Selasa, 15 September 2020

SENJA

 Senja

  

Mak berhenti saja menjadi penari ya” pinta Udin pada perempuan berkebaya hijau dengan selendang kuning terikat di pinggang yang berdiri di depannya tersebut.

“Kenapa, Din” tanya emaknya pada bocah berusia sepuluh tahun tersebut.

“Udin malu, Mak. Setiap hari Udin di ejek teman-teman Udin” jawab Udin polos pada emaknya.

“Kalau emak tidak menari kita dapat uang darimana, Din? Siapa yang akan mencukupi kebutuhan kita. Sudah! jangan kau dengarkan ucapan teman-temanmu itu!

“Emak kan bisa bekerja yang lain” pinta udin.

Sambil menatap Udin emaknya berbicara lirih, “Udin, kamu tahu emakmu ini tidak tamat sekolah dasar. Pekerjaan apa yang bisa emak dapatkan? Paling hanya jadi pembantu rumah tangga atau buruh cuci dan setrika. Pekerjaan itu membutuhkan loyalitas pada majikan, Udin. Emak tidak bisa izin seenaknya jika emak ada keperluan mendadak.”

“Tapi, Mak…” suara Udin sudah tak dihiraukan lagi oleh emaknya. Ia hanya bisa melihat langkah kaki emaknya semakin jauh meninggalkannya sambil membawa tape recorder kecil sebagai sumber musiknya saat ia menari.

Matahari mulai condong ke barat  namun gang-gang kota masih terasa ramai. Beberapa pengendara sepeda motor tampak melewati gang depan kontrakan Udin dan emaknya tersebut. Sebuah gang sempit yang hanya dapat dilalui satu sepeda motor saja. Beberapa perempuan asik mengobrol diteras-teras mereka yang saling berdekatan, dari pembicaraan kebutuhan harian hingga gosip-gosip tentang sesama warga. Beberapa anak seusia Udin masih tampak ramai berkejaran. Saling sembunyi di sudut-sudut gang. Saat salah satu menemukan maka akan pecahlah teriakan mereka satu sama lain.

Udin memilih menutup pintu dan menuju kamarnya. Ia tak ingin bergabung bersama anak-anak yang sedang bermain tersebut. Baginya ikut bermain sama saja dengan menambah luka. Ya, luka karena olok-olok mereka. Apa salah ia dan ibunya? Apa salah ibunya jika ibunya menjadi seorang penari? Udinpun tak mengerti kenapa teman-temannya tersebut selalu mengolok-oloknya dengan ucapan ‘dasar anak penari’,

Tak ada teman saat senja begini. Hanya TV kecil yang dibeli ayahnya dahulu saat usianya enam tahun. Itulah satu-satunya kenangannya terhadap ayahnya. Masih ingat betul Udin saat itu ayahnya mengajaknya ke toko elektronik Koh Acong setelah menghempaskan sebuah celengan tanah berbentuk ayam jago.

Saat ayahnya masih ada, kehidupan mereka tak sesulit sekarang. Meski ayahnya hanya seorang tukang servis elektronik keliling tapi kebutuhan mereka tidak terlalu kekurangan. Di rumahpun Udin masih ada emaknya yang menemani. Namun sejak senja itu, kehidupan Udin berubah. Senja telah mengambil ayahnya darinya. Sebuah truk yang blong rem nya menabrak ayahnya. Emak Udin pun akhirnya banting stir menjadi penari untuk menghidupi keluarganya. Setiap habis ashar ia akan keluar menuju taman-taman kota yang banyak pengunjungnya. Berpindah dari satu taman ke taman yang lainnya demi uang recehan dari penikmat tariannya tersebut.

Kini sudah ratusan senja ia lewati sejak kepergian ayahnya. Senja selalu membawa suasana haru tersendiri bagi Udin. Senja telah merenggut kebahagiannya dan setiap senja pula ia akan kehilangan emaknya. Menikmati senja sendiri di rumah kotrakannya yang terasa sunyi

Seperti senja kali ini, ingin sebenarnya ia ikut emaknya. Menghabiskan senja bersama emaknya berpindah dari taman yang satu ke taman yang lain. Namun sayang tak pernah sedikitpun emaknya mengizinkannya hal itu.

“Kamu di rumah saja, Din. Banyak bahaya di luar sana yang kamu tidak mengerti. Emak tidak akan bisa mengawasimu terus!” begitulah kalimat yang sering di dengar Udin jika ia ingin ikut emaknya.

Sungguh hidup ini keras! Tak seindah dunia para konglomerat atau pun para pejabat. Bisa makan dengan lauk, sayur dan nasi lengkap saja sudah mewah bagi Udin dan emaknya. Berharap pada tetanggapun tidaklah baik. Satu deret rumah kontrakan di kanan-kirinya semua orang susah. Ada pak Narjo si tukang siomay, Pak Yono si buruh kupas kulit udang, pak Unang hampir sama seperti ibunya penjual jasa namun ia jasa suara alias pengamen dan tetangga tetangga lainnya  Hanya emaknyalah perempuan di komplek rumah kontrakan tersebut yang mungkin bekerja setelah Wak Odah yang penjahit baju tak jauh dari rumahnya

Senja hampir berlalu. Gerimis tipis turun sejak tadi. Suara azan magrib sebentar lagi terdengar. Gelisah hati Udin memikirkan mengapa emaknya belum juga pulang? Sesekali ia menuju pintu depan rumahnya. Menatap keluar berharap melihat perempuan setengah baya berkebaya hijau itu berjalan ke arahnya. Namun harapan itu tak jua ia dapati.

Magrib berlalu dan Isya pun telah tiba. Hati Udin masih saja diliputi kecemasan. Tak biasanya emaknya pulang selarut itu. Apakah emaknya mampir ke sebuah tempat terlebih dahulu? Membeli sesuatu untuknya sebagai kejutan? Ah, tak ingin Udin membayangkan itu. Itu bukan kebiasaan emaknya. Dalam hidupnya , tak pasti setahun sekali itu terjadi.

Lalu kemana emaknya? Apakah terjadi sesuatu pada emaknya? Tiba-tiba ketakutan yang mendalam menyelimuti Udin. Satu-satunya harta berharga yang ia punya adalah emaknya. Kemana ia akan bertanya? Meski ia ke rumah tetangga pasti tak satupun yang akan tahu dimana emaknya.

Malam kian larut. Tak ada tanda-tanda kedatangan emak Udin. Matanya sudah sembab karena menangis semalaman sementara bibir Udin seakan tak kuasa lagi ia gerakkan setelah ribuan doa ia panjatkan. Ia tak ingin ini menjadi senja terakhir bersama emaknya.

Saat azan subuh berkumandang, Udin tersentak terbangun. Ia tak ingat lagi jam berapa ia tertidur semalam, Ia segera sadar emaknya belum juga pulang pagi ini. Diraihnya sajadah kecil diatas meja. Segera ia mengambil wudhu dan menjalankan sholat subuh. Hingga pagi tak beranjak ia dari duduk akhir sholatnya saat tiba-tiba ia mendengar pintu diketuk seseorang.

“Emaaak…..”teriak Udin saat menyadari siapa yang di depan pintu rumahnya tersebut. Tangis Udin pun pecah untuk kesekian kalinya setelah tangisnya semalamaan. Hatinya benar-benar bahagia melihat Emaknya kembali dihadapannya.

“Kenapa Emak tidak pulang semalam Mak? Udin takut, Mak. Udin takut kehilangan emak” tangis Udin makin pecah.

“Loh kenapa dengan kepala emak? kenapa di perban, Mak?” kembali Udin bertanya saat terkejut melihat kondisi emaknya.

“Senja kemarin saat emak hendak pulang, emak mengalami kecelakaan Din. Emak hampir tertabrak mobil. Untung emak cepat menghindar tapi malangnya kepala emak terbentur kaca spion mobil tersebut dengan keras. Emak pingsan, Din”

“Lalu, Mak?”tanya Udin sudah tidak sabar mendengar apa yang terjadi.

“Orang yang menabrak emak membawa emak ke klinik terdekat. Emak baru sadar saat tengah malam. Kata dokter klinik emak tidak apa-apa. Makanya Emak nekat minta pulang pagi ini. Emak kepikiran kamu Din. Semua biaya klinik sudah ditanggung orang yang menabrak emak tersebut” ucap emak Udin.

Udin memeluk emaknya dengan erat. Ia tak ingin senja kembali merenggut orang yang disayanginya. Ia tak ingin melewati ratusan senja yang akan datang tanpa emaknya.

#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERPUSTAKAAN KELILING MASUK SEKOLAH

Pada hari rabu, 31 Agustus 2022 SMPN 1 Terbanggi Besar kedatangan mobil perpustakaan keliling dari perpustakaan daerah Kabupaten Lampung Ten...