Rabu, 23 September 2020

JODOH PILIHAN BAPAK

 

Jodoh Pilihan Bapak

 


Namaku Wulan, tepatnya Ayu Wulandari. Nama yang begitu indah yang diberikan orang tuaku 38 tahun lalu. Kata bapakku ayu itu artinya cantik sedangkan wulandari itu artinya bulan purnama. Jadi jika diartikan Ayu Wulandari itu artinya bulan purnama yang cantik. Ah bisa saja bapakku. Tapi benar kata orang nama itu doa. Buktinya banyak orang yang bilang aku memang cantik. Kulit putih, rambut panjang dan lurus kuwarisi dari ibuku sedangkan tubuh tinggiku dapat dari bapakku. Aku benar-benar beruntung. Bayangkan jika aku mewarisi gemuk dan pendeknya ibuku serta keritingnya bapakku. Duh jadilah aku perempuan gemuk pendek dan keriting.

Aku anak sulung dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Adikku Naeswari sudah sepuluh tahun menamatkan kuliahnya. Adikku yang pendiam itu sekarang sudah jadi perawat. Bekerja di rumah sakit swasta di kota kami. Sementara Nastiti, adikku yang paling bungsu mengikuti jejak ibuku menjadi seorang guru sekolah dasar.

Namun untuk urusan jodoh ternyata nasibku tak seindah nama dan rupaku. Buktinya sampai usia hampir kepala empat aku masih sendiri. Seandainya dulu kuterima cintanya Adit pasti aku sudah punya anak dua atau tiga. Mengingat Adit membuatku menyesal. Adit adalah teman SMA ku. Sejak SMA aku sudah tau dia menaruh perasaan padaku tapi aku pura-pura tidak tahu. Kami berteman akrab sama seperti dengan teman yang lainnya. Hingga semester lima saat kuliah kami masih akrab. Berangkat dan pulang kuliah bersama karena kami memang satu universitas hanya beda fakultas saja. Adit sangat sopan padaku. Tak pernah ia marah sedikitpun, bahkan jika aku yang salahpun dia yang akan meminta maaf. Hingga suatu hari ia memberanikan diri menyatakan cintanya padaku. Ada perasaan senang namun bingung saat itu. Senang karena merasa dicintai seseorang namun bingung karena saat itu aku tidak ingin terikat dengan yang namanya pacaran. Aku hanya ingin berteman saja dan fokus pada kuliahku.

Sejak penolakanku saat itu, Adit terlihat sedikit menjauh dariku. Hingga akhirnya setahun setelah kami wisuda kudengar ia menikah. Ia sudah tinggal di kota yang berbeda denganku. Ia tak memberi kabar padaku tentang pernikahannya. Jujur saat itu aku merasa menyesal.

Sejak itu aku mencoba dekat dengan beberapa lelaki namun entah mengapa selalu kandas hanya dalam waktu yang tak lama karena aku merasa tidak cocok atau justru lelaki tersebut yang meninggalkanku.

“Jadi kapan nduk kamu mau menikah?” tanya bapakku untuk yang mungkin sudah ratusan kalinya. Aku hanya diam.

“Bapakmu ini sudah pensiun. Punya anak perempuan tiga kok ya belum ada yang menikah. Kapan bapakmu ini mau menimang cucu?” tanya bapak lagi.

Jika sudah begini aku, Naeswari dan Nastiti langsung akan diam semua. Acara malam minggu yang kami isi dengan nonton drama korea seolah berubah menjadi film horor. Kenapa sih pak kok ya topiknya itu lagi itu lagi jeritku dalam hati. Mungkin karena bapak punya waktu banyak dengan kami bertiga ya pada malam minggu begini jadilah ia tanyakan itu pada kami.

Aku tak menyalahkan bapak sepenuhnya. Sebagai orang tua wajar jika mereka cemas mempunyai tiga orang anak perempuan yang sudah cukup umur tapi kok belum juga ada tanda-tanda mau menikah. Sementara teman-teman bapakku sudah banyak yang mempunyai cucu tiga sampai lima cucu.

“Jangan-jangan kalian ini kena sengkolo kebo kemali. Terutama kamu Nduk Wulan,” ucap bapakku.

Kami bertiga serempak menoleh pada bapakku. Nastiti yang dari tadi diam akhirnya buka suara, “Sengkolo kebo kemali itu apa, Pak?”

“Itu lo Nduk sengkala atau kesialan seseorang yang sulit dapet jodoh. Katanya orang-orang yang seperti itu selalu saja ada kesulitan jika untuk urusan jodoh. Tapi itu kata orang-orang tua dulu,” jelas ibuku yang sejak tadi mendengar percakapan kami.

Duh, lagi-lagi bapakku bawa-bawa kepercayaan orang orang dulu untuk urusan begini. Susah menjelaskan ke bapak kalo sudah urusan begini.

“Kalian harus di ruwat!! Pokoknya sekali ini harus manut sama bapak!! Besok malam jumat bapak panggil Mbah Kromo,” tampak bapakku makin serius berbicaranya.

Apaan sih pak diruwat. Terus kenapa pula mbah kromo harus dipanggil.

“Diruwat itu apa sih, Bu” kembali Nastiti bertanya pada ibuku.

“Diruwat itu dimandiin kembang terus dibacain doa” ucap ibuku.

“Doanya apa, Bu?”

“ Ya gak tahu. Nanti  Mbah Kromo yang bacain. Paling ya doa biar kalian dapat jodoh,” kata ibuku.

“Aku gak mau, Bu. Itu tradisi lama, Bu. Gak dipakai lagi jaman modern sekarang. Nanti malah kita terjerumus hal-hal syirik lo, Bu. Dosanya malah besar. Enggak ah, aku gak mau” ucapku pada ibuku yang sebenernya kutujukan pada bapakku.

“Oalah kamu kok ngeyel to Nduk!! Bapakmu ini mengusahakan yang terbaik buat kalian kok malah bilangin bapak syirik!!” ucap bapakku dengan kesal dan nada tinggi.

“Ibumu itu juga pengen punya cucu seperti ibu-ibu yang lain. Bosan ibumu itu ditanya tetangga kapan mantu? Kapan mantu? Siapa nih yang mau nikah duluan anaknya?” kembali bapakku berucap berapi-api.

Kalau sudah begini kami bertiga hanya diam. Tak ada yang berani lagi menyangkal ucapan bapak. Jika diteruskan bisa-bisa penyakit asma nya bapak kambuh dan kami semua yang repot.

Ibu lebih banyak diam. Mungkin ia lebih tahu perasaan anak-anaknya. Anak mana yang tidak ingin menikah dengan usia-usia yang sudah tidak muda lagi? Tapi mau bagaimana lagi jika jodohnya belum datang. Kulihat ibu menyeka bulir-bulir airmatanya dan pergi meninggalkan kami. Jika sudah begini suasana menonton TV pun sudah tak nyaman lagi. Bergegas aku ke kamarku disusul Naeswari dan Nastiti ke mamar mereka.

Sejak saat itu aku mencoba semakin terbuka menerima lelaki yang mau mendekatiku. Setiap teman-teman yang menjodohkan aku dengan lelaki yang mereka kenal kucoba untuk membuka diri. Namun entah mengapa semuanya tak berujung pada kecocokan. Sementara Naeswari kulihat beberapa kali diantar oleh lelaki yang sama. Aku menduga itu adalah teman dekatnya atau teman satu rumah sakitnya karena kulihat mereka memakai seragam yang sama.

Sudah sebulan bapak kena serangan stroke. Hampir separuh badannya tak bisa digerakkan. Kaki kanan dan tangan kanannya tak bisa difungsikan seperti biasanya sehingga sangat sulit jika ingin ke kamar mandi. Kondisi beginilah yang membuat kami tak tega pada bapak maupun ibuku. Ibu sendiri usianya sudah 63 tahun. Tidak bisa ibu membantu bapak jika ingin ke kamar mandi atau keperluan lain yang harus memindahkan bapak dari kamarnya ke kamar lain.

Setiap pagi kami bertiga yang berbagi tugas. Aku di dapur mempersiapkan sarapan pagi. Naeswari sibuk mencuci baju kotor dan Nastiti yang membantu keperluan -keperluan bapak. Memapahnya ke kamar mandi atau toilet dan keperluan lainnya. Kadang Naeswari yang mengurusi bapak, kadang juga aku.

Namun saat kami bertiga sudah berangkat bekerja semua jadi serba sulit. Tidak ada yang bisa membantu bapak jika ingin ke kamar mandi. Atau jika ia bosan di kamar dan ingin duduk di ruang tengah rumah kami.

Setelah berembuk dengan ibu, kami bertiga sepakat untuk mencari orang yang bisa membantu keperluan bapak. Ia hanya mengurusi keperluan bapak saat kami semua berangkat kerja sampai salah satu dari kami sudah ada yang pulang terlebih dahulu. Bapak minta dicarikan yang laki-laki biar dia tidak merasa sungkan saat diurusi.

Singkatnya kami setuju dengan keputusan ibu memilih Abizar untuk mengurus keperluan bapak. Abizar adalah anak Bu Maemunah, sahabat pengajian ibuku di Masjid Muhajirin. Sehari-hari Abizar bekerja membantu ayah dan ibunya berjualan kebutuhan pokok di pasar. Usia Abizar sekitar 35 tahun.

Setiap pagi Abizar mengantar ibunya ke pasar. Sedangkan ayahnya berangkat sendiri dengan membawa barang-barang jualan mereka. Sesampainya di pasar Abizar akan membantu membuka toko kecil mereka. Membersihkan dan merapikannya. Setelah mengantar ibunya dan membereskan toko mereka, maka Abizar akan segera berangkat ke rumahku untuk membantu keperluan bapak. Memapah bapakku ke kamar mandi, ke toilet, ke teras dan lain sebagainya. Abizar sangatlah rajin. Setiap kali bertemu dengan aku maupun adik-adikku ia selalu menyapa terlebih dahulu. Namun aku sangat jarang bertemu Abizar. Saat ia datang di pagi hari aku sudah berangkat kerja terlebih dahulu dan saat aku pulang di sore hari ia sudah pulang karena biasanya Naeswari maupun Nastiti sudah pulang ke rumah.

Satu hal yang tak kulupakan dalam hidupku adalah saat suatu malam bapak memanggilku.

“Bagaimana? Apakah kamu sudah menemukan jodohmu, Yu?” tanya bapak tanpa basa-basi.

“Belum, Pak. Ayu kan dari pagi hingga sore kerja pak. Kadang gak ada waktu ketemu banyak orang lain,” aku membela diri.

“Jodoh itu kalau tidak datang ya harus dicari, Yu” ucap bapakku sambil memandangiku dengan tatapan yang tak kumengerti.

“Kamu mau bapak carikan jodoh?”

“Maksudnya, Pak?” tanyaku bingung.

“Kamu mau bapak jodohkan dengan nak Abizar?” tanya bapakku agak pelan.

“Hah…sama Abizar, Pak? Akukan lebih tua tiga tahun dari dia. Apa kata orang nanti, Pak. Kasihan Abizar nanti dikatain orang dapat perawan tua. Gak lah pak. Abizar bisa dapat perempuan yang lebih baik kok dari saya” jawabku pada bapak.

“Sudah tiga bulan bapak di urusi Abizar. Anaknya baik dan sopan. Ibadahnya juga tekun kok. Kalau jodoh, usia tidak jadi penghalang, Yu” bapakku tampak serius sambil memandangiku.

“Kemarin siang bapak sengaja ajak Abizar bicara. Bapak tanya apakah dia sudah ada calon? Dia bilang belum. Kemudian bapak tanya apakah mau jika dia bapak jodohkan dengan kamu. Awalnya dia minder karena dia tidak ada pekerjaan tetap. Tetapi bapak yakinkan kalau pekerjaan bisa di cari. Nanti bisa buka usaha dari rumah. Kalau kamu mau nak Abizar juga setuju karena sebenarnya ia juga suka sama kamu katanya,” panjang lebar bapakku menjelaskannya padaku.

Ah begitulah jodoh. Datangnya tak disangka-sangka. Diusiaku yang hampir kepala empat begini ternyata bapakku lah yang mencarikan jodoh untukku. Ternyata jodoh itu tidak rumit. Asal kita mau menerima kekurangan satu sama lain semua terasa mudah dijalani. Setiap masalah akan mudah dicarikan jalan keluarnya. Tak perlu kita hiraukan omongan orang lain karena yang akan menjalani hidup ini adalah kita sendiri.

Kini sudah hampir dua tahun pernikahanku dengan Abizar, ya mas Abizar. Kami sudah mempunyai seorang anak laki-laki berusia tiga belas bulan. Kesehatan bapakku semakin membaik. Ia tak perlu lagi di bimbing untuk ke kamar mandi. Ia sudah bisa berjalan meski masih menggunakan tongkat. Seringkali mas Abizar ingin membantunya tapi bapak tidak mau karena katanya ia bisa mengerjakannya sendiri.

Aku dan mas Abizar membangun sebuah toko kecil di depan rumah bapakku. Toko berisi keperluan sehari-hari, berjualan pulsa dan isi ulang air minum. Dari pagi hingga sore mas Abizar yang menungguinya sedangkan aku tetap bekerja di tempatku semula. Mas Abizar tidak pernah gengsi dengan pekerjaannya. Naeswari pun sudah menikah dengan teman yang dahulu sering kulihat mengantarnya pulang, namanya Emil. Kini mereka memilih mengontrak di komplek perumahan tak jauh dari rumah bapakku. Sering mereka datang ke rumah bapakku jika ada waktu kosong atau libur.

Tuhan maha baik, Ia mengabulkan doa- ayah-ibuku. Ia memberikan masa tua yang bahagia untuk bapak ibukku. Tuhan memberi kesempatan bapak ibuku untuk melihat cucunya. Menimangnya seperti bapak-ibu yang lainnya. Aku sangat bahagia saat melihat binar-binar bahagia di wajah bapak dan ibuku.

#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERPUSTAKAAN KELILING MASUK SEKOLAH

Pada hari rabu, 31 Agustus 2022 SMPN 1 Terbanggi Besar kedatangan mobil perpustakaan keliling dari perpustakaan daerah Kabupaten Lampung Ten...