Jodoh Pilihan Bapak
Namaku Wulan, tepatnya Ayu Wulandari. Nama yang begitu indah yang diberikan orang tuaku 38 tahun lalu. Kata bapakku ayu itu artinya cantik sedangkan wulandari itu artinya bulan purnama. Jadi jika diartikan Ayu Wulandari itu artinya bulan purnama yang cantik. Ah bisa saja bapakku. Tapi benar kata orang nama itu doa. Buktinya banyak orang yang bilang aku memang cantik. Kulit putih, rambut panjang dan lurus kuwarisi dari ibuku sedangkan tubuh tinggiku dapat dari bapakku. Aku benar-benar beruntung. Bayangkan jika aku mewarisi gemuk dan pendeknya ibuku serta keritingnya bapakku. Duh jadilah aku perempuan gemuk pendek dan keriting.
Aku anak sulung dari tiga
bersaudara yang semuanya perempuan. Adikku Naeswari sudah sepuluh tahun menamatkan
kuliahnya. Adikku yang pendiam itu sekarang sudah jadi perawat. Bekerja di
rumah sakit swasta di kota kami. Sementara Nastiti, adikku yang paling bungsu
mengikuti jejak ibuku menjadi seorang guru sekolah dasar.
Namun untuk urusan jodoh ternyata
nasibku tak seindah nama dan rupaku. Buktinya sampai usia hampir kepala empat
aku masih sendiri. Seandainya dulu kuterima cintanya Adit pasti aku sudah punya
anak dua atau tiga. Mengingat Adit membuatku menyesal. Adit adalah teman SMA
ku. Sejak SMA aku sudah tau dia menaruh perasaan padaku tapi aku pura-pura
tidak tahu. Kami berteman akrab sama seperti dengan teman yang lainnya. Hingga
semester lima saat kuliah kami masih akrab. Berangkat dan pulang kuliah bersama
karena kami memang satu universitas hanya beda fakultas saja. Adit sangat sopan
padaku. Tak pernah ia marah sedikitpun, bahkan jika aku yang salahpun dia yang
akan meminta maaf. Hingga suatu hari ia memberanikan diri menyatakan cintanya
padaku. Ada perasaan senang namun bingung saat itu. Senang karena merasa
dicintai seseorang namun bingung karena saat itu aku tidak ingin terikat dengan
yang namanya pacaran. Aku hanya ingin berteman saja dan fokus pada kuliahku.
Sejak penolakanku saat itu, Adit
terlihat sedikit menjauh dariku. Hingga akhirnya setahun setelah kami wisuda
kudengar ia menikah. Ia sudah tinggal di kota yang berbeda denganku. Ia tak
memberi kabar padaku tentang pernikahannya. Jujur saat itu aku merasa menyesal.
Sejak itu aku mencoba dekat dengan
beberapa lelaki namun entah mengapa selalu kandas hanya dalam waktu yang tak
lama karena aku merasa tidak cocok atau justru lelaki tersebut yang
meninggalkanku.
“Jadi kapan nduk kamu mau
menikah?” tanya bapakku untuk yang mungkin sudah ratusan kalinya. Aku hanya
diam.
“Bapakmu ini sudah pensiun. Punya
anak perempuan tiga kok ya belum ada yang menikah. Kapan bapakmu ini mau menimang
cucu?” tanya bapak lagi.
Jika sudah begini aku, Naeswari dan
Nastiti langsung akan diam semua. Acara malam minggu yang kami isi dengan
nonton drama korea seolah berubah menjadi film horor. Kenapa sih pak kok ya
topiknya itu lagi itu lagi jeritku dalam hati. Mungkin karena bapak punya waktu
banyak dengan kami bertiga ya pada malam minggu begini jadilah ia tanyakan itu
pada kami.
Aku tak menyalahkan bapak
sepenuhnya. Sebagai orang tua wajar jika mereka cemas mempunyai tiga orang anak
perempuan yang sudah cukup umur tapi kok belum juga ada tanda-tanda mau
menikah. Sementara teman-teman bapakku sudah banyak yang mempunyai cucu tiga
sampai lima cucu.
“Jangan-jangan kalian ini kena sengkolo
kebo kemali. Terutama kamu Nduk Wulan,” ucap bapakku.
Kami bertiga serempak menoleh pada
bapakku. Nastiti yang dari tadi diam akhirnya buka suara, “Sengkolo kebo kemali
itu apa, Pak?”
“Itu lo Nduk sengkala atau
kesialan seseorang yang sulit dapet jodoh. Katanya orang-orang yang seperti itu
selalu saja ada kesulitan jika untuk urusan jodoh. Tapi itu kata orang-orang
tua dulu,” jelas ibuku yang sejak tadi mendengar percakapan kami.
Duh, lagi-lagi bapakku bawa-bawa
kepercayaan orang orang dulu untuk urusan begini. Susah menjelaskan ke bapak
kalo sudah urusan begini.
“Kalian harus di ruwat!! Pokoknya
sekali ini harus manut sama bapak!! Besok malam jumat bapak panggil Mbah
Kromo,” tampak bapakku makin serius berbicaranya.
Apaan sih pak diruwat. Terus kenapa
pula mbah kromo harus dipanggil.
“Diruwat itu apa sih, Bu” kembali
Nastiti bertanya pada ibuku.
“Diruwat itu dimandiin kembang terus
dibacain doa” ucap ibuku.
“Doanya apa, Bu?”
“ Ya gak tahu. Nanti Mbah Kromo yang bacain. Paling ya doa biar
kalian dapat jodoh,” kata ibuku.
“Aku gak mau, Bu. Itu tradisi lama,
Bu. Gak dipakai lagi jaman modern sekarang. Nanti malah kita terjerumus hal-hal
syirik lo, Bu. Dosanya malah besar. Enggak ah, aku gak mau” ucapku pada ibuku
yang sebenernya kutujukan pada bapakku.
“Oalah kamu kok ngeyel to Nduk!!
Bapakmu ini mengusahakan yang terbaik buat kalian kok malah bilangin bapak
syirik!!” ucap bapakku dengan kesal dan nada tinggi.
“Ibumu itu juga pengen punya cucu
seperti ibu-ibu yang lain. Bosan ibumu itu ditanya tetangga kapan mantu? Kapan
mantu? Siapa nih yang mau nikah duluan anaknya?” kembali bapakku berucap
berapi-api.
Kalau sudah begini kami bertiga
hanya diam. Tak ada yang berani lagi menyangkal ucapan bapak. Jika diteruskan
bisa-bisa penyakit asma nya bapak kambuh dan kami semua yang repot.
Ibu lebih banyak diam. Mungkin ia
lebih tahu perasaan anak-anaknya. Anak mana yang tidak ingin menikah dengan
usia-usia yang sudah tidak muda lagi? Tapi mau bagaimana lagi jika jodohnya
belum datang. Kulihat ibu menyeka bulir-bulir airmatanya dan pergi meninggalkan
kami. Jika sudah begini suasana menonton TV pun sudah tak nyaman lagi. Bergegas
aku ke kamarku disusul Naeswari dan Nastiti ke mamar mereka.
Sejak saat itu aku mencoba semakin
terbuka menerima lelaki yang mau mendekatiku. Setiap teman-teman yang
menjodohkan aku dengan lelaki yang mereka kenal kucoba untuk membuka diri.
Namun entah mengapa semuanya tak berujung pada kecocokan. Sementara Naeswari
kulihat beberapa kali diantar oleh lelaki yang sama. Aku menduga itu adalah
teman dekatnya atau teman satu rumah sakitnya karena kulihat mereka memakai
seragam yang sama.
Sudah sebulan bapak kena serangan
stroke. Hampir separuh badannya tak bisa digerakkan. Kaki kanan dan tangan
kanannya tak bisa difungsikan seperti biasanya sehingga sangat sulit jika ingin
ke kamar mandi. Kondisi beginilah yang membuat kami tak tega pada bapak maupun
ibuku. Ibu sendiri usianya sudah 63 tahun. Tidak bisa ibu membantu bapak jika
ingin ke kamar mandi atau keperluan lain yang harus memindahkan bapak dari
kamarnya ke kamar lain.
Setiap pagi kami bertiga yang
berbagi tugas. Aku di dapur mempersiapkan sarapan pagi. Naeswari sibuk mencuci
baju kotor dan Nastiti yang membantu keperluan -keperluan bapak. Memapahnya ke
kamar mandi atau toilet dan keperluan lainnya. Kadang Naeswari yang mengurusi
bapak, kadang juga aku.
Namun
saat kami bertiga sudah berangkat bekerja semua jadi serba sulit. Tidak ada
yang bisa membantu bapak jika ingin ke kamar mandi. Atau jika ia bosan di kamar
dan ingin duduk di ruang tengah rumah kami.
Setelah berembuk dengan ibu, kami
bertiga sepakat untuk mencari orang yang bisa membantu keperluan bapak. Ia
hanya mengurusi keperluan bapak saat kami semua berangkat kerja sampai salah
satu dari kami sudah ada yang pulang terlebih dahulu. Bapak minta dicarikan yang
laki-laki biar dia tidak merasa sungkan saat diurusi.
Singkatnya kami setuju dengan
keputusan ibu memilih Abizar untuk mengurus keperluan bapak. Abizar adalah anak
Bu Maemunah, sahabat pengajian ibuku di Masjid Muhajirin. Sehari-hari Abizar
bekerja membantu ayah dan ibunya berjualan kebutuhan pokok di pasar. Usia
Abizar sekitar 35 tahun.
Setiap pagi Abizar mengantar ibunya
ke pasar. Sedangkan ayahnya berangkat sendiri dengan membawa barang-barang
jualan mereka. Sesampainya di pasar Abizar akan membantu membuka toko kecil
mereka. Membersihkan dan merapikannya. Setelah mengantar ibunya dan membereskan
toko mereka, maka Abizar akan segera berangkat ke rumahku untuk membantu
keperluan bapak. Memapah bapakku ke kamar mandi, ke toilet, ke teras dan lain
sebagainya. Abizar sangatlah rajin. Setiap kali bertemu dengan aku maupun adik-adikku
ia selalu menyapa terlebih dahulu. Namun aku sangat jarang bertemu Abizar. Saat
ia datang di pagi hari aku sudah berangkat kerja terlebih dahulu dan saat aku
pulang di sore hari ia sudah pulang karena biasanya Naeswari maupun Nastiti
sudah pulang ke rumah.
Satu hal yang tak kulupakan dalam
hidupku adalah saat suatu malam bapak memanggilku.
“Bagaimana? Apakah kamu sudah
menemukan jodohmu, Yu?” tanya bapak tanpa basa-basi.
“Belum, Pak. Ayu kan dari pagi
hingga sore kerja pak. Kadang gak ada waktu ketemu banyak orang lain,” aku
membela diri.
“Jodoh itu kalau tidak datang ya
harus dicari, Yu” ucap bapakku sambil memandangiku dengan tatapan yang tak
kumengerti.
“Kamu mau bapak carikan jodoh?”
“Maksudnya, Pak?” tanyaku bingung.
“Kamu mau bapak jodohkan dengan nak
Abizar?” tanya bapakku agak pelan.
“Hah…sama Abizar, Pak? Akukan lebih
tua tiga tahun dari dia. Apa kata orang nanti, Pak. Kasihan Abizar nanti
dikatain orang dapat perawan tua. Gak lah pak. Abizar bisa dapat perempuan yang
lebih baik kok dari saya” jawabku pada bapak.
“Sudah tiga bulan bapak di urusi
Abizar. Anaknya baik dan sopan. Ibadahnya juga tekun kok. Kalau jodoh, usia
tidak jadi penghalang, Yu” bapakku tampak serius sambil memandangiku.
“Kemarin siang bapak sengaja ajak
Abizar bicara. Bapak tanya apakah dia sudah ada calon? Dia bilang belum.
Kemudian bapak tanya apakah mau jika dia bapak jodohkan dengan kamu. Awalnya
dia minder karena dia tidak ada pekerjaan tetap. Tetapi bapak yakinkan kalau
pekerjaan bisa di cari. Nanti bisa buka usaha dari rumah. Kalau kamu mau nak Abizar
juga setuju karena sebenarnya ia juga suka sama kamu katanya,” panjang lebar
bapakku menjelaskannya padaku.
Ah begitulah jodoh. Datangnya tak
disangka-sangka. Diusiaku yang hampir kepala empat begini ternyata bapakku lah
yang mencarikan jodoh untukku. Ternyata jodoh itu tidak rumit. Asal kita mau
menerima kekurangan satu sama lain semua terasa mudah dijalani. Setiap masalah
akan mudah dicarikan jalan keluarnya. Tak perlu kita hiraukan omongan orang
lain karena yang akan menjalani hidup ini adalah kita sendiri.
Kini sudah hampir dua tahun pernikahanku
dengan Abizar, ya mas Abizar. Kami sudah mempunyai seorang anak laki-laki
berusia tiga belas bulan. Kesehatan bapakku semakin membaik. Ia tak perlu lagi
di bimbing untuk ke kamar mandi. Ia sudah bisa berjalan meski masih menggunakan
tongkat. Seringkali mas Abizar ingin membantunya tapi bapak tidak mau karena
katanya ia bisa mengerjakannya sendiri.
Aku dan mas Abizar membangun sebuah
toko kecil di depan rumah bapakku. Toko berisi keperluan sehari-hari, berjualan
pulsa dan isi ulang air minum. Dari pagi hingga sore mas Abizar yang
menungguinya sedangkan aku tetap bekerja di tempatku semula. Mas Abizar tidak
pernah gengsi dengan pekerjaannya. Naeswari pun sudah menikah dengan teman yang
dahulu sering kulihat mengantarnya pulang, namanya Emil. Kini mereka memilih
mengontrak di komplek perumahan tak jauh dari rumah bapakku. Sering mereka datang
ke rumah bapakku jika ada waktu kosong atau libur.
Tuhan maha baik, Ia mengabulkan
doa- ayah-ibuku. Ia memberikan masa tua yang bahagia untuk bapak ibukku. Tuhan
memberi kesempatan bapak ibuku untuk melihat cucunya. Menimangnya seperti
bapak-ibu yang lainnya. Aku sangat bahagia saat melihat binar-binar bahagia di
wajah bapak dan ibuku.
#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar