Senja
“Mak berhenti saja menjadi penari ya” pinta Udin pada perempuan berkebaya hijau dengan selendang kuning terikat di pinggang yang berdiri di depannya tersebut.
“Kenapa, Din” tanya emaknya pada
bocah berusia sepuluh tahun tersebut.
“Udin malu, Mak. Setiap hari Udin
di ejek teman-teman Udin” jawab Udin polos pada emaknya.
“Kalau emak tidak menari kita dapat
uang darimana, Din? Siapa yang akan mencukupi kebutuhan kita. Sudah! jangan kau
dengarkan ucapan teman-temanmu itu!
“Emak kan bisa bekerja yang lain” pinta
udin.
Sambil menatap Udin emaknya
berbicara lirih, “Udin, kamu tahu emakmu ini tidak tamat sekolah dasar.
Pekerjaan apa yang bisa emak dapatkan? Paling hanya jadi pembantu rumah tangga
atau buruh cuci dan setrika. Pekerjaan itu membutuhkan loyalitas pada majikan,
Udin. Emak tidak bisa izin seenaknya jika emak ada keperluan mendadak.”
“Tapi, Mak…” suara Udin sudah tak
dihiraukan lagi oleh emaknya. Ia hanya bisa melihat langkah kaki emaknya
semakin jauh meninggalkannya sambil membawa tape
recorder kecil sebagai sumber musiknya saat ia menari.
Matahari mulai condong ke barat namun gang-gang kota masih terasa ramai.
Beberapa pengendara sepeda motor tampak melewati gang depan kontrakan Udin dan
emaknya tersebut. Sebuah gang sempit yang hanya dapat dilalui satu sepeda motor
saja. Beberapa perempuan asik mengobrol diteras-teras mereka yang saling
berdekatan, dari pembicaraan kebutuhan harian hingga gosip-gosip tentang sesama
warga. Beberapa anak seusia Udin masih tampak ramai berkejaran. Saling sembunyi
di sudut-sudut gang. Saat salah satu menemukan maka akan pecahlah teriakan
mereka satu sama lain.
Udin memilih menutup pintu dan
menuju kamarnya. Ia tak ingin bergabung bersama anak-anak yang sedang bermain
tersebut. Baginya ikut bermain sama saja dengan menambah luka. Ya, luka karena
olok-olok mereka. Apa salah ia dan ibunya? Apa salah ibunya jika ibunya menjadi
seorang penari? Udinpun tak mengerti kenapa teman-temannya tersebut selalu
mengolok-oloknya dengan ucapan ‘dasar
anak penari’,
Tak ada teman saat senja begini.
Hanya TV kecil yang dibeli ayahnya dahulu saat usianya enam tahun. Itulah
satu-satunya kenangannya terhadap ayahnya. Masih ingat betul Udin saat itu
ayahnya mengajaknya ke toko elektronik Koh Acong setelah menghempaskan sebuah
celengan tanah berbentuk ayam jago.
Saat ayahnya masih ada, kehidupan
mereka tak sesulit sekarang. Meski ayahnya hanya seorang tukang servis
elektronik keliling tapi kebutuhan mereka tidak terlalu kekurangan. Di rumahpun
Udin masih ada emaknya yang menemani. Namun sejak senja itu, kehidupan Udin
berubah. Senja telah mengambil ayahnya darinya. Sebuah truk yang blong rem
nya menabrak ayahnya. Emak Udin pun akhirnya banting stir menjadi penari untuk
menghidupi keluarganya. Setiap habis ashar ia akan keluar menuju taman-taman
kota yang banyak pengunjungnya. Berpindah dari satu taman ke taman yang lainnya
demi uang recehan dari penikmat tariannya tersebut.
Kini sudah ratusan senja ia lewati sejak kepergian ayahnya. Senja selalu membawa suasana haru tersendiri bagi Udin. Senja telah merenggut kebahagiannya dan setiap senja pula ia akan kehilangan emaknya. Menikmati senja sendiri di rumah kotrakannya yang terasa sunyi
Seperti senja kali ini, ingin sebenarnya ia ikut emaknya. Menghabiskan senja bersama emaknya berpindah dari taman yang satu ke taman yang lain. Namun sayang tak pernah sedikitpun emaknya mengizinkannya hal itu.
“Kamu di rumah saja, Din. Banyak bahaya
di luar sana yang kamu tidak mengerti. Emak tidak akan bisa mengawasimu terus!”
begitulah kalimat yang sering di dengar Udin jika ia ingin ikut emaknya.
Sungguh hidup ini keras! Tak
seindah dunia para konglomerat atau pun para pejabat. Bisa makan dengan lauk,
sayur dan nasi lengkap saja sudah mewah bagi Udin dan emaknya. Berharap pada
tetanggapun tidaklah baik. Satu deret rumah kontrakan di kanan-kirinya semua
orang susah. Ada pak Narjo si tukang siomay, Pak Yono si buruh kupas kulit
udang, pak Unang hampir sama seperti ibunya penjual jasa namun ia jasa suara
alias pengamen dan tetangga tetangga lainnya Hanya emaknyalah perempuan di komplek rumah
kontrakan tersebut yang mungkin bekerja setelah Wak Odah yang penjahit baju tak
jauh dari rumahnya
Senja hampir berlalu. Gerimis tipis
turun sejak tadi. Suara azan magrib sebentar lagi terdengar. Gelisah hati Udin
memikirkan mengapa emaknya belum juga pulang? Sesekali ia menuju pintu depan
rumahnya. Menatap keluar berharap melihat perempuan setengah baya berkebaya
hijau itu berjalan ke arahnya. Namun harapan itu tak jua ia dapati.
Magrib berlalu dan Isya pun telah tiba. Hati Udin masih saja diliputi kecemasan. Tak biasanya emaknya pulang selarut itu. Apakah emaknya mampir ke sebuah tempat terlebih dahulu? Membeli sesuatu untuknya sebagai kejutan? Ah, tak ingin Udin membayangkan itu. Itu bukan kebiasaan emaknya. Dalam hidupnya , tak pasti setahun sekali itu terjadi.
Lalu kemana emaknya? Apakah terjadi
sesuatu pada emaknya? Tiba-tiba ketakutan yang mendalam menyelimuti Udin.
Satu-satunya harta berharga yang ia punya adalah emaknya. Kemana ia akan bertanya?
Meski ia ke rumah tetangga pasti tak satupun yang akan tahu dimana emaknya.
Malam kian larut. Tak ada
tanda-tanda kedatangan emak Udin. Matanya sudah sembab karena menangis
semalaman sementara bibir Udin seakan tak kuasa lagi ia gerakkan setelah ribuan
doa ia panjatkan. Ia tak ingin ini menjadi senja terakhir bersama emaknya.
Saat azan subuh berkumandang, Udin
tersentak terbangun. Ia tak ingat lagi jam berapa ia tertidur semalam, Ia segera
sadar emaknya belum juga pulang pagi ini. Diraihnya sajadah kecil diatas meja.
Segera ia mengambil wudhu dan menjalankan sholat subuh. Hingga pagi tak
beranjak ia dari duduk akhir sholatnya saat tiba-tiba ia mendengar pintu
diketuk seseorang.
“Emaaak…..”teriak Udin saat menyadari
siapa yang di depan pintu rumahnya tersebut. Tangis Udin pun pecah untuk
kesekian kalinya setelah tangisnya semalamaan. Hatinya benar-benar bahagia
melihat Emaknya kembali dihadapannya.
“Kenapa Emak tidak pulang semalam
Mak? Udin takut, Mak. Udin takut kehilangan emak” tangis Udin makin pecah.
“Loh kenapa dengan kepala emak?
kenapa di perban, Mak?” kembali Udin bertanya saat terkejut melihat kondisi
emaknya.
“Senja kemarin saat emak hendak pulang,
emak mengalami kecelakaan Din. Emak hampir tertabrak mobil. Untung emak cepat
menghindar tapi malangnya kepala emak terbentur kaca spion mobil tersebut
dengan keras. Emak pingsan, Din”
“Lalu, Mak?”tanya Udin sudah tidak sabar
mendengar apa yang terjadi.
“Orang yang menabrak emak membawa
emak ke klinik terdekat. Emak baru sadar saat tengah malam. Kata dokter klinik
emak tidak apa-apa. Makanya Emak nekat minta pulang pagi ini. Emak kepikiran
kamu Din. Semua biaya klinik sudah ditanggung orang yang menabrak emak
tersebut” ucap emak Udin.
Udin memeluk emaknya dengan erat.
Ia tak ingin senja kembali merenggut orang yang disayanginya. Ia tak ingin
melewati ratusan senja yang akan datang tanpa emaknya.
#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar