Rabu, 23 September 2020

HANTU SISWA

 

Hantu Siswa


 

             -Pengalaman yang tak terlupakan selama mengajar adalah menjadi guru bagi seorang hantu-

Aku adalah seorang guru baru di sebuah sekolah menegah pertama yang terletak di salah satu daerah pedalaman di Sumatera. Menjadi guru memang sudah menjadi cita-citaku sejak kecil. Entah mengapa ketika melihat guru dengan seragamnya yang rapi aku selalu tertarik. Ya tertarik untuk menjadi guru.

Dari SD hingga perguruan tinggi kuhabiskan pendidikanku di pulau jawa. Hingga suatu saat pamanku yang tinggal di Sumatera mengabarkan bahwa ada penerimaan calon pegawai negeri untuk guru SMP. Singkat cerita karena bujukan pamanku akhirnya aku mendaftar dan ternyata setelah melalui ujian tulis aku dinyatakan diterima.

Akhirnya akupun hijrah ke Sumatera. Menjadi guru matematika di sebuah SMP Negeri. Sekolahku ternyata bukanlah di sebuah tempat yang ramai. Sekolahku letaknya hampir di ujung sebuah desa, berbatasan dengan ratusan hektar kebun kelapa sawit. Aku tidak tahu mengapa sekolah ini didirikan di ujung desa seperti ini. Bukankah biasanya sekolah-sekolah didirikan di tengah-tengah pemukiman yang padat penduduknya. Tapi tak tahulah, mungkin bisa panjang ceritanya jika aku harus mencari tahu.

Pertama kali aku sampai disekolah ini ada kesan horor yang membuat bulu kudukku berdiri. Ya, aku memang sensitif dengan hal-hal yang demikian. Dulu aku sering demam tinggi ketika berusia enam tahun. Jika sudah demam begitu aku sering mengigau. Sudah beberapa kali di bawa ke dokter namun diagnosa dokter selalu berubah ubah. Bahkan antara dokter yang satu dengan yang lainnya bisa berbeda. Akhirnya ayahku membawaku ke seseorang yang di anggap mampu mengobatiku. Sesampai disana aku hanya diberi air putih. Sejak itu aku tidak pernah demam panas lagi.

Namun sejak saat itu aku merasa sedikit aneh. Aku menjadi bisa melihat hal-hal gaib di sekitarku. Beberapa kali pula ayahku membawa aku ke orang pintar untuk menyembuhkanku namun tidak juga berhasil. Kemampuanku tersebut kurasakan hingga aku kelas 3 SMP. Saat aku sudah memasuki SMA aku tidak terlalu sering melihat hal-hal gaib di sekitarku. Masih bisa melihat tapi tidak sesering waktu aku SD dan SMP. Aku tidak tahu apa penyebabnya.

Kemampuanku tersebut masih kumiliki hingga aku menjadi guru. Saat pertama kali aku mengikuti upacara disekolahku, aku sempat heran karena aku melihat ada beberapa siswa yang tidak berseragam. Mengapa anak-anak itu tidak berseragam? Apakah seragamnya basah atau tidak mampu untuk membeli seragam?

Setelah upacara selesai kuberanikan diri untuk bertanya kepada Bu Puji, guru Bahasa Indonesia di sekolahku tersebut.

“Kenapa beberapa siswa dibiarkan tidak berseragam ya, Bu? Apakah mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu yang tidak bisa membeli seragam?” tanyaku pada Bu Puji.

“Siswa yang  mana, Pak Iwan?” Bu Puji balik bertanya.

“Itu lo bu siswa yang berada di barisan tepat di depan saya. Jika tidak salah siswa kelas 7D,” aku menjelaskan pada Bu Puji.

“Ah rasanya semua siswa tadi berseragam yang sama semua, Pak Iwan. Bapak mungkin salah lihat. Jarak Pak Iwan sampai ke anak-anak tadi kan cukup jauh. Mungkin bapak yang salah lihat,” begitu ucap Bu Puji.

Sebenarnya aku masih ingin meyakinkan Bu Puji jika yang kulihat tersebut benar tapi niatku tersebut kuurungkan mengingat aku adalah guru baru disitu. Aku tak mau di anggap membicarakan hal-hal yang tidak benar.

Pertanyaanku tersebut akhirnya terjawab setelah aku tiga bulan berada di sekolah tersebut. Siswa-siswa yang tidak berseragam tersebut ternyata bukanlah siswa yang sebenarnya. Hal ini mulai kusadari saat sering sekali terjadi kesurupan pada siswa kelas 7D. Beberapa orang pintar yang didatangkan oleh Pak Margono, wakil kepala sekolah kami, mengatakan jika siswa-siswa tersebut di ganggu oleh hantu anak-anak. Hal itu terjadi berkali-kali di kelas 7D. Beberapa siswa tiba-tiba berteriak teriak tak tentu karena kesurupan saat jam pelajaran.

Kejadian-kejadian tersebut sangat menganggu proses belajar di kelas 7D maupun kelas-kelas disampingnya. Beberapa siswa tampak berhamburan keluar kelas karena ikut ketakutan, Sementara siswa kelas lain malah bergerombol di samping jendela-jendela kelas ingin menyaksikan apa yang terjadi di kelas 7D. Sekolah beanr-benar dibuat kerepotan saat itu karena ternyata tidak hanya satu siswa yang kesurupan melainkan beberapa siswa. Akhirnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak baik siswa-siswa dipulangkan lebih awal dari jadwal biasanya.

Suatu hari, saat jam pelajaranku di kelas 7D aku melihat seorang anak perempuan dengan seragam yang berbeda duduk di bangku paling belakang. Itu seharusnya adalah bangkunya Vina. Namun karena Vina tidak masuk hari itu maka anak perempuan yang tidak berseragam itu duduk disitu.

Aku sadar itu bukanlah siswaku. Kulihat anak perempuan tersebut terlihat murung. Namun tatapan matanya tetap mengarah kedepan memperhatikanku yang sedang menjelaskan materi.

Saat siswa siswa sedang sibuk mengerjakan tugas aku berjalan ke arah anak perempuan tersebut.  Kuambil sebuah kertas dan kutulis kalimat-kalimat pertanyaan pada anak tersebut.

“Siapa namamu?” tulisku pada kertas tersebut.

“Saya Aline, Pak,” tulisnya pada kertas yang kuletakkan dimejanya tersebut. Tentu saja siswa-siswa tak ada yang dapat melihat Aline saat menulis di kertas tersebut namun aku tetap hati-hati saat aku mengambil kertas di meja Aline tersebut untuk menulis dan meletakkannya kembali agar siswa-siswaku yang lain tidak mencurigai apa yang kulakukan.

“Kenapa kau disini,” tanyaku pada Aline.

“Saya ingin sekolah, Pak. Bolehkan, Pak?” tanya Aline.

Hantu ingin sekolah? Kok saya mendengarnya agak lucu ya? Untuk apa dia sekolah?

“Boleh, asal ikuti saya setelah jam pelajaran saya ini ya. Kita ke laboratorium biologi,” ucapku pada Aline.

“Baik, Pak” ucap Aline.

Aku melihat Aline seperti siswa biasa. Tidak ada yang menakutkan walau dia hantu. Hanya bedanya ia tidak memakai seragam seperti siswa lainnya. Ia hanya memakai baju kemeja biasa dan rok panjang semata kaki.

Saat jam pelajaran matematikaku selesai segera bergegas aku ke laboratorium biologi dengan sebelumnya mengambil kunci laboratorium tersebut di kantor TU. Sengaja aku memilih laboratorium biologi karena ruanggannya yang letaknya jauh dari ruang lain di sekolahku.

“Kamu siapa sebenarnya? Ceritakan pada saya,” tanyaku pada Aline saat kulihat tiba-tiba dia sudah didepanku.

“Saya Aline, Pak. Dua tahun lalu saya bersekolah disini. Saya meninggal karena bunuh diri di toilet sekolah. Saya depresi, Pak. Ayah dan ibu saya selalu bertengkar. Mereka tidak pernah memperhatikan saya. Saya senang belajar di sekolah tapi saya tidak pernah bisa fokus pada pelajaran sehingga saya sering melamun di kelas. Saya sering dimarahi guru karena melamun dan tidak fokus. Itu terjadi hampir setiap hari sehingga nilai-nilai saya juga hancur,” jelas Aline.

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya?” tanyaku semakin berempati pada cerita Aline.

“Saya tertekan, Pak. Di sekolah saya kena marah. Di rumahpun seperti itu. Hingga hari itu saya khilaf, Pak. Saya mengakhiri hidup saya di toilet sekolah dengan gantung diri menggunakan dua buah dasi sekolah yang saya punya. Saya menyesal, Pak” Aline tampak bercerita dengan penuh perasaan.

“Jadi selama ini yang mengganggu siswa-siswa kelas 7D itu kamu?” tanyaku penuh selidik pada Aline.

“Bukan, Pak. Itu teman-teman saya. Mereka tidak mau saya duduk di dalam kelas mengikuti pelajaran. Mereka inginnya saya bermain bersama mereka tapi saya tidak mau. Akhirnya mereka menganggu siswa-siswa kelas 7D tersebut agar proses belajar di kelas tersebut berantakan. Tapi saya bisa mengatasinya, Pak. Saya janji,” terlihat Aline sungguh-sungguh mengucapkan itu padaku.

“Baik. Kita harus punya kesepakatan mulai hari ini. Kamu boleh mengikuti pelajaran saya. Kamu juga boleh mengikuti pelajaran lain tapi kamu tidak boleh beriteraksi dengan guru pelajaran lain tersebut. Kamu juga tidak boleh mengganggu siswa-siswa sekolah ini. Kamu akan mengikuti setiap penilaian harian, penilaian tengah semester maupun penilaian akhir semester pelajaran saya. Abaikan penilaian mata pelajaran lain. Jika nilai matematikamu baik maka kamu akan naik kelas. Tapi ingat jika kamu naik kelas kamu harus masuk di kelas dimana saya wali kelasnya, bagaimana? Kamu setuju?” tanyaku pada Aline.

“Saya setuju, Pak” ucap Aline tampak berbinar-binar.

“Baiklah. Sekarang kamu boleh pergi.”

“Baik. Pak” ucap Aline yang tiba-tiba saja langsung hilang dari pandanganku.

Sejak saat itu tidak ada lagi kejadian kesurupan di kelas 7D. Sepertinya Aline benar-benar memenuhi janjinya padaku. Setiap pelajaranku di kelas 7D ia selalu hadir. Dia benar-benar siswa yang rajin. Setiap kali penilaian harian aku selalu melebihkan satu soal dan satu lembar jawaban untuk Aline, kuletakkan diatas mejaku. Kubiarkan Aline duduk di kursiku tersebut untuk mengerjakan soal-soal tersebut sementara aku berkeliling melihat siswa lain mengerjakan soal-soal mereka atau berdiri di bagian belakang sambil bersandar di tembok kelas.

Saat ujian tengah semesterpun Aline akan masuk di ruangan dimana aku mengawas. Begitulah yang kulakukan terhadap Aline. Aline cukup cerdas, nilai-nilainya tidaklah terlalu buruk. Jika ia nyata mungkin ia akan masuk dalam peringkat 10 besar dikelasnya.

Tak ada rapor khusus untuk Aline. Aku hanya mengatakan ia naik kelas. Maka ia akan berada di kelasku pada tahun ajaran berikutnya. Sengaja aku meminta kepada wakil kepala sekolah bagian kurikulum agar aku dijadikan wali kelas delapan. Kemudian tahun berikutnya aku meminta dijadikan wali kelas sembilan. Aku mengatakan pada wakil kepala sekolah bagian kurikulum bahwa aku ingin merasakan bagaimana menjadi wali kelas di level yang berbeda-beda.

Hingga suatu hari, aku sengaja memanggil Aline untuk berbicara dengannya di laboratorium biologi.

“Aline, hari ini pengumuman kelulusan sekolah kita. Semua siswa SMP kita dinyatakan lulus, termasuk juga kamu. Saya hanya melihat nilai matematikamu. Menurut penilaian saya, kamu layak untuk lulus,” ucapku pada Aline yang tampak serius di depanku.

“Kamu boleh meninggalkan sekolah ini, tapi ingat jangan pernah mengganggu siswa lain di sekolah manapun. Dan jika di sekolah yang lebih tinggi nanti kamu tidak menemui guru yang bisa berinteraksi denganmu seperti saya jangan kecewa karena tidak semua bisa seperti itu. Jika kamu ingin tetap belajar, belajarlah saja tanpa harus berinteraksi dengan guru ataupun siswa lain ya. Kamu paham yang saya bicarakan, Aline?” tanyaku.

“Saya paham, Pak. Terimaksih atas semua kebaikan, Bapak. Mulai besok saya tidak akan di sekolah ini. Terimakasih atas semua yang sudah Bapak berikan,” jawab Aline padaku.

Benar-benar pengalaman yang tidak biasa. Pertemuanku dengan Aline tak bisa kujelaskan pada siapapun. Tak akan ada yang percaya jika aku bercerita. Pengalaman yang benar-benar selalu terekam di memoriku.

Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu Aline lagi. Entah apakah ia benar-benar mencari sekolah lain lagi atau kemana aku tidak tahu.


#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERPUSTAKAAN KELILING MASUK SEKOLAH

Pada hari rabu, 31 Agustus 2022 SMPN 1 Terbanggi Besar kedatangan mobil perpustakaan keliling dari perpustakaan daerah Kabupaten Lampung Ten...