Martina
"Besok sekolah ya nduk. Sudah seminggu kamu ndak sekolah. Teman-temanmu banyak yang sudah kangen lo nduk." Suara Bu Yani terasa sangat lembut di samping Martina. Ia biasa memanggil siswa-siswa perempuannya dengan sebutan 'nduk'. Sebuah panggilan yang biasanya dipakai oleh orang jawa kepada anak perempuan.
"Gak bu. Tina gak mau sekolah lagi," jawab siswa kelas VIII sekolah menengah pertama tersebut dengan suara lirih nyaris tak terdengar.
“Kamu gak kangen to sama teman-temanmu? Mereka menanyakanmu lo. Apalagi teman dekatmu Yema. Beberapa kali dia bercerita ke ibu kalau dia berharap bisa melihatmu sekolah lagi," kembali Bu Yani membujuk siswanya tersebut.
Hanya gelengan kepala yang didapat Bu Yani dari siswanya tersebut. Sudah seminggu ini Martina mogok sekolah. Orangtuanya pun hampir putus asa menasehati dan membujuknya untuk berangkat sekolah.
Hari ini Bu Yani sengaja menyempatkan diri mampir ke rumah siswanya tersebut. Bersilaturahim dan menanyakan kabar keluarga Martina dan yang paling penting adalah membujuk Martina untuk mau kembali bersekolah.
"Apa ada yang menyakitimu di sekolah? Atau ada masalah lainnya. Kamu bisa cerita ke ibu Nduk. Nanti ibu carikan solusinya," ucap Bu Yani penuh harap.
"Kalau kamu ndak mau cerita sama ibu, kamu bisa cerita ke ibumu nduk"
Martina masih saja diam. Ia terus menunduk sambil mengggaruk-garuk punggung tangan kirinya.
"Apa kamu mau dipindah kelaskan saja nduk? Biar kamu bisa sekelas dengan teman yang cocok dengnmu? Bu Yani menawarkan solusi sambil menggeser duduknya lebih dekat ke Martina.
"Kamu bisa pilih dari kelas VIIIA sampai VIIIG. Kelas mana yang kamu mau? Yang penting kamu sekolah ya nduk.”
Mulut Martina seperti terkunci. Ia hanya diam menunduk dan tidak merespon kalimat-kalimat Bu Yani. Sementara pandangan Bu Yani tak lepas dari siswanya tersebut. Ada harap yang Bu Yani masih simpan agar Martina mau sekolah lagi. Bagaimanapun masa depan Martina masih panjang. Ia baru kelas VIII SMP. Ia berhak untuk sekolah lebih tinggi lagi.
Satu jam lebih Bu Yani di rumah tersebut. Menghadapi Martina yang tak kunjung mau berbicara. Mentari sudah terlihat menuju ke arah barat. Ia pun berpamitan dan berjanji akan datang kembali di kemudian hari.
Bu Yani pulang dengan tanpa bersemangat. Ia kehabisan usaha untuk membujuk Martina untuk sekolah. Sementara di dalam rumah, Martina beringsut masuk kedalam kamarnya, menutup pintu kamar rapat-rapat, menarik bantal gulingnya dan menutupkan ke wajahnya. Bulir-bulir air dari matanya terasa hangat menetes di pipinya.
12 Agustus 2019
"Nduk, gmn kabarmu? Ibu dengar kamu sekarang makin jarang keluar rumah? Keluar rumah di pagi hari itu sehat lo Nduk. Kamu bisa menyirami bunga, lari-lari pagi, menyapu halaman atau bahkan ke sekolah. Nah, sinar matahari pagi itu baik juga lo buat tubuh kita." Bu Yani terus berbicara sambil menatap wajah Martina yang masih terlihat kurang bersahabat.
"Kita ngobrol diluar yuk. Sepertinya di bawah pohon mangga di depan itu udaranya sejuk dan segar" Bu Yani bergegas menarik lembut tangan Martina.
Martina tampak dengan malas berdiri karena tarikan tangan Bu Yani. Diikutinya gerak langkah Bu Yani. Sengaja Bu Yani mengajaknya keluar biar Martina merasakan udara luar yang lebih segar.
Sudah seminggu ini Martina tidak keluar rumah. Ia lebih banyak mengurung diri di kamar. Orang tuanya pun sudah kehilangan akal untuk membujuknya seperti dulu lagi. Terkadang saat kesabaran orang tuanya teruji, emosipun meluap dan membanjiri isi rumah tersebut. Martina tetap dingin, diam dan tak banyak bicara.
"Nah disini lebih segar kan Nduk?" Kamu ingat di sekolah kita juga ada beberapa tempat yang nyaman buat kalian berdiskusi maupun bersantai saat istirahat."
"Oh ya.. pohon ketapang yang ada di depan perpustakaan sekolah kita itu sudah dibuatkan tempat duduk di bawahnya. Sekarang teman-temanmu banyak yang betah berlama-lama beristirahat disana." Bu Yani berusaha menceritakan kondisi sekolah mereka sekarang bermaksud agar Martina ingat masa-masa di sekolah.
"Kantin sekolah kita juga sudah direnovasi lo Nduk. Nih lihat fotonya di HP ibu." Bu Yani menunjukkan foto-foto kantin yang sekarang.
"Lebih luas dan bersih kan Nduk?"
Martina hanya mengangguk.
“Oh ya Nduk, 2 minggu lagi sekolah kita akan mengadakan festival seni. Ibu dengar kamu bagus dalam melukis. Kamu ikut ya. Siapa tahu kamu bisa juara. Gimana?" Bu Yani masih terus berbicara dengan lembut meski tak ada respon dari Martina.
Entah apa yang ada di pikiran Martina. Ia masih saja diam. Hanya sesekali ia mengangguk mengiyakan kalimat-kalimat Bu Yani. Ini kali kedua Bu Yani datang ke rumahnya. Namun sepertinya Martina makin tak bersemangat bercerita tentang sekolahnya.
Martina adalah anak tunggal. Ia terbiasa sendiri di rumah jika ayah dan ibunya harus berdagang di pasar. Ayahnya sudah akan berangkat ke pasar setelah subuh. Membuka toko kecil di sudut pasar, berdagang kebutuhan pokok. Sementara ibunya akan menyusul setelah Martina berangkat ke sekolah.
Sepulang dari sekolah Martina akan langsung makan siang yang sudah dipersiapkan ibunya sejak pagi. Tak ada yang menemaninya sejak ia sudah SMP ini. Saat SD dulu, sepulang sekolah Martina ditemani seorang pembantu yang memang di gaji oleh ibunya khusus menemaninya dari pulang sekolah sampai kedua orang tuanya pulang selepas ashar. Tapi sejak SMP orang tuanya tidak mencari pembantu lagi karena dianggapnya Martina sudah bisa mandiri.
Di sekolahpun Martina termasuk anak yang pendiam. Ia hanya mempunyai beberapa teman akrab. Nilai-nilainya pun tergolong cukup. Tidak terlalu membanggakan. Tak ada kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya walaupun beberapa kali wali kelas menyarankan untuk mengikuti ekskul seni lukis karena ia berbakat dalam hal menggambar.
"Ibu pulang dulu ya, Nduk. Nanti kapan-kapan ibu mampir lagi. Besok kalau kamu sudah siap sekolah, hubungi ibu ya. Nanti ibu bakal mampir sebelum jam 7. Kamu berangkat bareng ibu saja ya," kalimat Bu Yani mengakhiri kunjungannya hari itu. Kalimat yang entah didengar Martina ataupun tidak.
Hari makin senja. Sebentar lagi mentari tenggelam. Nampak beberapa penduduk pulang dari ladang. Bu Yani menarik gas motornya dengan kecepatan sedang. Berharap segera sampai di rumahnya.
20 Agustus 2019
Genap dua puluh hari Martina tidak bersekolah. Pihak sekolahpun sudah membahasnya di sela-sela rapat rutin yang diadakan beberapa hari lalu. Beberapa teman Martina sudah ditanyai oleh Bu Yani. Sedikit sekali informasi yang bisa digali tapi Bu Yani mendapat informasi jika beberapa teman Martina sering mengolok-olok Martina karena usianya yang hampir 16 tahun tapi baru kelas delapan sekolah menengah pertama.
Dari guru bimbingan konseling tidak ada catatan pelanggaran yang dilakukan oleh Martina selama di SMP. Namun ketidakhadiran Martina dan beberapa penilaian harian yang tidak diikutinya hampir 20 hari ini bisa saja menjadi batu sandungan bagi Martina. Oleh karena itu hari ini Bu Yani bertekad kembali ke rumah Martina.
Tepat didepan rumah bercat biru dengan teras cukup luas dan beberapa pohon rindang dihalamannya Bu Yani berhenti. Mematikan sepeda motornya dan memarkirnya tepat d ibawah pohon kelengkeng yang sedang berbunga lebat. Bergegas seorang perempuan berusia empat puluhan menyambut kedatangan Bu Yani. Mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Martina sudah bulat tidak mau sekolah lagi, Bu. Kami sudah kehabisan akal membujuknya" ucap Bu Narto, ibunya Martina.
“Sudah dibujuk, Bu? ditanya lambat-lambat, diajak diskusi pelan-pelan, mudah-mudahan Martina mau. Kalau Martina mau pindah sekolah kami akan memfasilitasinya asal Martina mau sekolah lagi," ucap Bu Yani guru bimbingan konseling disekolah kami.
"Sudah, Bu. Tetep ndak mau. Sudah kami tawari pindah ke sekolah yang dekat sini ndak mau juga. Kami juga tawari keluar kota nanti ikut pamannya biar suasananya baru juga ndak mau. Saya hampir putus asa, Bu" jawab Bu Narto berkaca-kaca.
Sudah dua kali Bu Narto ke sekolah. Memenuhi panggilan sekolah untuk menemui Bu Yani dan guru bimbingan konseling. Sementara ini kali ketiga Bu Yani mampir ke rumah Bu narto. Berharap Martina mau bercerita kenapa dia tidak mau ke sekolah lagi.
"Nduk, boleh Ibu tanya sesuatu?" Bu Yani membuka pembicaraan setelah ia mohon izin pada Bu Narto untuk berbicara dengan Martina.
Martina hanya mengangguk.
"Apa cita-cita Martina?" tanya Bu Yani
Martina hanya diam.
"Kamu ingin jadi apa, Nduk?"
Martina hanya menggeleng
"Lo kok gak tau. Harus ada cita-cita biar hidup kita ini penuh semangat?"
"Kamu ingin gak jadi polwan?"
Lagi-lagi Martina menggeleng.
"Kalau jadi guru seperti Ibu?
Gelengan Martina tambah kencang
"Bagaimana kalau jadi bu bidan?”
Martina sedikit melirik Bu Yani kemudian mengangguk.
Bu Yani tersenyum. Ada sedikit bahagia menyelinap di hatinya. Setidaknya masih ada sedikit harapan dalam hati Martina.
"Kalau kamu ingin jadi bidan besok sekolah ya, Nduk"?
Martina menggeleng.
"Lo gimana bisa jadi bidan kalau kamu gak mau sekolah."
"Teman-teman Martina jahat!!" suara Martina akhirnya keluar.
"Jahat gimana to, Nduk" tanya Bu Yani pelan.
"Pokoknya jahat. Setiap hari saya di bully, Bu" kini suara Martina semakin meninggi.
"Ya nanti ibu dan sekolah akan menasehati teman-temanmu ya. Nanti akan di panggil teman-temanmu itu untuk dilakukan pembinaan." Bu Yani memberi harapan ke Martina sambil mengelus kepalanya.
"Ibu tidak tahu, bertahun-tahun Tina pendam Bu. Dari sekolah dasar Tina sering diejek teman-teman karena Tina lemah dalam pelajaran. Tina tidak naik kelas dua kali di SD, Bu. Selama di SD Tina di bully teman-teman Tina." Martina menyeka air matanya.
"Tidak ada yang perduli Tina, Bu" tangis Martina semakin menjadi.
"Kini saat di SMP Tina makin di bully juga, Bu. Teman-teman Tina bilang sudah tua kok masih SMP. Tina itu seharusnya sudah SMA, Bu" lanjut Martina
"Siapa Bu yang belain Tina? Siapa yang perduli dengan Tina? Tidak ada, Bu" kembali Martina menumpahkan perasaannya. Sesak di dadanya selama ini ia tumpahkan pada gurunya tersebut.
Bu Yani sempat kehilangan kata-kata menyaksikan luapan hati Marlina yang selama ini terpendam. Kesedihan yang ia tahan bertahun-tahun akhirnya meledak juga hari ini. Ya, ia hanya diam selama ini di sekolah. Mengalah akan bully-an teman-temannya. Sekuat tenaga ia menyimpannya berharap teman-temannya akan menyudahinya. Tak pernah ia ceritakan pada gurunya, pada ayah ibunya maupun pada teman dekatnya, Yema. Kini ia merasa sudah tidak kuat lagi. Bagaimanapun ia harus bercerita kepada Bu Yani karena ia tahu Bu Yani adalah salah satu guru yang paling mengharapkan ia kembali ke sekolah.
Isak tangis Martina mulai mereda. Bu Yani kini tahu apa yang membuat Martina seolah trauma untuk datang ke sekolah, dibisikkannya beberapa kalimat didekat telinga Martina. Ia berharap itu akan memberi kekuatan pada anak didiknya tersebut.
23
Agustus 2019
“Bu Guru, mohon maaf jika Tina tidak sempat bertemu Ibu lagi. Terimakasih ibu sudah meluangkan banyak waktu untuk Tina. Sekarang Tina sudah ada di Solo. Tina ikut paman. Besok Ibu Martina akan ke sekolah mengurus surat-surat pindah sekolah Tina. Terima kasih ibu. Mohon doanya Tina bisa sekolah dengan baik di sekolah yang baru. Semoga Tina bisa menjadi bidan seperti cita-cita Tina selama ini.”
Surat dari Martina yang dititipkan
melalui salah satu temannya tersebut masih dipegang Bu Yani saat tanpa terasa
ada bulir-bulir hangat menetes dari kedua matanya.
#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar