar dan beberapa orang yang ada disitu.

“Satu lagi, akan kupastikan semua barang-barang kebutuhan pokok disini harganya stabil, Binsar,” tambah Bang Tohar sambil melempar sisa rokok yang sudah dihisapnya ke tanah.

“Baiklah, Bang. Kami menunggu realisasi tersebut” ucap Binsar penuh harap.

Aku yang mendengar percakapan kedua orang tersebut hanya mengernyitkan dahi. Menahan ludah agar tak membuatku tersedak. Tak tahu aku harus percaya atau tidak? Kutinggalkan kerumunan itu segera. Omakku sudah menunggu teri medan yang kubeli barusan.

Sudah hampir dua tahun sejak pelantikan anggota legislatif terpilih, Bang Tohar makin tidak pernah kelihatan. Tak seperti bisanyanya sangat mudah menemukannya mondar-mandir di pasar. Hanya dua kali aku melihatnya. Pertama saat upacara kemerdekaan di lapangan kecamatan dan yang kedua saat meninggal pamannya yang kebetulan berdekatan rumahnya dengan rumah orangtuaku.

“Kau bilang dulu pada warga itu untuk bersabar, Binsar. Tidak ada dana untuk pengaspalan jalan kita tahun ini. Aku sedang usulkan proposal untuk anggaran tahun depan, itupun jika disetujui” jelas Bang Tohar pada Binsar saat lagi-lagi Binsar menuntut janji Bang Tohar.

“Aku tak bisa memantau proposal itu terus. Aku ini sibuk setiap harinya. Harus rapat, kunjungan kerja dan lain sebagainya. Kau harus tau itu, Binsar. Sampaikan itu pada warga ya!” ucapnya berlalu pergi meninggalkan Binsar yang masih tegak berdiri di posisinya.

Aku tahu realisasi tak seindah janji. Hingga beberapa bulan sejak percakapan Binsar dan Bang Tohar, tak ada kabar lagi dari Bang Tohar. Entah sudah dimana dia? Sibuk rapat atau menyusun program kerjanya aku tak ingin tahu, yang jelas jalan-jalanku masih seperti dahulu: rusak.


 #Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"

PERPUSTAKAAN KELILING MASUK SEKOLAH

Pada hari rabu, 31 Agustus 2022 SMPN 1 Terbanggi Besar kedatangan mobil perpustakaan keliling dari perpustakaan daerah Kabupaten Lampung Ten...