Janji Caleg: Bang
Darto
Namanya
Bang Tohar, Toharudin bin Zainal. Lelaki jawa kelahiran Medan. Siapa yang tak
kenal ia? Semua pasti paham dengan lelaki satu ini terutama orang-orang yang
biasa pergi ke pasar. Setiap pagi ia akan sudah petantang-petenteng di pintu
masuk pasar dengan asap rokok mengepul dari mulutnya. Rambut ikal yang terlihat
tak pernah disisir, mata tampak melotot bagai harimau melihat mangsanya serta
tato hampir penuh diseluruh badan mencari ciri khasnya.
Sehari-hari
hidupnya berkeliling pasar. Menemui setiap pemilik toko ataupun pedagang untuk
meminta upeti: ‘uang keamanan’. Tak ada yang berani menolak, lebih baik memberi
daripada sengsara dihajar Bang Tohar. Pernah ada yang berani melawan. Babak
belur ia dibuat Bang Tohar. Belum lagi intimidasi terhadap keluarganya. Bang
Tohar akan mencari tahu seluk beluk keluarga yang berani melawannya.
Tak
ada yang berani melapor ke polisi. Melaporkan Bang Tohar ke polisi sama saja
mencari perkara. Daripada melaporkan Bang Tohar dan mengirimnya ke sel namun
ujung-ujungnya Bang Tohar nanti keluar dan akan mencarinya hingga ke lubang
semut lebih baik memberinya sedikit upeti setiap pagi: itu cara berdamai.
Alih-alih
memperbaiki diri karena sudah makin tua, rupanya Bang Tohar justru makin sadis.
Nenek-nenek penjual kacang Sihobuk alias kacang goreng khas Medan pun tak ia
lewatkan, harus membayar upeti juga. Parah!
Uang
haram tak akan pernah berkah. Selepas pasar bubaran, Bang Tohar akan segera
berpindah tempat tongkrongan. Lapak-lapak tuak menjadi tempat favoritnya.
Minuman beralkohol yang terbuat dari beras atau cairan yang diambil dari
tanaman seperti nira pohon enau atau pohon nipah tersebut menemani hari-harinya.
Uang
upeti hari itupun akan ludes dalam waktu sekejap di meja judi. Kalau soal judi
Bang Tohar profesional. Jika kalah, ia akan mengaku kalah. Tak pernah dia
marah-marah dan berlagak jagoan di tempat judi tersebut. Jika sudah kalah dia
akan pulang dengan kondisi rambut dan baju acak-acakan di sore hari. Ia akan
tidur dari sebelum magrib hingga pagi. Setelah itu ia akan berangkat ‘dinas’
lagi ke tempat tugasnya: pasar. Begitulah sehari-hari kehidupan Bang Tohar.
Namun
pagi ini ada yang berbeda. Bang Tohar tampak rapi. Celana jins dan kemeja
kotak-kotak menjadi seragamnya pagi itu. Tampak senyum tersungging yang
dipaksakan setiap bertemu orang-orang yang datang ke pasar. Bagi sebagian besar
orang itu pasti terlihat aneh, tak biasanya.
“Pagi
Bang Tohar,” aku memberanikan diri menyapanya.
“Hei,
pagi, Cok! Nampak buru-buru kali, Kau. Mau beli apa?” balas Bang Tohar sambil
memanggilku ucok, panggilan untuk anak laki-laki di Medan.
“Omak
minta aku beli daun ubi, Bang,” jawabku.
“Rupanya
omak kau itu mau buat gulai daun ubi tumbuk ya? Sedap kali itu, Cok,”
ucap Bang Tohar menyebutkan masakan khas Medan yang terbuat dari daun singkong
yang biasanya ditumbuk halus menggunakan lesung dan diolah menggunakan santan.
“Iya,
Bang. Saya duluan ya, Bang,” ucapku meninggalkan Bang Tohar melewati beberapa
jajaran toko penjual kopi Sidikalang, kopi khas Medan.
Dari
bisik-bisik pembicaraan penjual dan pembeli di pasar kuketahui Bang Tohar
ternyata sedang mendaftarkan diri sebagai calon legislatif. Bah!! umpatku
dalam hati. Partai mana pula yang menerimanya sebagai kader untuk dicalonkan
sebagai anggota legislatif. Orang macam Bang Tohar tau apa untuk urusan negara.
Bisa apa Bang Tohar sebagai anggota legislatif nanti pikirku. Lama-lama bisa hancur
negara ini jika orang-orang seperti dia menjadi anggota legislatif.
“Sudah
seminggu ini ia tak keliling menarik upeti dari pedagang” bisik penjual lemang
pada pembelinya.
“Mimpi
apa dia mau jadi caleg?” tanya si pembeli.
“Entahlah.
Yang jelas satu minggu ini aku bisa berhemat tak perlu membayar uang keamanan
padanya,” jawab penjual lemang, makanan tradisional yang berbahan dasar beras ketan dicampur santan dengan digulung menggunakan daun pisang kemudian dimasukkan ke ruas bambu dan dibakar di atas
bara api tersebut.
Dari hari ke hari aksi Bang Tohar makin gencar.
Spanduk-spanduk dan poster bergambarkan mukanya tersebut tampak memenuhi
sudut-sudut pasar. Hampir di setiap keramaian ia ada: di pesta pernikahan,
kegiatan-kegiatan sosial maupun upacara adat. Jadwal Bang Tohar sangat padat,
bak artis yang kejar sinetron stripping.
Di beberapa kesempatan Bang Tohar bediri di atas
panggung menyampaikan visi misinya jika ia terpilih sebagai anggota legislatif.
Sejak kapan ia belajar berbicara di depan orang banyak? Yang jelas saat dia
sudah berbicara semua seakan lupa siapa Bang Tohar sebelumnya.
“Bang Tohar, jangan lupa perbaiki jalan-jalan kita jika
nanti Bang Tohar terpilih menjadi anggota legislatif” ucap seorang pemuda pada
pada Bang tohar di suatu kesempatan.
“Kau tenang saja, Jamal. Akan kuaspal kembali
jalan-jalan rusak kita ini sampai ke gang-gang rumah kalian. Serahkan itu pada,
Tohar” ucapnya pada pemuda bernama Jamal tersebut.
“Pikirkan juga kebutuhan pokok kami, Bang. Semua
barang-barang harganya makin tak terjangkau. Bisa mati kelaparan kami kalau
terus begini” teriak seorang ibu dengan lantang.
“Iya betul itu. Sudah berapa puluh kali pemilihan umum.
Nasib kita tetap seperti ini saja. Tak ada perubahan sama sekali” timpal ibu
yang lainnya.
“Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak tenang saja. Tohar akan
mewujudkannya asal Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semua mendukung Tohar. Kita buat
daerah kita ini menjadi daerah yang maju, daerah yang tidak ketinggalan dari
daerah lainnya,” teriak Bang Tohar lantang tanpa malu.
Sedikit bergeser dari
tempat berdirinya ia menambahkan kalimatnya, “Jika Tohar terpilih menjadi
anggota legislatif, urusan jalan dan yang lain-lainnya itu urusan kecil. Takkan
lama Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu akan menikmati perbaikannya. Saya pastikan itu.”
Janji-janji manis Bang Tohar membuat terlena kepala-kepala
yang tak berlogika. Bujuk dan rayunya memikat setiap telinga yang mendengar.
Orang-orang yang dulunya takut meski hanya untuk lewat di depannya sekarang
seolah rela mengejarnya seperti fans yang menantikan berfoto bersama artis
pujaaannya. Setiap kali bertemu warga tak tak segan-segan Bang Tohar
membagi-bagikan lembaran rupiah dari dalam dompetnya. Entah uang dari mana yang
dia bagikan itu.
Tak pelak, saat pemilu usai Bang Tohar mendapatkan
suara yang lebih dari cukup untuk mengantarkannya menjadi anggota legislatif mewakili
orang-orang yang menerima sabun mandi dan susu kaleng serta kaos bergambar
mukanya dan partai yang mengusungnya. Tak rugi ia mengutus penjilat-penjilat
yang mengantarkan ampop-amplop berisi lembaran rupiah ke rumah-rumah warga di
pagi buta sebelum pemilihan.
“Selamat, Bang Tohar. Jangan lupa realisasikan
janji-janji Bang Tohar,” ucap Binsar dengan berani pada Bang Tohar.
“Tenang saja kau, Binsar. Setelah aku dilantik nanti
akan segera kutunaikan janji-janjiku” jawab Bang Tohar dengan jumawanya.
“Akan aku aspal semua jalan kita ini hingga ke gang-gang
kecil seperti janjiku tempo hari itu. Tak lupa juga aku akan perbaiki
selokan-selokan mampet di pasar kita ini. Kau tak perlu khawatir dengan
janji-janjiku, Binsar,” kembali Bang Tohar meyakinkan Binsar dan beberapa orang
yang ada disitu.
“Satu lagi, akan kupastikan semua barang-barang
kebutuhan pokok disini harganya stabil, Binsar,” tambah Bang Tohar sambil
melempar sisa rokok yang sudah dihisapnya ke tanah.
“Baiklah, Bang. Kami menunggu realisasi tersebut” ucap
Binsar penuh harap.
Aku yang mendengar percakapan kedua orang tersebut hanya
mengernyitkan dahi. Menahan ludah agar tak membuatku tersedak. Tak tahu aku harus
percaya atau tidak? Kutinggalkan kerumunan itu segera. Omakku sudah menunggu
teri medan yang kubeli barusan.
Sudah hampir dua tahun sejak pelantikan anggota
legislatif terpilih, Bang Tohar makin tidak pernah kelihatan. Tak seperti
bisanyanya sangat mudah menemukannya mondar-mandir di pasar. Hanya dua kali aku
melihatnya. Pertama saat upacara kemerdekaan di lapangan kecamatan dan yang
kedua saat meninggal pamannya yang kebetulan berdekatan rumahnya dengan rumah
orangtuaku.
“Kau bilang dulu pada warga itu untuk bersabar, Binsar.
Tidak ada dana untuk pengaspalan jalan kita tahun ini. Aku sedang usulkan proposal
untuk anggaran tahun depan, itupun jika disetujui” jelas Bang Tohar pada Binsar
saat lagi-lagi Binsar menuntut janji Bang Tohar.
“Aku tak bisa memantau proposal itu terus. Aku ini sibuk
setiap harinya. Harus rapat, kunjungan kerja dan lain sebagainya. Kau harus tau
itu, Binsar. Sampaikan itu pada warga ya!” ucapnya berlalu pergi meninggalkan
Binsar yang masih tegak berdiri di posisinya.
Aku tahu realisasi tak seindah janji. Hingga beberapa
bulan sejak percakapan Binsar dan Bang Tohar, tak ada kabar lagi dari Bang
Tohar. Entah sudah dimana dia? Sibuk rapat atau menyusun program kerjanya aku
tak ingin tahu, yang jelas jalan-jalanku masih seperti dahulu: rusak.
#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"