Selasa, 15 September 2020

KEDASIH


Kedasih

 

Matahari baru saja tergelincir sedikit kearah barat saat kakiku sampai di tempat ini, sebuah bangunan besar berwarna putih dengan pasien beraneka ragam sifatnya. Setiap ruangan dan lorong di tempat ini sudah tidak asing bagiku. Sudah beberapa kali aku kesini hingga ada beberapa pasien yang kukenal.

Seperti hari ini, baru saja kulihat Bibi Alma, penderita Skizofrenia. Ia mengalami gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh kelainan atau gangguan kimiawi dalam otaknya. Hal ini menyebabkan simpul syaraf dan fungsi sistemiknya terganggu sehingga terganggu juga fungsi otak dalam mengolah informasi. Bibi Alma sering berbicara kacau, lebih senang menyendiri, takut dengan orang banyak, berhalusinasi dan mengalami delusi. Kondisi tersebutlah yang membuat anak semata wayangnya menaruhnya disini. Miris!

Belum hilang pandanganku dari Bibi Halma, kudengar terikan Nurdin. Pemuda berusia belasan tahun dengan luka bakar di separuh tubuhnya. Ya, sudah satu tahun lebih Nurdin ada di rumah sakit ini. Ia mengalami post traumatic syndrom. Ini adalah keadaan dimana seseorang baru saja mengalami kejadian yang tidak nyaman atau menakutkan sehingga menjadi suatu kenangan kelam yang selalu membuatnya stress. Bagaimana tidak? Tepat satu tahun lalu Nurdin harus kehilangan orang tua dan kedua adiknya akibat kebakaran yang menghabiskan seluruh rumah dan isinya. Saat kebakaran terjadi ia begitu histeris berteriak meminta tolong. Ia berusaha menyelamatkan keluarganya yang sudah terjebak dalam kobaran api. Hampir saja ia tidak selamat jika tidak ditolong warga yang datang ke lokasi kebakaran rumah tersebut. Kejadian tersebutlah yang membuatnya sering berteriak dan meminta tolong kapan saja bayangan kejadian kebakaran rumahnya tersebut melintas dipikirannya.

Tak seperti Bibi Halma ataupun Nurdin, yang akan kutemui disini adalah perempuan berusia 25 tahun. Namanya Sri Kedasih. Aku memanggilnya Asih. Ia cantik, berkulit putih dan berambut panjang sebahu dengan lesung pipinya yang akan semakin terlihat saat ia tersenyum. Tubuhnya yang ramping membuat geraknya terlihat lincah. Setiap kali aku bertemu dengannya ia selalu sopan. Menyapaku dengan ramah dan nampak betah mengobrol denganku berlama-lama. Orang lain pasti akan heran mengapa ia bisa sampai di rumah sakit jiwa ini.

Tidak banyak yang tau cerita tentang Asih. Hanya keluarga Bu Asmarita dan aku yang pernah bekerja di rumahnya. Akupun tak pernah menceritakan kepada siapapun. Bagiku, biarlah cerita tentang Asih cukup keluarga Bu Asmarita dan aku yang tahu.

Bu Mirna, kami sudah sampaikan kepada Asih kalau ibu mau bertemu. Ibu bisa menemuinya diruang bertemu seperti biasanya atau di ruangan Asih. Asih dalam kondisi baik,” ucap seorang petugas rumah sakit tersebut mengejutkan lamunanku tentang Asih.

Oh iya pak. Terimakasih,” jawabku pada pegawai rumah sakit jiwa berbadan tinggi dan tegap tersebut.

Bergegas aku menuju ruangan yang dimaksud. Aku sudah hafal dengan ruangan-ruangan di rumah sakit ini. Dari kejauhan kulihat Asih sudah menungguku. Kulihat senyumnya mengembang saat melihatku datang.

Apa kabarmu, Asih?" tanyaku saat berada tepat di depannya.

Keadaan saya baik, Bu. Saya merasa sehat,” jawab Asih sambil mengenggam tanganku.

Bu, kenapa saya masih di tempat ini? Kapan ibu membawa saya pulang. Saya bosan disini, Bu. Disini tidak senyaman di rumahlanjut Asih padaku.

"Asih, kamu sabar dulu ya. Ibu masih menunggu pihak rumah sakit menyatakan kamu siap untuk pulang. Jika pihak rumah sakit bilang kamu sudah siap, kamu pasti ibu bawa pulang,” aku berusaha menjelaskan pada Asih walau aku sendiripun tidak tahu jika Asih keluar dari sini ia akan tinggal dimana?    

Aku sehat, Bu. Akukan tidak gila. Yang ada dirumah sakit ini kan pasien gila semua. Kenapa aku juga harus disini Bu?” lagi-lagi Asih meminta penjelasanku. Tatapannya penuh harap seakan akulah penentu nasibnya saat ini.

Ia Asih, kamu tidak Gila. Kamu baik-baik saja. Tapi menurut dokter kamu sebaiknya disini dulu. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan padamu, Asih. Bersabarlah ya. Nanti kamu pasti keluar dari sini,” kalimat-kalimatku pada Asih kuharap bisa sedikit menenangkannya dan membuatnya bersabar.

Benar ya bu. Ibu janji pada Asih. Asih akan selalu ingat janji ibu. Hanya Ibu yang selalu datang menemui Asih selama ini,” ucap Asih padaku dengan mata berkaca-kaca.

Perbincangan kamipun berlanjut kesana-kemari. Ada saja yang Asih tanyakan padaku tentang keadaan diluar sana. Jika saja ada yang memperhatikan kami berdua pasti tidak ada yang menyangka jika Asih adalah pasien rumah sakit jiwa tersebut.

Bergegas aku meninggalkan rumah sakit jiwa tersebut. Kutinggalkan makanan-makanan kesukaan Asih yang kubawa dari rumah tadi. Tampak raut muka Asih yang tidak rela jika kutinggalkan. Tapi bagaimanapun juga waktu besuk untukku terbatas. Ada perasaan tak menentu saat kutinggalkan Asih kali ini. Perasaan yang tak biasa kurasakan seperti saat kunjungan-kunjunganku sebelumnya.  Dalam hati aku berjanji saatnya nanti aku pasti kembali datang menemuinya.

Mengapa aku peduli pada Asih? Karena hanya akulah yang tau cerita tentang Asih setelah keluarga Bu Asmarita. Tapi sejak kejadian tragis sebelum Asih dibawa ke rumah sakit ini sepertinya ada bagian dari Asih yang masih menjadi misteri bagiku. Ada sisi hidup Asih yang sepertinya aku tidak mengetahuinya.

Dua puluh lima tahun lalu, aku bekerja dirumah Bu Asmarita di komplek perumahan Mewah Puspa Kencana. Sebuah komplek perumahan yang dihuni banyak orang-orang berduit. Sebagian besar mereka bekerja di perusahaan-perusahaan ataupun kantor pemerintah. Sebuah kondisi yang membuat penghuni komplek perumahan ini jarang bertemu bahkan bisa dikatakan sudah hidup masing-masing. Satu sama lain tidaklah terlalu saling mengenal meskipun mereka tinggal di komplek perumahan yang sama.

Selepas sholat magrib gerimis terus membasahi komplek perumahan Bu Asmarita. Aku bergegas mempersiapkan makan malam untuk keluarga Bu Asmarita. Keluarga yang sudah menganggapku juga sebagai anggota keluarganya. Bu Asmarita dan Pak Samsul, suami Bu Asmarita, biasanya akan segera siap untuk santap malam saat semuanya sudah kusiapkan. Sementara aku akan kembali ke dapur membereskan dapur. Mungkin beberapa tahun lagi keluarga kaya ini baru akan ramai oleh teriak dan tangis anak-anaknya. Kini kondisi kandungan Bu Asmarita sudah bulan ke lima setelah lima tahun masa pernikahan mereka. Sebentar lagi keluarga ini akan terasa lengkap pikirku.

Kubersihkan tepian-tepian kompor yang kotor akibat percikan-percikan minyak saat aku menggoreng Ikan Nila kesukaan keluarga ini. Belum usai aku dengan pekerjaan dapurku, kudengar suara Bu Asmarita memanggilku, “Mirna, kemari sebentar.”

Ada apa, Bu?tanyaku pada Bu Asmarita saat aku sudah didekatnya.

Coba kau dengar di luar sana. Apa kau dengar sesuatu?tanya Bu Asmarita.

Gerimis, Bu” ucapku polos. Ya karena memang gerimis yang kudengar.

Coba dengarkan lagi. Tadi kudengar ada suara motor. Kemudian sayub-sayub aku mendengar suara bayi. Mungkin ada pasien yang mau berobat,” ucap Bu Asmarita.

Pasien? Ya mungkin saja pasien. Bu Asmarita adalah seorang bidan yang juga membuka praktek dirumahnya. Ia melayani warga yang berobat dari jam 4 sore hingga menjelang magrib. Namun terkadang selepas magrib masih saja ada pasien yang datang untuk berobat. Kulangkahkan kakiku menuju pintu depan. Ah..tak ada siapa-siapa saat kubuka pintu rumah tersebut. Namun saat kuarahkan pandanganku kebawah betapa terkejutnya aku. Tergeletak seorang bayi mungil tak jauh dari kakiku.

Dialah Sri Kedasih. Bayi mungil yang kutemukan di depan pintu itu pun akhirnya diadopsi oleh Bu Asmarita. Suasana rumah itu tampak semakin ramai dengan adanya Asih dan anak pertama Bu Asmarita yang lahir empat bulan setelah kedatangan Asih. Bu Asmarita membesarkan Asih, anak pertamanya,Nadia dan anak keduanya yang lahir tiga tahun setelah kelahiran Nadia. Si bungsu, Dino, semakin membuat keluarga tersebut semakin ramai. Pak Samsul pun masih aktif sebagai dirut di sebuah kantor PLN.

Keluarga bu Asmarita membesarkan Asih, Nadia dan Dino tanpa membeda-bedakan. Dan rahasia tentang Asih pun masih tetap terjaga. Saat Asih berusia 13 tahun akupun memberanikan diri untuk mengundurkan diri  dari keluarga tersebut. Kondisi kesehatanku terkadang tidak bisa diajak kompromi untuk bekerja banyak. Dengan berat hati Bu Asmarita mengizinkanku. Gaji terakhirku dan uang tambahan lebih yang diberikan bu Asmarita kugunakan untuk membuka toko kecil-kecilan di depan rumahku. Sesekali aku masih datang bersilaturahim ke rumah Bu Asmarita untuk sekedar bersilaturahim dan melihat perkembangan Asih dan keluarga tersebut.

Terakhir kedatanganku saat meninggalnya pak Samsul. Pak Samsul ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Stroke diperkirakan menjadi penyebab kematiannya walau ada sedikit keganjilan saat itu. Kematian pak Samsul juga seperti akibat keracunan obat namun Bu Asmarita tidak ingin melakukan melaporkan pada yang berwajib maupun otopsi atas kematian suaminya. Bu Asmarita benar-benar terpukul saat itu. Ia harus berjuang menghidupi Asih, Nadia dan Dino seorang diri. Meski ia tergolong cukup mampu namun menghidupi ketiga anaknya tersebut bukanlah perkara yang mudah saat itu. Asih dan Nadia baru saja masuk sekolah menengah atas. Sementara Dino masuk sekolah menengah pertama.

Kehidupan Bu Asmarita terus berlanjut. Bu Asmarita menjadi sedikit pendiam sejak kematian suaminya. Ia tetap menyayangi Asih dan kedua anaknya tanpa membeda-bedakan.

Dua tahun kemudian kejadian tragis meluluh lantakkan kehidupan Bu Asmarita. Nadia dan Dino mengalami kecelakaan. Keduanya meninggal di lokasi kejadian. Awalnya Nadia dan Dino bermaksud menjemput Bu Asmarita yang baru pulang dari kegiatan yang dihadiri perwakilan bidan se Indonesia. Sore itu hujan sangat deras. Bu Asmarita menelpon Nadia untuk menjemputnya di Bandara. Nadia dan Dino segera berangkat ke Bandara sekitar jam lima sore. Dalam keadaan hujan tersebutlah diperkirakan kejadian tragis tersebut terjadi. Hari yang mulai senja, kecepatan dan hujan deras yang membuat jarak pandang pengendara terganggu diduga menjadi faktor kejadian tragis tersebut.

Malang benar kehidupan Bu Asmarita. Ia harus ditinggalkan orang-orang yang dicintainya. Kini ia tinggal bersama Asih. Sejak kematian Nadia dan Dino terjadi perubahan yang signifikan pada Asih. Kerap ia berteriak teriak seperti orang yang ketakutan. Beberapa kali tampak ia menangis sambil memanggil nama Nadia dan Dino. Kehidupan Bu Asmarita pun semakin kacau. Kesehatannya menurun. Asam lambung yang dideritanya selama ini bertambah akut saja. Ia harus mengatasi hari-hari kesedihannya sendiri karena Asih pun tak bisa ia andalkan menjadi orang yang bisa mensupportnya. Keadaan Asih yang jauh berbeda dengan sebelumnya menambah beban hidupnya.

Asih semakin parah. Bahkan untuk keperluan dirinya sendiri ia sudah tidak ingat lagi misalnya Ia terkadang lupa jika tidak diingatkan untuk mandi. Pernah suatu saat emosi Asih tak terkendali saat Bu Asmarita memaksanya untuk tidak berteriak-teriak di dalam rumah. Asih justru mengambil sebuah pisau dan mengarahkannya ke Bu Asmarita. Segera saja bu Asmarita berlari masuk ke kamarnya dan menguncinya hingga pagi hari. Tak ada yang bisa dilakukan Bu Asmarita kecuali menaruh Asih ke rumah sakit jiwa. Ia berharap setelah berada disana ia akan kembali pulih dan bisa hidup bersamanya kembali.

Sejak saat itu Asih berada di rumah sakit jiwa dengan jaminan dari Bu Asmarita. Seluruh kebutuhan keuangan selama ia berada disana sudah dicukupi oleh Bu Asmarita. Trauma akan kejadian malam itupun membuat Bu Asmarita takut untuk bertemu dengan Asih sehingga ia selalu mengutusku untuk menjenguk Asih. Ia akan menemui Asih jika Asih sudah dipastikan sehat kembali. Meskipun dalam beberapa bulan terakhir ini aku sudah sampaikan kepada Bu Asmarita jika kondisi Asih baik-baik saja tetapi Bu Asmarita tetap belum siap untuk menemui Asih.

Hingga suatu pagi teleponku berbunyi.

Mirna bisakah kau ke rumah sakit tempat Asih sekarang juga? suara Bu Asmarita kudengar terbata-bata.

Ada apa bu? Bukannya baru minggu lalu saya ke rumah sakit?" tanyaku heran.

Pihak rumah sakit menelponku barusan. Katanya perwakilan dari keluarga Asih di minta datang. Ada hal yang sangat penting katanyaBu Asmarita menjelaskan padaku dengan sedikit terbata-bata.

Baik bu. Saya akan segera kesana,” jawabku.

Jalanan sudah tampak dipenuhi mobil-mobil yang saling berkejaran. Semua ingin segera sampai tujuan tanpa terlambat. Kepulan asap keluar dari beberapa kendaraan bermotor menambah situasi semakin tidak nyaman. Aku duduk dengan perasaan tidak tenang. Sesekali kulihat pak Yono melirikku. Ia adalah sopir yang diminta oleh  Bu Asmarita untuk menjemputku pagi ini dan mengantarkanku menemui Asih. Sepertinya Pak Yono tahu apa yang sedang kupikirkan.

Kita berdoa saja Bu Mirna. Semoga Asih baik-baik saja ,” Pak Yono membuka obrolan.

Iya, Pak. Semoga begitu. Baru tiga hari lalu lalu Asih menelponku. Ia memaksa petugas rumah sakit untuk bisa menghubungiku sehingga petugas meminjaminya telepon walau hanya dibatasi 10 menit saja.”

Apa yang disampaikan Asih, Bu?”. Pak Yono tampak ingin tahu.

Dia bilang dia minta dijemput. Ia tidak mau lagi disana. Sepertinya kali ini ada sesuatu yang membuatnya ingin segera keluar dari situ,” aku menjelaskan pada Pak Yono yang dengan serius mendengarkanku.

Terus ibu bilang apa?” kembali Pak Yono bertanya.

Ya saya bilang saya akan jemput dia secepatnya setelah ada keputusan dari pihak rumah sakit. Ia sepertinya kecewa dengan penjelasanku pak. Tapi mau gimana lagi, iya kan....?" tanyaku yang dibalas anggukan oleh Pak Yono.

Obrolan kami terus berlanjut selama dalam perjalanan. Sepertinya obrolan tersebut sedikit mengurangi kecemasanku tentang Asih. Kami baru menghentikan obrolan saat mobil yang dikendarai pak Yono memasuki halaman rumah sakit. Suasana kembali hening hingga kecemasan kembali menghinggapiku. Kulangkahkan kakiku memasuki rumah sakit tersebut. Setelah bertemu dengan petugas rumah sakit tersebut dan kusampaikan maksud kedatanganku, segera aku diajak kesebuah ruangan. Disana tampak seorang petugas rumah sakit sudah menantiku.

Ibu keluarganya Kedasih?tanya petugas tersebut.

Bukan, Pak. Tapi sudah seperti keluarga. Ibunya mengutus saya untuk mewakili datang kemari,” jawabku pada petugas tersebut.

Ada apa dengan Asih, Pak? Apa ia membuat keonaran? Apa ia melukai petugas disini atau... tak kuteruskan kalimatku karena aku tak tahu apalagi kemungkinan yang terjadi dengan Asih.

Begini bu. Menurut hasil pemeriksaan kami selama ini Asih mengalami kepribadian ganda atau gangguan identitas disosiatif. Ia terkadang seperti orang biasanya, normal tapi disisi lain ia bisa melakukan hal-hal lain yang diluar kepribadiannya. Beberapa hari lalu pihak kepolisian menemukan bukti-bukti kejadian penting keluarga Bu Asmarita," ucap Pak Darwis, petugas rumah sakit tersebut.

Bukti apa pak? Kejadian penting apa?”. Aku makin tidak sabar.

“Begini Bu, ternyata penyebab kematian pak Samsul dan kedua anaknya adalah disebabkan oleh Asih.”

Apa!! Bagaimana mungkin itu pak,” ucapku dengan suara bergetar.

Ya. Asih memasukkan obat terlalu banyak kedalam minuman Pak Samsul dan ia juga yang memutus kabel rem di mobil yang dikendarai oleh Nadia dan Dino. Ada motif menguasai keluarga Bu Asmarita. Polisi menemukan bukti-bukti baru ini setelah menyelidiki secara intensif orang-orang diluar keluarga Bu Asmarita. Teman dekat Asih yang bernama Darmantio menjadi kunci keberhasilan pihak polisi mengungkap ini,” ucap pak Darwis.

Aku masih terdiam tak percaya. Aku ingat Darmantio. Aku pernah bertemu dengannya tidak lebih dari tiga kali. Namun sejak kematian Nadia dan Dino aku tak pernah melihatnya lagi.

Lututku masih gemetar. Yang kutahu Asih anak yang baik. Tidak ada hal-hal aneh yang dilakukannya setiap bertemu denganku.  Baru saja ingin kubuka bibirku untuk bertanya kepada Pak Darwis, kulihat ia sudah mendahuiku.

Saat pihak kepolisian berusaha menanyakan itu kepada Asih, ia tetap tidak mengakuinya. Dan berita yang paling mengejutkan adalah pagi ini kami menemukan Asih bunuh diri dengan gantung diri di kamar mandi.” Kalimat pak Darwis tampak melemah sambil menatapku dalam-dalam.

Apa!! Asih bunuh diri, Pak!! Apa saya tidak salah dengar, Pak" tanyaku dengan tubuh lemas seolah tak ada tulangnya lagi. Aku sangat shock dan tidak percaya.

Tidak bu. Saya menyampaikan yang sebenarnya.”

Hancur hatiku mendengar berita tentang Asih. Aku bukanlah keluarganya tapi aku adalah salah satu orang yang dekat dengannya. Apakah aku sanggup menceritakan semua pada Bu Asmarita nanti?

#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERPUSTAKAAN KELILING MASUK SEKOLAH

Pada hari rabu, 31 Agustus 2022 SMPN 1 Terbanggi Besar kedatangan mobil perpustakaan keliling dari perpustakaan daerah Kabupaten Lampung Ten...