My Twitter Tread
Kisah hidupku tak seindah cinderalla yang mulanya sedih
tapi berakhir bahagia.
“Mau cerita apa nih, Kak,” tanya
akun twitter @sashacubby.
“Alah paling-paling cuma pengen
viral,” komen akun @netizenibukota.
“Hari gini masih ngomongin
cinderella?. Bangun woi..bangun!” timpal akun @cintakia.
“Ceritain
dong, Kak,” tulis akun @penyukakucing.
Hari itu, aku baru saja lulus SMA sekitar
satu bulan. Kuantar Mas Bram ke tempat dimana ia sudah ditunggu beberapa temannya
yang akan diberangkatkan menjadi TKW. Kata agen penyalur TKW mereka akan ditempatkan
di sebuah bengkel ternama yang mempunyai banyak cabang. Kurelakan kepergian Mas
Bram meski terasa sangat berat saat itu. Tapi aku percaya, Mas Bram pasti
kembali lagi dan kami akan bersama lagi.
“Cerita cinta nih kayaknya” ujar akun @Noprian.
“Oalah mau curhat nih ceritanya”
tulis akun @entahsiapa.
“Wah pasti sedih banget ya kakak
ditinggal Mas Bram nya” tulis @sashacubby.
“Jauh-jauh
keluar negeri cuma buat kerja di bengkel, Kak? Di Indonesia juga banyak kali
bengkel” tulis akun @GadisIdaman.
Sebenarnya berat
aku melepasnya. Aku kenal Mas Bram sejak SMA dan resmi pacaran saat kelas dua
akhir. Waktiu itu belum ada hp dan pacaran waktu itu tak sebebas sekarang.
Waktu itu bisa berangkat bareng dan pulang bareng saja sudah senang. Ketemu
Cuma di sekolah. Tidak pernah Mas Bram ke rumah atau mengajak keluar seperti
anak-anak sekarang. Kertas dan pena jadi saksi jika ingin berbicara banyak.
Pagi hari sebelum bel masuk atau pulang sekolah aku atau Mas Bram akan memberi
kertas yang sudah kami tulis di rumah atau di kelas. Isinya bisa ungkapan
perasaan cinta ala anak SMA ataupun yang lainnya.
Mas
Bram orangnya ganteng. Salah satu idola di SMA ku. Wakil ketua OSIS saat itu.
Aku tahu banyak yang suka dengan Mas Bram. Entah apa yang membuat dia
memilihku, katanya sih lucu. Namun sayang Mas Bukan dari keluarga mampu makanya
setamat SMA ia tidak melanjutkan kuliah tapi mendaftar jadi TKW. Tapi mengapa
saat itu aku sangat takut jika berjauhan dengan Mas Bram.
“Seganteng apa sih Mas Bram nya,
Kak. Kenalin aku dong hehehe “ tulis akun @Nadia
“Ceritanya long distance
relationship ya, Kak?” timpal akun @Lambememble.
“Rame juga yang komen. Nggak ada
yang mau mutualan sama saya apa?” ungkap akun @RendyCoy. Mutualan
artinya mengajak berteman atau saling followback akun twitter
masing-masing.
“Mas Bram nya setia gak, Kak?
Hati-hati lo banyak pecokor alias perebut cowok orang,” tulis
@birunyacinta.
“Wah ceritanya sama seperti cerita
saya. Tapi ini kebalikannya. Saya yang jadi TKW dan cowok saya yang nunggu di
Indonesia,” ungkap akun @mahadewi22.
Ternyata
pacaran jarak jauh seru juga saat itu. Ada rindu yang tak pernah terobati sepenuhnya,
jadi hari-hari penuh rindu. Aku dan Mas Bram sering saling berkirim surat. Saat
saling menerima surat balasan rasanya senang luar biasa. Suratnya bakal dibaca berulang-ulang, ditaruh
dibawah bantal dan akan dibaca lagi dan lagi. Kontrak Mas Bram dua tahun
sekali. Setiap habis kontraknya maka di perpanjang lagi.
“Wah
beruntung sekali ya Kakak dapet Mas Bramnya. PAP dong fotonya, Kak,” tulis
@bellabandung. PAP adalah istilah post a picture. Sebuah istilah yang
digunakan bila ingin meminta gambar atau foto.
“Iya Kak, PAP dong. Ganteng mana
sama Nicholas Saputra. hehehe” tulis akun @anaksholehah.
“Terus gimana cerita selanjutnya,
Kak? Mas Bramnya pulang? atau kecantol bule?” tanya akun @cewekmanis.
Dua tahun pertama
semua berjalan lancar. Pernah sekali Mas Bram berkirim foto dalam suratnya.
Ah..tambah ganteng saja Mas Bram. Dimana pula ia berfoto tersebut. Kubelikan
bingkai kecil di pasar untuk foto Mas Bram tersebut. Kutaruh di atas meja kecil
di samping tempat tidurku. Setiap malam kupandangi. Kadang-kadang kuajak bicara
sendiri. Begitulah cinta kadang bisa membuat kita gila.
Setelah dua tahun disana Mas Bram
memperpanjang kontraknya. Mas bram bilang ia paling sedikit akan berada disana enam
tahun biar modalnya cukup untuk melamarku dan buat buka usaha. Menunggu enam
tahun bagiku cukup lama tapi demi cita-cita kami aku rela.
“Hebat ya, Kakak bisa setia begitu. Pasti Mas Bram nya sangat beruntung dapatin Kakak” tulis akun @artisKW
“Kalau aku ogah ah….mending cari
yang bisa ketemu tiap hari hehe,” timpal akun @cewekgibah.
“Ini lagi ngomongin apa sih? Bukan
lagi ngomongin gue kan hihihi?” tulis akun @bosmuda.
Tahun ketiga LDR-an sama Mas Bram datang cobaan
buat hubungan kami. Ada cowok suka sama aku. Anak tuan tanah. Sawah orang
tuanya dimana-mana. Punya kendaraan roda empat pada jaman itu. Jarang-jarang lo
yang punya mobil saat itu. Pak lurah saja cuma punya motor Honda CB yang bisa buat dia bangga se
kampung kami.
Sudah beberapa kali dia main ke
rumahku. Cerita sana cerita sini tapi aku masih menganggapnya teman. Beberapa
kali ia mengutarakan maksud hatinya tapi aku tetap menolaknya dengan baik. Meskipun
ia tajir, aku tak mau menghianati Mas Bram. Aku dan Mas Bram sama-sama saling
mencintai. Kami sudah mempunyai komitmen. Tidak ada yang bisa mengganggu cinta
kami.
“Oalah sudah di depan mata kok ditolak to, Kak! Rezeki gak datang dua kali lo,!” ujar @netijenjulid.
“Ia nih. Kalo aku sudah ku embat
tuh cowok tajir. Ngapain nungguin kuman di seberang lautan. Mending gajah
di depan mata udah jelas hahaha,” tulis akun @pejuangcinta.
“Dasar kalian kompor mleduk.
Cewek setia gini jarang-jarang lo kok malah disuruh embat yang di depan
mata,” timpal @priatulen.
“Kalau
jodoh gak kemana kok, santai aja” tulis @burhansiomay.
Meski si cowok
tajir sudah bilang ke orang tuaku tentang perasaannya padaku tetap saja aku
menolaknya. Tiga bulan dari itu aku dengar si cowok tajir mendapatkan belahan
hatinya, mereka menikah. Beberapa temanku menyalahkan keputusanku namun aku
biasa-biasa saja karena memang aku tidak suka. Aku tidak menyesal. Mas Bram
tetap pilihanku.
Awal tahun ke empat aku masih
sering berkirim surat ke Mas Bram. Bercerita kondisiku di Indonesia. Bercerita
ini dan itu. Mas Bram pun masih seperti awal selalu membalas suratku dengan
mesra meskipun sering terlambat. Mas Bram bilang pekerjaannya sekarang makin
banyak sulit cari waktu keluar untuk mengirimkan surat.
Surat-surat dari Mas Bram
kukumpulkan dari awal. Ku taruh di tempat khusus. Tak ada yang hilang satupun
surat dari Mas Bram. Bahkan amplopnya pun tah ada yang rusak parah karena aku
selalu membukanya dengan hati-hati. Kadang jika aku kangen dan ada waktu luang
kubuka-buka kembali surat surat tersebut. Kubaca kembali sambil senyum-senyum
sendiri membayangkan Mas Bram.
“Boleh dong Kak posting salah satu suratnya di thread
kakak ini. Pengen lihat surat jaman dahulu seperti apa hehe,” tulis akun @fenitasari.
“Kisahnya bagus nih kak buat di
jadiin FTV,” tulis @producercinta.
“Sekalian aja kak jadiin film layar
lebar hahaha,” timpal akun @princegading.
“By
the way surat-surat Kakak disimpan juga gak ya sama Mas Bram nya??” tanya
akun @julehagadiskota.
Akhir tahun ke
empat Mas Bram kembali berkirim surat. Mas Bram bilang ia tidak akan
melanjutkan kontrak kerjanya. Ia akan pulang ke tanah air. Katanya orang tuanya
meminta ia pulang. Aku sempet kaget tapi aku menghargai keputusannya. Di satu
sisi aku juga senang bakal bisa ketemu Mas Bram lebih cepat dari rencana kami
sebelumnya. Aku sudah membayangkan bagaimana ya reaksi kami bertemu lagi
setelah empat tahun berpisah.
“Wah janur kuning bakal segera melengkung nih,” tulis @julehagadiskota.
“Sepertinya Mas Bram nya gak kuat
pisah lama-lama, Kak hehehe” guyon akun @pejuangcinta lewat tweetnya.
“Sah…Halal” @fenitasari
mengomentari.
Dua bulan sejak
surat terakhir Mas Bram, ia kembali berkirim surat kepadaku. Kulihat alamat
suratnya bukan dari luar negeri tapi sudah dari Indonesia. Tepatnya dari alamat
rumahnya. Kenapa Mas Bram kirim surat kalau sudah ada di Indonesia tanyaku saat
itu. Rumah Mas Bram dan Rumahku masih di satu desa saat kami di bangku SMA tapi
setelah kami lulus SMA orangtua Mas Bram pindah tempat tinggal. Walau beda
kecamatan tapi tidak terlalu jauh.
Harusnya Mas Bram ke rumahku saja.
Kenapa harus berkirim surat?. Kubuka perlahan-lahan surat Mas Bram tersebut.
Seperti biasa ada rasa deg-deg an namun tidak sabar untuk membacanya.
“Retno, sebelumnya Mas minta maaf jika melalui surat ini Mas membuatmu kecewa. Bukan maksud Mas ingin menyakitimu tapi mas tidak ada daya menolak keinginan orang tua Mas. Retno, Mas minta maaf jika Mas tidak bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita. Orang tua Mas menjodohkan Mas dengan gadis pilihan mereka oleh karena itu Mas diminta untuk pulang ke Indonesia segera. Sekali lagi Mas minta maaf. Semoga Retno mendapatkan pengganti Mas yang lebih baik dari Mas. Tertanda Bramantio”
Itu
isi surat terakhir Mas Bram. Seperti mimpi. Tak ada badai ataupun topan
cita-cita dan harapanku selama ini hancur menjadi berkeping-keping. Semudah itu
Mas Bram memutuskan apa yang sudah kami bina selama bertahun-tahun. Tak
pernahkah Mas Bram mengingat janji-janji kami. Aku benar-benar terpuruk saat
itu hingga rasanya sampai berbulan-bulan aku baru bisa menerima kenyataan.
#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar