Track
“Ayo, Dino kejar saya kalau bisa! Berlarilah
yang cepat!” teriak Teo sambil berlari menoleh kearah Dino yang terengah-engah
berlari jauh di belakang Teo.
“Ah..payah kau, Dino. Kakimu itu
itu terlalu manja dan tak pernah diajak lari jauh” lagi-lagi teriakan Teo
diarahkan pada Dino.
“Ayo kejar aku kalau kau bisa,
Dino”? Pasti kau tak bisa mengejarku kaukan lemah, Dino hahaha…” teriak Teo
terbahak-bahak.
Dino terus berlari sekuat tenaga.
Siswa kelas lima sekolah dasar tersebut tak memperdulikan ejekan temannya
tersebut. Keringat telah membasahi seluruh tubuh kurusnya tersebut. Ia tak
memperdulikan ejekan-ejekan yang dilontarkan oleh Teo. Yang dipikirkan Dino
adalah bagaimana ia bisa sampai di garis finish dengan secepatnya. Memperbaiki
rekor atas dirinya sendiri adalah tujuannya.
Dino paham jika ia tak akan bisa
mengalahkan teman-temannya. Apalah artinya ia jika dibandingkan dengan
teman-temannya. Setiap lari sejauh dua kilometer dari sekolahnya mengelilingi
jalan desa dan kembali lagi ke sekolahnya selalu menempatkan ia diurutan-urutan
terakhir. Meskipun ia tahu jauh dibelakangnya masih ada beberapa siswa yang
menyerah. Mereka memilih berjalan daripada tetap berlari padahal jika ia mau
terus berlari ia akan lebih baik dari Dino.
Kegiatan lari ini dilakukan satu
semester sekali pada jam pelajaran olahraga. Pak Handoyo sebagai guru olahraga
akan selalu memberi beberapa wejangan-wejangan sebelum mereka berlari.
“Setelah Bapak tiup peluit silahkan
kalian berlari dari sekolah ini melalui jalan yang tadi sudah bapak sebutkan.
Tidak ada yang boleh mencari jalan pintas. Jika ada yang ketahuan mencari jalan
pintas maka Bapak akan diskualifikasi dan tidak akan ada nilainya untuk mata
pelajaran olahraga semester ini, ” ucap Pak Handoyo.
“Kemudian satu pesan bapak lagi
saat kalian lari kalian tidak boleh merusak atau mengganggu apapun milik warga
yang kalian temui di jalan. Apakah kalian paham?” tanya Pak Handoyo sambil
melihat kami satu persatu.
“Pahaaam, Pak!” ucap siswa-siswa
kelas lima tersebut hampir bersamaan.
Pritttt……. Peluit dibunyikan oleh
Pak Handoyo dengan kuat. Semua berlari
dengan secepat kilat. Masing-masing ingin menunjukkan bahwa merekalah yang paling
hebat dalam berlari. Padahal saat setengah perjalanan dilalui sudah akan nampak
kekuatan mereka masing-masing. Beberapa siswa mulai kelelahan. Mereka tampak
berjalan santai menikmati pemandangan di kanan-kirinya dan tak menghiraukan
lagi tujuan akhir agar sampai ditujuan lebih dahulu dan mendapatkan nilai yang
terbaik.Namun ada juga siswa seperti Dino yang terus berlari meskipun ia kalah
cepat dengan beberapa siswa-siswa yang lainnya yang memang terlahir dengan
kaki-kaki yang kuat untuk berlari.
“Sudah Dino mending kau jalan saja!
Tak akan dapat kau mendahuluiku” ejek Teo yang masih berada di depan Dino.
“Sia-sia kau lari kepayahan seperti
itu, menyerahlah saja!” lagi-lagi Teo berteriak ke arah Dino.
Dino hanya tersenyum kecut. Ia tahu
tak ada gunanya menanggapi Teo. Toh ia juga pasti tidak mampu
mengalahkannya. Dino hanya bertekad untuk tidak kalah pada dirinya sendiri. Ia
tidak ingin menghentikan larinya dan menuruti bisikan-bisikan yang seolah mengajaknya
untuk berjalan saja tanpa harus berlari kelelahan. Dino bertekad waktu
berlarinya semester ini harus lebih baik dari waktu berlarinya semester lalu.
Itu sudah kemajuan untuk dirinya sendiri dan itu sudah cukup.
Bagi Dino setiap orang mempunyai
kelebihan dan keurangan masing-masing. Kelebihan yang kita punyai harus terus
kita jaga sedangkan kekurangan kita harus kita perbaiki sedikit demi sedikit.
Kita tahu dimana kelebihan dan kekurangan kita masing-masing. Seperti Dino ia
paham jika untuk urusan fisik ia kalah jauh dibandingkan teman-temannya namun
jika urusan akademik ia bukanlah yang terakhir. Banyak prestasi yang bisa ia
banggakan jika ia mau namun baginya menjadi dirinya sendiri seperti ini adalah
pilihan terbaiknya.
Pemikiran semacam itulah yang
membuat Dino tidak mudah untuk dijatuhkan. Semangat yang datang bukan dari
orang lain tapi justru dari dirinya sendiri. Itulah modal terbesar dalam
hidupnya. Ucapan-ucapan dan gesture tubuh Teo yang mengejek dirinya tak
dianggapnya beban. Baginya Teo melakukan itu karena ia tidak mempunyai prinsip
sama seperti dirinya. Ya Teo memang jago soal lari tapi sayang ia luput untuk
memperbaiki kekurangan dirinya disisi lain.
“Sepertinya kau semangat sekali
berlari tadi, Dino? Kupikir kau bakal jadi yang pertama sampai di sekolah dan
mendapat nilai terbaik dari Pak Hondoyo” sindir Teo sambil menyeruput es dalam
plastik yang digenggamnya dengan sedotan.
“Ah kau bisa saja Teo. Itu terlalu
berat bagiku. Aku hanya memperbaiki catatan lari atas namaku sendiri. Itu saja”
balas Dino tenang.
“Taukah kamu, Teo? Kita tidak
sedang berkompetisi dengan orang lain. Tapi yang paling penting adalah kita
berkompetisi dengan diri kita sendiri. Mengalahkan malas, lelah dan segala
perasaan yang bisa menjatuhkan diri kita sendiri” jelas Dino dengan ucapan yang
tegas pada Teo.
“Kita mengalahkan waktu,
keterbatasan, emosi dan segala rintangan yang pasti dihadapi setiap oramg dalam
bentuk yang berbeda-beda, Teo.”
“Oh ya satu lagi. Kita diciptakan
oleh Tuhan itu pada lintasan kita masing-masing. Cepat atau lambat kita sampai
di akhir lintasan kita bukan karena orang lain tapi justru karena kita sendiri,
karena kekuatan yang besar dari dalam diri kita sendiri. Apakah kau setuju itu,
Teo?” tanya Dino sambil menatap ke arah Teo yang terdiam.
“Entahlah. Aku tak tau arah
pembicaraanmu. Pembicaraanmu terlalu berat” jawab Teo sambil berlalu pergi
meninggalkan Dino.
Dua puluh tahun sudah berlalu sejak
kejadian itu. Prinsip yang Dino yakini benar-benar membimbing setiap langkah
hidupnya. Ia telah menyelesaikan pendidikan hingga level magister, bekerja di
sebuah perusahaan asing dengan menduduki jabatan yang tidak bisa dipandang
sebelah mata sementara Teo kini menjadi buruh tebas tebu di perusahaan gula di
daerahnya.
Dino yakin setiap manusia mengikuti
track hidupnya masing-masing. Kita
tidak sedang berkompetisi dengan orang lain tapi kita berkompetisi dengan diri
kita sendiri untuk melintasi track kita
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar