Selasa, 06 Oktober 2020

My Twitter Tread

 My Twitter Tread

 

  

Kisah hidupku tak seindah cinderalla yang mulanya sedih tapi berakhir bahagia.

 

“Mau cerita apa nih, Kak,” tanya akun twitter @sashacubby.

“Alah paling-paling cuma pengen viral,” komen akun @netizenibukota.

“Hari gini masih ngomongin cinderella?. Bangun woi..bangun!” timpal akun @cintakia.

“Ceritain dong, Kak,” tulis akun @penyukakucing.

   Hari itu, aku baru saja lulus SMA sekitar satu bulan. Kuantar Mas Bram ke tempat dimana ia sudah ditunggu beberapa temannya yang akan diberangkatkan menjadi TKW. Kata agen penyalur TKW mereka akan ditempatkan di sebuah bengkel ternama yang mempunyai banyak cabang. Kurelakan kepergian Mas Bram meski terasa sangat berat saat itu. Tapi aku percaya, Mas Bram pasti kembali lagi dan kami akan bersama lagi.

“Cerita cinta nih kayaknya” ujar akun @Noprian.

“Oalah mau curhat nih ceritanya” tulis akun @entahsiapa.

“Wah pasti sedih banget ya kakak ditinggal Mas Bram nya” tulis @sashacubby.

“Jauh-jauh keluar negeri cuma buat kerja di bengkel, Kak? Di Indonesia juga banyak kali bengkel” tulis akun @GadisIdaman.

             Sebenarnya berat aku melepasnya. Aku kenal Mas Bram sejak SMA dan resmi pacaran saat kelas dua akhir. Waktiu itu belum ada hp dan pacaran waktu itu tak sebebas sekarang. Waktu itu bisa berangkat bareng dan pulang bareng saja sudah senang. Ketemu Cuma di sekolah. Tidak pernah Mas Bram ke rumah atau mengajak keluar seperti anak-anak sekarang. Kertas dan pena jadi saksi jika ingin berbicara banyak. Pagi hari sebelum bel masuk atau pulang sekolah aku atau Mas Bram akan memberi kertas yang sudah kami tulis di rumah atau di kelas. Isinya bisa ungkapan perasaan cinta ala anak SMA ataupun yang lainnya.

             Mas Bram orangnya ganteng. Salah satu idola di SMA ku. Wakil ketua OSIS saat itu. Aku tahu banyak yang suka dengan Mas Bram. Entah apa yang membuat dia memilihku, katanya sih lucu. Namun sayang Mas Bukan dari keluarga mampu makanya setamat SMA ia tidak melanjutkan kuliah tapi mendaftar jadi TKW. Tapi mengapa saat itu aku sangat takut jika berjauhan dengan Mas Bram.

“Seganteng apa sih Mas Bram nya, Kak. Kenalin aku dong hehehe “ tulis akun @Nadia

“Ceritanya long distance relationship ya, Kak?” timpal akun @Lambememble.

“Rame juga yang komen. Nggak ada yang mau mutualan sama saya apa?” ungkap akun @RendyCoy. Mutualan artinya mengajak berteman atau saling followback akun twitter masing-masing.

“Mas Bram nya setia gak, Kak? Hati-hati lo banyak pecokor alias perebut cowok orang,” tulis @birunyacinta.

“Wah ceritanya sama seperti cerita saya. Tapi ini kebalikannya. Saya yang jadi TKW dan cowok saya yang nunggu di Indonesia,” ungkap akun @mahadewi22.

             Ternyata pacaran jarak jauh seru juga saat itu. Ada rindu yang tak pernah terobati sepenuhnya, jadi hari-hari penuh rindu. Aku dan Mas Bram sering saling berkirim surat. Saat saling menerima surat balasan rasanya senang luar biasa.  Suratnya bakal dibaca berulang-ulang, ditaruh dibawah bantal dan akan dibaca lagi dan lagi. Kontrak Mas Bram dua tahun sekali. Setiap habis kontraknya maka di perpanjang lagi.

“Wah beruntung sekali ya Kakak dapet Mas Bramnya. PAP dong fotonya, Kak,” tulis @bellabandung. PAP adalah istilah post a picture. Sebuah istilah yang digunakan bila ingin meminta gambar atau foto.

“Iya Kak, PAP dong. Ganteng mana sama Nicholas Saputra. hehehe” tulis akun @anaksholehah.

“Terus gimana cerita selanjutnya, Kak? Mas Bramnya pulang? atau kecantol bule?” tanya akun @cewekmanis.

             Dua tahun pertama semua berjalan lancar. Pernah sekali Mas Bram berkirim foto dalam suratnya. Ah..tambah ganteng saja Mas Bram. Dimana pula ia berfoto tersebut. Kubelikan bingkai kecil di pasar untuk foto Mas Bram tersebut. Kutaruh di atas meja kecil di samping tempat tidurku. Setiap malam kupandangi. Kadang-kadang kuajak bicara sendiri. Begitulah cinta kadang bisa membuat kita gila.

             Setelah dua tahun disana Mas Bram memperpanjang kontraknya. Mas bram bilang ia paling sedikit akan berada disana enam tahun biar modalnya cukup untuk melamarku dan buat buka usaha. Menunggu enam tahun bagiku cukup lama tapi demi cita-cita kami aku rela.

“Hebat ya, Kakak bisa setia begitu. Pasti Mas Bram nya sangat beruntung dapatin Kakak” tulis akun @artisKW

“Kalau aku ogah ah….mending cari yang bisa ketemu tiap hari hehe,” timpal akun @cewekgibah.

“Ini lagi ngomongin apa sih? Bukan lagi ngomongin gue kan hihihi?” tulis akun @bosmuda.

             Tahun ketiga LDR-an sama Mas Bram datang cobaan buat hubungan kami. Ada cowok suka sama aku. Anak tuan tanah. Sawah orang tuanya dimana-mana. Punya kendaraan roda empat pada jaman itu. Jarang-jarang lo yang punya mobil saat itu. Pak lurah saja cuma punya motor Honda CB yang bisa buat dia bangga se kampung kami.

             Sudah beberapa kali dia main ke rumahku. Cerita sana cerita sini tapi aku masih menganggapnya teman. Beberapa kali ia mengutarakan maksud hatinya tapi aku tetap menolaknya dengan baik. Meskipun ia tajir, aku tak mau menghianati Mas Bram. Aku dan Mas Bram sama-sama saling mencintai. Kami sudah mempunyai komitmen. Tidak ada yang bisa mengganggu cinta kami.

“Oalah sudah di depan mata kok ditolak to, Kak! Rezeki gak datang dua kali lo,!” ujar @netijenjulid.

“Ia nih. Kalo aku sudah ku embat tuh cowok tajir. Ngapain nungguin kuman di seberang lautan. Mending gajah di depan mata udah jelas hahaha,” tulis akun @pejuangcinta.

“Dasar kalian kompor mleduk. Cewek setia gini jarang-jarang lo kok malah disuruh embat yang di depan mata,” timpal @priatulen.

“Kalau jodoh gak kemana kok, santai aja” tulis @burhansiomay.

             Meski si cowok tajir sudah bilang ke orang tuaku tentang perasaannya padaku tetap saja aku menolaknya. Tiga bulan dari itu aku dengar si cowok tajir mendapatkan belahan hatinya, mereka menikah. Beberapa temanku menyalahkan keputusanku namun aku biasa-biasa saja karena memang aku tidak suka. Aku tidak menyesal. Mas Bram tetap pilihanku.

             Awal tahun ke empat aku masih sering berkirim surat ke Mas Bram. Bercerita kondisiku di Indonesia. Bercerita ini dan itu. Mas Bram pun masih seperti awal selalu membalas suratku dengan mesra meskipun sering terlambat. Mas Bram bilang pekerjaannya sekarang makin banyak sulit cari waktu keluar untuk mengirimkan surat.

             Surat-surat dari Mas Bram kukumpulkan dari awal. Ku taruh di tempat khusus. Tak ada yang hilang satupun surat dari Mas Bram. Bahkan amplopnya pun tah ada yang rusak parah karena aku selalu membukanya dengan hati-hati. Kadang jika aku kangen dan ada waktu luang kubuka-buka kembali surat surat tersebut. Kubaca kembali sambil senyum-senyum sendiri membayangkan Mas Bram.

 

“Boleh dong Kak posting salah satu suratnya di thread kakak ini. Pengen lihat surat jaman dahulu seperti apa hehe,” tulis akun @fenitasari.

“Kisahnya bagus nih kak buat di jadiin FTV,” tulis @producercinta.

“Sekalian aja kak jadiin film layar lebar hahaha,” timpal akun @princegading.

By the way surat-surat Kakak disimpan juga gak ya sama Mas Bram nya??” tanya akun @julehagadiskota.

             Akhir tahun ke empat Mas Bram kembali berkirim surat. Mas Bram bilang ia tidak akan melanjutkan kontrak kerjanya. Ia akan pulang ke tanah air. Katanya orang tuanya meminta ia pulang. Aku sempet kaget tapi aku menghargai keputusannya. Di satu sisi aku juga senang bakal bisa ketemu Mas Bram lebih cepat dari rencana kami sebelumnya. Aku sudah membayangkan bagaimana ya reaksi kami bertemu lagi setelah empat tahun berpisah.

“Wah janur kuning bakal segera melengkung nih,” tulis @julehagadiskota.

“Sepertinya Mas Bram nya gak kuat pisah lama-lama, Kak hehehe” guyon akun @pejuangcinta lewat tweetnya.

 “Sah…Halal” @fenitasari mengomentari.

             Dua bulan sejak surat terakhir Mas Bram, ia kembali berkirim surat kepadaku. Kulihat alamat suratnya bukan dari luar negeri tapi sudah dari Indonesia. Tepatnya dari alamat rumahnya. Kenapa Mas Bram kirim surat kalau sudah ada di Indonesia tanyaku saat itu. Rumah Mas Bram dan Rumahku masih di satu desa saat kami di bangku SMA tapi setelah kami lulus SMA orangtua Mas Bram pindah tempat tinggal. Walau beda kecamatan tapi tidak terlalu jauh.

Harusnya Mas Bram ke rumahku saja. Kenapa harus berkirim surat?. Kubuka perlahan-lahan surat Mas Bram tersebut. Seperti biasa ada rasa deg-deg an namun tidak sabar untuk membacanya.

                   Retno, sebelumnya Mas minta maaf jika melalui surat ini Mas membuatmu kecewa. Bukan maksud Mas ingin menyakitimu tapi mas tidak ada daya menolak keinginan orang tua Mas. Retno, Mas minta maaf jika Mas tidak bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita. Orang tua Mas menjodohkan Mas dengan gadis pilihan mereka oleh karena itu Mas diminta untuk pulang ke Indonesia segera. Sekali lagi Mas minta maaf. Semoga Retno mendapatkan pengganti Mas yang lebih baik dari Mas. Tertanda Bramantio”

             Itu isi surat terakhir Mas Bram. Seperti mimpi. Tak ada badai ataupun topan cita-cita dan harapanku selama ini hancur menjadi berkeping-keping. Semudah itu Mas Bram memutuskan apa yang sudah kami bina selama bertahun-tahun. Tak pernahkah Mas Bram mengingat janji-janji kami. Aku benar-benar terpuruk saat itu hingga rasanya sampai berbulan-bulan aku baru bisa menerima kenyataan.


#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERPUSTAKAAN KELILING MASUK SEKOLAH

Pada hari rabu, 31 Agustus 2022 SMPN 1 Terbanggi Besar kedatangan mobil perpustakaan keliling dari perpustakaan daerah Kabupaten Lampung Ten...