Selasa, 06 Oktober 2020

Janji Caleg: Bang Darto

Janji Caleg: Bang Darto

 

Namanya Bang Tohar, Toharudin bin Zainal. Lelaki jawa kelahiran Medan. Siapa yang tak kenal ia? Semua pasti paham dengan lelaki satu ini terutama orang-orang yang biasa pergi ke pasar. Setiap pagi ia akan sudah petantang-petenteng di pintu masuk pasar dengan asap rokok mengepul dari mulutnya. Rambut ikal yang terlihat tak pernah disisir, mata tampak melotot bagai harimau melihat mangsanya serta tato hampir penuh diseluruh badan mencari ciri khasnya.

Sehari-hari hidupnya berkeliling pasar. Menemui setiap pemilik toko ataupun pedagang untuk meminta upeti: ‘uang keamanan’. Tak ada yang berani menolak, lebih baik memberi daripada sengsara dihajar Bang Tohar. Pernah ada yang berani melawan. Babak belur ia dibuat Bang Tohar. Belum lagi intimidasi terhadap keluarganya. Bang Tohar akan mencari tahu seluk beluk keluarga yang berani melawannya.

Tak ada yang berani melapor ke polisi. Melaporkan Bang Tohar ke polisi sama saja mencari perkara. Daripada melaporkan Bang Tohar dan mengirimnya ke sel namun ujung-ujungnya Bang Tohar nanti keluar dan akan mencarinya hingga ke lubang semut lebih baik memberinya sedikit upeti setiap pagi: itu cara berdamai.

Alih-alih memperbaiki diri karena sudah makin tua, rupanya Bang Tohar justru makin sadis. Nenek-nenek penjual kacang Sihobuk alias kacang goreng khas Medan pun tak ia lewatkan, harus membayar upeti juga. Parah!

Uang haram tak akan pernah berkah. Selepas pasar bubaran, Bang Tohar akan segera berpindah tempat tongkrongan. Lapak-lapak tuak menjadi tempat favoritnya. Minuman beralkohol yang terbuat dari beras atau cairan yang diambil dari tanaman seperti nira pohon enau atau pohon nipah tersebut menemani hari-harinya.

Uang upeti hari itupun akan ludes dalam waktu sekejap di meja judi. Kalau soal judi Bang Tohar profesional. Jika kalah, ia akan mengaku kalah. Tak pernah dia marah-marah dan berlagak jagoan di tempat judi tersebut. Jika sudah kalah dia akan pulang dengan kondisi rambut dan baju acak-acakan di sore hari. Ia akan tidur dari sebelum magrib hingga pagi. Setelah itu ia akan berangkat ‘dinas’ lagi ke tempat tugasnya: pasar. Begitulah sehari-hari kehidupan Bang Tohar.

Namun pagi ini ada yang berbeda. Bang Tohar tampak rapi. Celana jins dan kemeja kotak-kotak menjadi seragamnya pagi itu. Tampak senyum tersungging yang dipaksakan setiap bertemu orang-orang yang datang ke pasar. Bagi sebagian besar orang itu pasti terlihat aneh, tak biasanya.

“Pagi Bang Tohar,” aku memberanikan diri menyapanya.

“Hei, pagi, Cok! Nampak buru-buru kali, Kau. Mau beli apa?” balas Bang Tohar sambil memanggilku ucok, panggilan untuk anak laki-laki di Medan.

“Omak minta aku beli daun ubi, Bang,” jawabku.

“Rupanya omak kau itu mau buat gulai daun ubi tumbuk ya? Sedap kali itu, Cok,” ucap Bang Tohar menyebutkan masakan khas Medan yang terbuat dari daun singkong yang biasanya ditumbuk halus menggunakan lesung dan diolah menggunakan santan.

“Iya, Bang. Saya duluan ya, Bang,” ucapku meninggalkan Bang Tohar melewati beberapa jajaran toko penjual kopi Sidikalang, kopi khas Medan.

Dari bisik-bisik pembicaraan penjual dan pembeli di pasar kuketahui Bang Tohar ternyata sedang mendaftarkan diri sebagai calon legislatif. Bah!! umpatku dalam hati. Partai mana pula yang menerimanya sebagai kader untuk dicalonkan sebagai anggota legislatif. Orang macam Bang Tohar tau apa untuk urusan negara. Bisa apa Bang Tohar sebagai anggota legislatif nanti pikirku. Lama-lama bisa hancur negara ini jika orang-orang seperti dia menjadi anggota legislatif.

“Sudah seminggu ini ia tak keliling menarik upeti dari pedagang” bisik penjual lemang pada pembelinya.

“Mimpi apa dia mau jadi caleg?” tanya si pembeli.

“Entahlah. Yang jelas satu minggu ini aku bisa berhemat tak perlu membayar uang keamanan padanya,” jawab penjual lemang, makanan tradisional yang berbahan dasar beras ketan dicampur santan dengan digulung menggunakan daun pisang kemudian dimasukkan ke ruas bambu dan dibakar di atas bara api tersebut.

Dari hari ke hari aksi Bang Tohar makin gencar. Spanduk-spanduk dan poster bergambarkan mukanya tersebut tampak memenuhi sudut-sudut pasar. Hampir di setiap keramaian ia ada: di pesta pernikahan, kegiatan-kegiatan sosial maupun upacara adat. Jadwal Bang Tohar sangat padat, bak artis yang kejar sinetron stripping.

Di beberapa kesempatan Bang Tohar bediri di atas panggung menyampaikan visi misinya jika ia terpilih sebagai anggota legislatif. Sejak kapan ia belajar berbicara di depan orang banyak? Yang jelas saat dia sudah berbicara semua seakan lupa siapa Bang Tohar sebelumnya.

“Bang Tohar, jangan lupa perbaiki jalan-jalan kita jika nanti Bang Tohar terpilih menjadi anggota legislatif” ucap seorang pemuda pada pada Bang tohar di suatu kesempatan.

“Kau tenang saja, Jamal. Akan kuaspal kembali jalan-jalan rusak kita ini sampai ke gang-gang rumah kalian. Serahkan itu pada, Tohar” ucapnya pada pemuda bernama Jamal tersebut.

“Pikirkan juga kebutuhan pokok kami, Bang. Semua barang-barang harganya makin tak terjangkau. Bisa mati kelaparan kami kalau terus begini” teriak seorang ibu dengan lantang.

“Iya betul itu. Sudah berapa puluh kali pemilihan umum. Nasib kita tetap seperti ini saja. Tak ada perubahan sama sekali” timpal ibu yang lainnya.

“Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak tenang saja. Tohar akan mewujudkannya asal Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semua mendukung Tohar. Kita buat daerah kita ini menjadi daerah yang maju, daerah yang tidak ketinggalan dari daerah lainnya,” teriak Bang Tohar lantang tanpa malu.

Sedikit bergeser dari tempat berdirinya ia menambahkan kalimatnya, “Jika Tohar terpilih menjadi anggota legislatif, urusan jalan dan yang lain-lainnya itu urusan kecil. Takkan lama Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu akan menikmati perbaikannya. Saya pastikan itu.”

Janji-janji manis Bang Tohar membuat terlena kepala-kepala yang tak berlogika. Bujuk dan rayunya memikat setiap telinga yang mendengar. Orang-orang yang dulunya takut meski hanya untuk lewat di depannya sekarang seolah rela mengejarnya seperti fans yang menantikan berfoto bersama artis pujaaannya. Setiap kali bertemu warga tak tak segan-segan Bang Tohar membagi-bagikan lembaran rupiah dari dalam dompetnya. Entah uang dari mana yang dia bagikan itu.

Tak pelak, saat pemilu usai Bang Tohar mendapatkan suara yang lebih dari cukup untuk mengantarkannya menjadi anggota legislatif mewakili orang-orang yang menerima sabun mandi dan susu kaleng serta kaos bergambar mukanya dan partai yang mengusungnya. Tak rugi ia mengutus penjilat-penjilat yang mengantarkan ampop-amplop berisi lembaran rupiah ke rumah-rumah warga di pagi buta sebelum pemilihan.

“Selamat, Bang Tohar. Jangan lupa realisasikan janji-janji Bang Tohar,” ucap Binsar dengan berani pada Bang Tohar.

“Tenang saja kau, Binsar. Setelah aku dilantik nanti akan segera kutunaikan janji-janjiku” jawab Bang Tohar dengan jumawanya.

“Akan aku aspal semua jalan kita ini hingga ke gang-gang kecil seperti janjiku tempo hari itu. Tak lupa juga aku akan perbaiki selokan-selokan mampet di pasar kita ini. Kau tak perlu khawatir dengan janji-janjiku, Binsar,” kembali Bang Tohar meyakinkan Binsar dan beberapa orang yang ada disitu.

“Satu lagi, akan kupastikan semua barang-barang kebutuhan pokok disini harganya stabil, Binsar,” tambah Bang Tohar sambil melempar sisa rokok yang sudah dihisapnya ke tanah.

“Baiklah, Bang. Kami menunggu realisasi tersebut” ucap Binsar penuh harap.

Aku yang mendengar percakapan kedua orang tersebut hanya mengernyitkan dahi. Menahan ludah agar tak membuatku tersedak. Tak tahu aku harus percaya atau tidak? Kutinggalkan kerumunan itu segera. Omakku sudah menunggu teri medan yang kubeli barusan.

Sudah hampir dua tahun sejak pelantikan anggota legislatif terpilih, Bang Tohar makin tidak pernah kelihatan. Tak seperti bisanyanya sangat mudah menemukannya mondar-mandir di pasar. Hanya dua kali aku melihatnya. Pertama saat upacara kemerdekaan di lapangan kecamatan dan yang kedua saat meninggal pamannya yang kebetulan berdekatan rumahnya dengan rumah orangtuaku.

“Kau bilang dulu pada warga itu untuk bersabar, Binsar. Tidak ada dana untuk pengaspalan jalan kita tahun ini. Aku sedang usulkan proposal untuk anggaran tahun depan, itupun jika disetujui” jelas Bang Tohar pada Binsar saat lagi-lagi Binsar menuntut janji Bang Tohar.

“Aku tak bisa memantau proposal itu terus. Aku ini sibuk setiap harinya. Harus rapat, kunjungan kerja dan lain sebagainya. Kau harus tau itu, Binsar. Sampaikan itu pada warga ya!” ucapnya berlalu pergi meninggalkan Binsar yang masih tegak berdiri di posisinya.

Aku tahu realisasi tak seindah janji. Hingga beberapa bulan sejak percakapan Binsar dan Bang Tohar, tak ada kabar lagi dari Bang Tohar. Entah sudah dimana dia? Sibuk rapat atau menyusun program kerjanya aku tak ingin tahu, yang jelas jalan-jalanku masih seperti dahulu: rusak.


 #Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERPUSTAKAAN KELILING MASUK SEKOLAH

Pada hari rabu, 31 Agustus 2022 SMPN 1 Terbanggi Besar kedatangan mobil perpustakaan keliling dari perpustakaan daerah Kabupaten Lampung Ten...