Mata Darto masih tak berkedip melihat Ningsih, saat perempuan cantik berusia 23 tahun tersebut melintas di depannya. Gadis manis berambut sebahu tersebut tampak tambah lebih ayu saat tersenyum. Matanya yang indah akan membuat meleleh pria manapun yang melihatnya. Ya Ningsih memanglah primadona kampung Tunggulsari. Sudah beberapa lelaki mencoba mendekatinya tapi belum satupun yang berhasil menarik hatinya.
Sementara, Darto bak pungguk merindukan bulan. Hanya bisa menatap kecantikan Ningsih setiap kali ia mengantarkan rempah-rempah yang dibeli ibunya dari pasar untuk ibunya Ningsih. Dua kali dalam seminggu Darto ke rumah Ningsih untuk keperluan tersebut. Setiap kali menatap Ningsih, sepertinya ada perasaan yang sulit ia ungkapkan. Seluruh aliran darahnya seolah mengalir lebih cepat dari biasanya.
Sore itu air langit turun rintik-rintik. Darto duduk di sebuah kursi yang terbuat dari bambu di sudut dapur sambil menemani ibunya menunggu air mendidih guna membuat wedang jahe untuk mereka berdua. Ayah Darto sudah lama tiada. Asap tembakau sepertinya menggerogoti paru-parunya. Hingga akhirnya iapun menyerah. Sekarang ibu Darto berjualan hasil panennya ke pasar. Apa saja ia jual. Daun singkong muda, pepaya, cabai, tomat dan sebagainya.
“Melamun lagi kamu, Darto?” tanya Bu Asih pada anaknya tersebut.
“Tidak baik sering melamun,” tambah Bu Asih melihat Darto salah tingkah.
“Siapa yang melamun, Bu? Saya ndak melamun kok bu,” kilah Darto makin salah tingkah.
“Kamu tidak bisa membohongi ibumu. Sudah empat puluh tahun lebih ibu membesarkanmu. Ibu sudah hafal betul tentangmu,” kembali Bu Asih melirik Darto kemudian mengangkat air yang telah mendidih.
“Kamu pasti memikirkan Ningsih to?” Bu Asih melirik ke Darto sambil menuangkan air ke gelas berisi serbuk jahe dan gula
“Kamu cari gadis yang lainnya saja, yang mau sama kamu!!” ucap bu Asih sambil menaruh satu gelas wedang jahe di depan Darto.
“Apa ndak ada yang lainnya yang kamu suka? Itu anaknya Bu Maryah dan Bu Samsuri juga belum menikah. Usianya juga tidak jauh denganmu,” kalimat-kalimat Bu Asih meluncur begitu saja memberi alternatif pada Darto namun Darto tampak masih diam saja.
“Lo diajak berbicara kok dari tadi diam saja,” Bu Asih menatap Darto lekat-lekat.
“Gak ada yang seperti Ningsih Bu. Ningsih itu ayu. Orangnya juga baik,” ucap Darto pada ibunya.
“Ayu dan baik tapi kan belum tentu suka sama kamu to? Apa kamu sudah pernah ngomong sama Ningsih kalau kamu suka? Apa Ningsih juga terlihat ada perasaan sama kamu? Apa Ibunya juga setuju kalau kamu sama dia?” pertanyaan-pertanyaan Bu Asih tak sempat di jawab Darto satu persatu.
Ya, sebenarnya Bu Asih begitu sayang pada anak semata wayangnya tersebut. Cintanya pada anaknya tersebut tak dapat terganti dengan apapun. Ia takut jika anaknya tersebut hanya akan kecewa.
Percakapan sore itu sepertinya tak berujung kesimpulan. Rintik hujan yang semakin deras menambah malam semakin dingin. Selepas isya Bu Asih dan Darto pun bergegas menarik selimut di kamarnya masing-masing. Namun entah mengapa Darto tetap sulit memejamkan matanya. Banyangan Ningsih seolah berkali-kali hadir dihadapannya.
“Ibu berangkat ke pasar ya. Jangan lupa pintu rumah dikunci kalau kamu nanti ke ladang,” ucap Bu Asih pada Darto yang tampak sedang melipat sajadahnya selepas sholat subuh.
“Nanti ibu juga akan belikan rempah-rempah titipan ibunya Ningsih. Tolong jangan terlalu siang kamu pulang dari ladang biar masih sempat mengantarkannya ke tempat Ningsih ya,” kembali Bu Asih berucap pada anaknya tersebut.
“Baik bu. Sebelum Zuhur saya akan sudah dirumah,” jawab Darto.
Tak tega sebenarnya Darto melihat ibunya tersebut setiap kali berangkat ke pasar. Sudah beberapa kali ia meminta ibunya untuk berhenti saja berdagang ke pasar. Cukup ia saja yang berladang dan hasilnya dijual kepada para pengepul yang suka datang langsung untuk membelinya. Hasil panen mereka masih cukup jika hanya memenuhi kebutuhan mereka berdua tapi Bu Asih tidak pernah mau untuk berhenti berdagang. Baginya, selagi ia sehat ia masih akan tetap berdagang. Berdagang dipasar membuatnya bahagia. Bertemu banyak kenalan dan bergerak kesana kemari membuatnya tetap sehat. Itu yang selalu ia katakan pada Darto.
Suara azan tampak terdengar sayub saat Darto selesai mandi sepulang dari ladang siang itu. Setelah sholat zuhur bergegas ia membawa rempah-rempah yang dibeli ibunya dari pasar untuk diantarkan pada ibunya Ningsih. Sepeda motor tua peninggalan ayahnya menjadi temannya kesana-kemari.
“Ini Bu, rempah-rempahnya,” ucap Darto pada Bu Mansyur, ibunya Ningsih.
“Wah terimakasih Nak Darto. Kebetulan sekali kunyit, kencur dan rempah-rempah yang lainnya sudah menipis. Kalau habis ibu tidak bisa lagi meracik jamu pesanan pelanggan-pelanggan ibu. Kalau mereka kecewa mereka bisa pindah ke tempat lain. Betul tidak, Nak Darto?” tanya Bu Mansur.
“Oh iya, Bu. Bisa juga begitu, Bu” ucap Darto agak kaget karena ia tidak fokus pada ucapan Bu Mansyur. Matanya mencari sosok Ningsih yang selama ini selalu terlihat jika ia datang.
“Ngomong-ngomong kok Ningsih tidak kelihatan, Bu? apa Ningsih sakit?” Darto memberanikan diri bertanya.
“Oh Ningsih sedang pergi dengan Nak Marwan,” jawab Bu Mansyur sedikit tidak enak pada Darto. Bagaimanapun ia seorang perempuan, dari tingkah laku Darto selama ini, Ia tahu bahwa Darto suka pada anaknya.
“Siapa Marwan, Bu?” tanya Darto penasaran.
“Baru sebulan ini Nak Marwan sering kesini. Katanya ia baru pindah kerja kesini. Karyawan pabrik gula PT Bukit Manis itu lo. Sejak kenal Marwan Ningsih sering diajak keluar. Katanya jalan-jalan biar gak bosan di rumah terus. Ibu juga kasihan sama Ningsih setiap hari bantuin ibu di rumah gak pernah lagi ada waktu refreshing, jadi ya ibu izinkan,” Bu Mansyur menjelaskan pada Darto. Sementara Darto sudah tidak karuan perasaan dalam hatinya.
Sejak saat itu Darto tak pernah kembali lagi ke rumah Ningsih untuk mengantarkan rempah-rempah. Ada saja alasan Darto untuk menghindarinya hingga terpaksa Bu Mansyur mengupah seseorang untuk ke rumah Darto mengambil rempah-rempah tersebut.
Hati Darto hancur. Harapan-harapan pada Ningsih yang ia pupuk selama ini seolah sirna begitu saja. Wajah ayu Ningsih pun seolah tak mampu lagi berlama-lama hadir di kepalanya. Pagi hingga petang ia habiskan waktunya di ladang. Melampiaskan semua kekecewaannya dengan bekerja dan bekerja. Ia tak sepenuhnya menyalahkan Ningsih. Ia yang salah. Mengapa cintanya hanya ia pendam selama ini. Tak ada keberanian dalam dirinya untuk menyampaikannya pada Ningsih. Ia takut jika Ningsih menolak ia yang sudah hampir berusia 42 tahun. Jika itu terjadi,harapan-harapannya pun akan hilang. Tapi kini tanpa Ningsih menolakpun seakan harapan itu telah hilang dan lenyap begitu saja.
Hampir dua bulan Darto menyendiri. Menyendiri dalam kesepian yang ia rasakan. Bu Asih pun ikut bersedih melihat anak semata wayangnya patah hati begitu. Hingga suatu pagi tersiar kabar tentang Ningsih. Kabar yang mungkin akan semakin membuat Darto hancur.
“Kamu sudah dengar kabar Ningsih, Nak?” tanya Bu Asih perlahan-lahan.
Darto hanya diam sambil membersihkan cangkul yang dibawanya pulang dari ladang kemarin siang.
“Kemarin sore warga heboh. Ibu-ibu banyak yang menggunjingkan Ningsih di warung Bu Wiwik. Ibu tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka di warung kemarin saat ibu membeli gula.”
Wajah Darto terangkat sedikit memandang ibunya, “Ada apa dengan Ningsih, Bu.”
“Katanya Ningsih salah pergaulan. Ningsih anaknya terlalu lugu. Ia tidak tahu jika Marwan itu bukan orang baik. Beberapa kali Ningsih terlambat pulang ke rumah. Terakhir kemarin Ningsih tidak pulang hingga akhirnya keluarganya panik,” Bu Asih menjelaskan pada Darto dengan hati-hati agar tidak salah dengan apa yang ia dengar dari ibu-ibu di warung tersebut.
“Kemudian apa yang terjadi, Bu?” tanya Darto pada ibunya. Ada sedikit emosi yang tampak pada matanya.
“Keluarganya menemukan Ningsih di penginapan Duta Keluarga dalam keadaan tidak sadar. Sepertinya Ningsih sedang dalam pengaruh obat bius. Tapi sekarang Ningsih sudah dibawa pulang keluarganya. Keluarganya tak dapat menghubungi laki-laki bernama Marwan tersebut. Nomor ponselnya juga tidak dapat dihubungi,” ucap Bu Asih.
“Bedebah sekali Marwan itu!!” Darto tampak menahan emosinya.
Sudah dua bulan sejak berita heboh tentang Ningsih Darto belum juga pernah datang kembali ke rumahnya. Pagi itu Darto tak berangkat ke Ladang. Sengaja ia tidak ke ladang karena ia akan mengantarkan rempah-rempah ke rumah Ningsih. Seharusnya kemarin siang rempah-rempah itu sudah diambil orang suruhan Bu Mansyur tapi entah mengapa ia tak datang. Karena itu Darto pun berniat mengantarkannya pada Bu Mansyur. Sejak kejadian heboh tentang Ningsih, rasa simpatinya seolah terbangun kembali. Tak tega ia melihat wanita pujaannya diperlakukan laki-laki seperti Marwan. Ingin rasanya ia menghajar Marwan jika saja ia bertemu.
“Lama kita tidak ketemu, Nak Darto. Sepertinya pekerjaan di ladang benar-benar menyibukkan, Nak Darto,” ucap Bu Mansyur saat melihat Darto mengantarkan rempah-rempahnya.
“Letakkan di tempat biasanya saja, Nak Darto,” tambah Bu Mansyur membuat Darto belum sempat menimpali kalimat Bu Mansyur sebelumnya.
“Masih sepi, Bu,” ucap Darto sambil melihat Bu Mansyur menuangkan air pada gelas yang dipegangnya.
“Iya, Nak Darto. Jika masih pagi begini pelanggan jamu ibu belum ada yang datang. Biasanya nanti jam sepuluh keatas baru ramai,” jawab bu Darto sambil mempersilahkan Darto minum air yang disuguhkannya.
“Keadaan ibu sekarang tambah susah. Ibu kerja sendirian. Ningsih lebih sering mengurung diri di kamar sejak kejadian tempo hari. Nak Darto pasti sudah dengar kabarnya kan? Mata Ningsih selalu sembab jika keluar dari kamar. Ia malu Nak Darto kalau keluar rumah dan bertemu orang lain. Kandungannya semakin besar. Ibu juga bingung mau berbuat apa?” Bu Mansyur menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.
“Ningsih malu hamil diluar nikah. Ia malu hamil tanpa suami,” tak terasa menetes air mata membasahi pipi Bu Mansyur.
Darto tak tahu harus berbuat apa ketika tiba-tiba ia berkata, “ Jika Ningsih setuju, saya bersedia menikahinya, Bu”
Bukan hanya Bu Mansyur yang terkejut. Darto sendiripun tak percaya jika ia mampu mengucapkan kalimatnya tersebut. Namun kali ini sepertinya ada kekuatan yang membuat Darto mengucapkan hal tersebut. Kekuatan dari dalam dirinya agar tidak kehilangan Ningsih untuk kedua kalinya.
Malam itu langit tampak cerah. Bulan sabit dan bintang-bintang seolah mengerti hati Darto. Beberapa keluarga sudah berkumpul. Tak banyak: hanya beberapa keluarga Darto dan keluarga Bu Mansyur. Akad nikah sederhana pun dilangsungkan dengan ditutup makan malam bersama. Kebahagian tampak terpancar di wajah Bu Masyur, Bu Asih, Darto, dan yang hadir malam itu. Senyum tipispun sudah nampak di bibir Ningsih.
Perlahan-lahan Darto melihat Ningsih dapat melupakan peristiwa yang membuatnya trauma tersebut. Kebaikan-kebaikan dan cintanya pada Ningsih membuat Ningsih benar-benar menyadari bahwa ia tulus mencitainya.
Hingga tiga bulan setelah pernikahan tersebut. Darto dengan setia mengantarkan Ningsih ke bidan desa tak jauh dari tempat tinggalnya. Ini kesekian kalinya Ningsih ke bidan desa tersebut. Kandungan Ningsih tidak terlalu sehat. Hingga puncak kepanikan terjadi malam itu. Ningsih merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Darto dan Bu Mansyur tampak semakin panik saat melihat darah yang mengalir hingga betis Ningsih. Bidan desa menganjurkan untuk membawa Ningsih ke rumah sakit.
Hilir mudik Darto menunggu di luar ruang operasi. Tak dihiraukannya lagi lelah kakinya karena sudah kesana kemari membereskan keperluan sebelum Ningsih dibawa ke ruang operasi. Dokter bedah bilang Ningsih harus dioperasi. Bayi dalam kandungannya sudah tidak menunjukkan pergerakan lagi. Sementara Bu Mansyur duduk di kursi rumah sakit dengan tangis yang tiada henti.
Tak kunjung henti bibir Darto memanjatkan doa untuk keselamatan istrinya. Sesekali ia mencoba melihat kearah dalam ruang operasi namun ia tak dapat melihat apapun hingga akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter diikuti perawat menemui Darto tepat didepan ruang operasi.
Jika langit akan runtuh mungkin saat itulah ia terasa runtuh. Jika bumi akan terbelah mungkin saat itulah ia terasa terbelah. Darto seakan tak kuasa lagi berdiri tegap dengan kakinya saat itu, saat dokter menyampaikan permintaan maaf jika ia tidak dapat menyelamatkan anak maupun istrinya.
Tangis Darto pecah kala itu juga. Jiwa lelakinya seakan hancur. Tak ia hiraukan lagi dimana ia berada. Ia menagis sesegukan menerobos masuk ke ruang operasi menatap wajah pucat istrinya. Dipeluknya erat-erat hingga semua terasa gelap dan sunyi saat Darto jatuh pingsan.
#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar