Hantu Siswa
-Pengalaman yang tak terlupakan selama mengajar adalah menjadi guru bagi seorang hantu-
Aku adalah seorang guru baru di sebuah sekolah menegah pertama yang terletak di salah satu daerah pedalaman di Sumatera. Menjadi guru memang sudah menjadi cita-citaku sejak kecil. Entah mengapa ketika melihat guru dengan seragamnya yang rapi aku selalu tertarik. Ya tertarik untuk menjadi guru.
Dari SD hingga perguruan tinggi kuhabiskan pendidikanku di pulau jawa. Hingga suatu saat pamanku yang tinggal di Sumatera mengabarkan bahwa ada penerimaan calon pegawai negeri untuk guru SMP. Singkat cerita karena bujukan pamanku akhirnya aku mendaftar dan ternyata setelah melalui ujian tulis aku dinyatakan diterima.
Akhirnya akupun hijrah ke Sumatera. Menjadi guru matematika di sebuah SMP Negeri. Sekolahku ternyata bukanlah di sebuah tempat yang ramai. Sekolahku letaknya hampir di ujung sebuah desa, berbatasan dengan ratusan hektar kebun kelapa sawit. Aku tidak tahu mengapa sekolah ini didirikan di ujung desa seperti ini. Bukankah biasanya sekolah-sekolah didirikan di tengah-tengah pemukiman yang padat penduduknya. Tapi tak tahulah, mungkin bisa panjang ceritanya jika aku harus mencari tahu.
Pertama kali aku sampai disekolah ini ada kesan horor yang membuat bulu kudukku berdiri. Ya, aku memang sensitif dengan hal-hal yang demikian. Dulu aku sering demam tinggi ketika berusia enam tahun. Jika sudah demam begitu aku sering mengigau. Sudah beberapa kali di bawa ke dokter namun diagnosa dokter selalu berubah ubah. Bahkan antara dokter yang satu dengan yang lainnya bisa berbeda. Akhirnya ayahku membawaku ke seseorang yang di anggap mampu mengobatiku. Sesampai disana aku hanya diberi air putih. Sejak itu aku tidak pernah demam panas lagi.
Namun sejak saat itu aku merasa sedikit aneh. Aku menjadi bisa melihat hal-hal gaib di sekitarku. Beberapa kali pula ayahku membawa aku ke orang pintar untuk menyembuhkanku namun tidak juga berhasil. Kemampuanku tersebut kurasakan hingga aku kelas 3 SMP. Saat aku sudah memasuki SMA aku tidak terlalu sering melihat hal-hal gaib di sekitarku. Masih bisa melihat tapi tidak sesering waktu aku SD dan SMP. Aku tidak tahu apa penyebabnya.
Kemampuanku tersebut masih kumiliki hingga aku menjadi guru. Saat pertama kali aku mengikuti upacara disekolahku, aku sempat heran karena aku melihat ada beberapa siswa yang tidak berseragam. Mengapa anak-anak itu tidak berseragam? Apakah seragamnya basah atau tidak mampu untuk membeli seragam?
Setelah upacara selesai kuberanikan diri untuk bertanya kepada Bu Puji, guru Bahasa Indonesia di sekolahku tersebut.
“Kenapa beberapa siswa dibiarkan
tidak berseragam ya, Bu? Apakah mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu
yang tidak bisa membeli seragam?” tanyaku pada Bu Puji.
“Siswa yang mana, Pak Iwan?” Bu Puji balik bertanya.
“Itu lo bu siswa yang berada di barisan tepat di depan saya. Jika tidak salah siswa kelas 7D,” aku menjelaskan pada Bu Puji.
“Ah rasanya semua siswa tadi
berseragam yang sama semua, Pak Iwan. Bapak mungkin salah lihat. Jarak Pak Iwan
sampai ke anak-anak tadi kan cukup jauh. Mungkin bapak yang salah lihat,”
begitu ucap Bu Puji.
Sebenarnya aku masih ingin meyakinkan Bu Puji jika yang kulihat tersebut benar tapi niatku tersebut kuurungkan mengingat aku adalah guru baru disitu. Aku tak mau di anggap membicarakan hal-hal yang tidak benar.
Pertanyaanku tersebut akhirnya terjawab setelah aku tiga bulan berada di sekolah tersebut. Siswa-siswa yang tidak berseragam tersebut ternyata bukanlah siswa yang sebenarnya. Hal ini mulai kusadari saat sering sekali terjadi kesurupan pada siswa kelas 7D. Beberapa orang pintar yang didatangkan oleh Pak Margono, wakil kepala sekolah kami, mengatakan jika siswa-siswa tersebut di ganggu oleh hantu anak-anak. Hal itu terjadi berkali-kali di kelas 7D. Beberapa siswa tiba-tiba berteriak teriak tak tentu karena kesurupan saat jam pelajaran.
Kejadian-kejadian tersebut sangat menganggu proses belajar di kelas 7D maupun kelas-kelas disampingnya. Beberapa siswa tampak berhamburan keluar kelas karena ikut ketakutan, Sementara siswa kelas lain malah bergerombol di samping jendela-jendela kelas ingin menyaksikan apa yang terjadi di kelas 7D. Sekolah beanr-benar dibuat kerepotan saat itu karena ternyata tidak hanya satu siswa yang kesurupan melainkan beberapa siswa. Akhirnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak baik siswa-siswa dipulangkan lebih awal dari jadwal biasanya.
Suatu hari, saat jam pelajaranku di
kelas 7D aku melihat seorang anak perempuan dengan seragam yang berbeda duduk
di bangku paling belakang. Itu seharusnya adalah bangkunya Vina. Namun karena Vina
tidak masuk hari itu maka anak perempuan yang tidak berseragam itu duduk
disitu.
Aku sadar itu bukanlah siswaku.
Kulihat anak perempuan tersebut terlihat murung. Namun tatapan matanya tetap
mengarah kedepan memperhatikanku yang sedang menjelaskan materi.
Saat siswa siswa sedang sibuk
mengerjakan tugas aku berjalan ke arah anak perempuan tersebut. Kuambil sebuah kertas dan kutulis
kalimat-kalimat pertanyaan pada anak tersebut.
“Siapa namamu?” tulisku pada kertas
tersebut.
“Saya Aline, Pak,” tulisnya pada
kertas yang kuletakkan dimejanya tersebut. Tentu saja siswa-siswa tak ada yang
dapat melihat Aline saat menulis di kertas tersebut namun aku tetap hati-hati saat
aku mengambil kertas di meja Aline tersebut untuk menulis dan meletakkannya
kembali agar siswa-siswaku yang lain tidak mencurigai apa yang kulakukan.
“Kenapa kau disini,” tanyaku pada
Aline.
“Saya ingin sekolah, Pak. Bolehkan,
Pak?” tanya Aline.
Hantu ingin sekolah? Kok saya
mendengarnya agak lucu ya? Untuk apa dia sekolah?
“Boleh, asal ikuti saya setelah jam
pelajaran saya ini ya. Kita ke laboratorium biologi,” ucapku pada Aline.
“Baik, Pak” ucap Aline.
Aku melihat Aline seperti siswa
biasa. Tidak ada yang menakutkan walau dia hantu. Hanya bedanya ia tidak
memakai seragam seperti siswa lainnya. Ia hanya memakai baju kemeja biasa dan
rok panjang semata kaki.
Saat jam pelajaran matematikaku
selesai segera bergegas aku ke laboratorium biologi dengan sebelumnya mengambil
kunci laboratorium tersebut di kantor TU. Sengaja aku memilih laboratorium
biologi karena ruanggannya yang letaknya jauh dari ruang lain di sekolahku.
“Kamu siapa sebenarnya? Ceritakan
pada saya,” tanyaku pada Aline saat kulihat tiba-tiba dia sudah didepanku.
“Saya Aline, Pak. Dua tahun lalu
saya bersekolah disini. Saya meninggal karena bunuh diri di toilet sekolah.
Saya depresi, Pak. Ayah dan ibu saya selalu bertengkar. Mereka tidak pernah
memperhatikan saya. Saya senang belajar di sekolah tapi saya tidak pernah bisa
fokus pada pelajaran sehingga saya sering melamun di kelas. Saya sering dimarahi
guru karena melamun dan tidak fokus. Itu terjadi hampir setiap hari sehingga
nilai-nilai saya juga hancur,” jelas Aline.
“Lalu apa yang terjadi
selanjutnya?” tanyaku semakin berempati pada cerita Aline.
“Saya tertekan, Pak. Di sekolah
saya kena marah. Di rumahpun seperti itu. Hingga hari itu saya khilaf, Pak.
Saya mengakhiri hidup saya di toilet sekolah dengan gantung diri menggunakan
dua buah dasi sekolah yang saya punya. Saya menyesal, Pak” Aline tampak
bercerita dengan penuh perasaan.
“Jadi selama ini yang mengganggu
siswa-siswa kelas 7D itu kamu?” tanyaku penuh selidik pada Aline.
“Bukan, Pak. Itu teman-teman saya.
Mereka tidak mau saya duduk di dalam kelas mengikuti pelajaran. Mereka inginnya
saya bermain bersama mereka tapi saya tidak mau. Akhirnya mereka menganggu
siswa-siswa kelas 7D tersebut agar proses belajar di kelas tersebut berantakan.
Tapi saya bisa mengatasinya, Pak. Saya janji,” terlihat Aline sungguh-sungguh
mengucapkan itu padaku.
“Baik. Kita harus punya kesepakatan
mulai hari ini. Kamu boleh mengikuti pelajaran saya. Kamu juga boleh mengikuti
pelajaran lain tapi kamu tidak boleh beriteraksi dengan guru pelajaran lain
tersebut. Kamu juga tidak boleh mengganggu siswa-siswa sekolah ini. Kamu akan
mengikuti setiap penilaian harian, penilaian tengah semester maupun penilaian
akhir semester pelajaran saya. Abaikan penilaian mata pelajaran lain. Jika
nilai matematikamu baik maka kamu akan naik kelas. Tapi ingat jika kamu naik
kelas kamu harus masuk di kelas dimana saya wali kelasnya, bagaimana? Kamu
setuju?” tanyaku pada Aline.
“Saya setuju, Pak” ucap Aline
tampak berbinar-binar.
“Baiklah. Sekarang kamu boleh
pergi.”
“Baik. Pak” ucap Aline yang
tiba-tiba saja langsung hilang dari pandanganku.
Sejak saat itu tidak ada lagi
kejadian kesurupan di kelas 7D. Sepertinya Aline benar-benar memenuhi janjinya
padaku. Setiap pelajaranku di kelas 7D ia selalu hadir. Dia benar-benar siswa
yang rajin. Setiap kali penilaian harian aku selalu melebihkan satu soal dan satu
lembar jawaban untuk Aline, kuletakkan diatas mejaku. Kubiarkan Aline duduk di
kursiku tersebut untuk mengerjakan soal-soal tersebut sementara aku berkeliling
melihat siswa lain mengerjakan soal-soal mereka atau berdiri di bagian belakang
sambil bersandar di tembok kelas.
Saat ujian tengah semesterpun Aline
akan masuk di ruangan dimana aku mengawas. Begitulah yang kulakukan terhadap
Aline. Aline cukup cerdas, nilai-nilainya tidaklah terlalu buruk. Jika ia nyata
mungkin ia akan masuk dalam peringkat 10 besar dikelasnya.
Tak ada rapor khusus untuk Aline.
Aku hanya mengatakan ia naik kelas. Maka ia akan berada di kelasku pada tahun
ajaran berikutnya. Sengaja aku meminta kepada wakil kepala sekolah bagian kurikulum
agar aku dijadikan wali kelas delapan. Kemudian tahun berikutnya aku meminta
dijadikan wali kelas sembilan. Aku mengatakan pada wakil kepala sekolah bagian
kurikulum bahwa aku ingin merasakan bagaimana menjadi wali kelas di level yang
berbeda-beda.
Hingga suatu hari, aku sengaja
memanggil Aline untuk berbicara dengannya di laboratorium biologi.
“Aline, hari ini pengumuman
kelulusan sekolah kita. Semua siswa SMP kita dinyatakan lulus, termasuk juga
kamu. Saya hanya melihat nilai matematikamu. Menurut penilaian saya, kamu layak
untuk lulus,” ucapku pada Aline yang tampak serius di depanku.
“Kamu boleh meninggalkan sekolah
ini, tapi ingat jangan pernah mengganggu siswa lain di sekolah manapun. Dan
jika di sekolah yang lebih tinggi nanti kamu tidak menemui guru yang bisa
berinteraksi denganmu seperti saya jangan kecewa karena tidak semua bisa
seperti itu. Jika kamu ingin tetap belajar, belajarlah saja tanpa harus
berinteraksi dengan guru ataupun siswa lain ya. Kamu paham yang saya bicarakan,
Aline?” tanyaku.
“Saya paham, Pak. Terimaksih atas
semua kebaikan, Bapak. Mulai besok saya tidak akan di sekolah ini. Terimakasih
atas semua yang sudah Bapak berikan,” jawab Aline padaku.
Benar-benar pengalaman yang tidak
biasa. Pertemuanku dengan Aline tak bisa kujelaskan pada siapapun. Tak akan ada
yang percaya jika aku bercerita. Pengalaman yang benar-benar selalu terekam di
memoriku.
Sejak saat itu, aku tidak pernah
bertemu Aline lagi. Entah apakah ia benar-benar mencari sekolah lain lagi atau
kemana aku tidak tahu.
#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar