Selasa, 06 Oktober 2020

Track

 

Track

 

 

 

“Ayo, Dino kejar saya kalau bisa! Berlarilah yang cepat!” teriak Teo sambil berlari menoleh kearah Dino yang terengah-engah berlari jauh di belakang Teo.

“Ah..payah kau, Dino. Kakimu itu itu terlalu manja dan tak pernah diajak lari jauh” lagi-lagi teriakan Teo diarahkan pada Dino.

“Ayo kejar aku kalau kau bisa, Dino”? Pasti kau tak bisa mengejarku kaukan lemah, Dino hahaha…” teriak Teo terbahak-bahak.

Dino terus berlari sekuat tenaga. Siswa kelas lima sekolah dasar tersebut tak memperdulikan ejekan temannya tersebut. Keringat telah membasahi seluruh tubuh kurusnya tersebut. Ia tak memperdulikan ejekan-ejekan yang dilontarkan oleh Teo. Yang dipikirkan Dino adalah bagaimana ia bisa sampai di garis finish dengan secepatnya. Memperbaiki rekor atas dirinya sendiri adalah tujuannya.

Dino paham jika ia tak akan bisa mengalahkan teman-temannya. Apalah artinya ia jika dibandingkan dengan teman-temannya. Setiap lari sejauh dua kilometer dari sekolahnya mengelilingi jalan desa dan kembali lagi ke sekolahnya selalu menempatkan ia diurutan-urutan terakhir. Meskipun ia tahu jauh dibelakangnya masih ada beberapa siswa yang menyerah. Mereka memilih berjalan daripada tetap berlari padahal jika ia mau terus berlari ia akan lebih baik dari Dino.

Kegiatan lari ini dilakukan satu semester sekali pada jam pelajaran olahraga. Pak Handoyo sebagai guru olahraga akan selalu memberi beberapa wejangan-wejangan sebelum mereka berlari.

“Setelah Bapak tiup peluit silahkan kalian berlari dari sekolah ini melalui jalan yang tadi sudah bapak sebutkan. Tidak ada yang boleh mencari jalan pintas. Jika ada yang ketahuan mencari jalan pintas maka Bapak akan diskualifikasi dan tidak akan ada nilainya untuk mata pelajaran olahraga semester ini, ” ucap Pak Handoyo.

“Kemudian satu pesan bapak lagi saat kalian lari kalian tidak boleh merusak atau mengganggu apapun milik warga yang kalian temui di jalan. Apakah kalian paham?” tanya Pak Handoyo sambil melihat kami satu persatu.

“Pahaaam, Pak!” ucap siswa-siswa kelas lima tersebut hampir bersamaan.

Pritttt……. Peluit dibunyikan oleh Pak Handoyo dengan kuat. Semua berlari dengan secepat kilat. Masing-masing ingin menunjukkan bahwa merekalah yang paling hebat dalam berlari. Padahal saat setengah perjalanan dilalui sudah akan nampak kekuatan mereka masing-masing. Beberapa siswa mulai kelelahan. Mereka tampak berjalan santai menikmati pemandangan di kanan-kirinya dan tak menghiraukan lagi tujuan akhir agar sampai ditujuan lebih dahulu dan mendapatkan nilai yang terbaik.Namun ada juga siswa seperti Dino yang terus berlari meskipun ia kalah cepat dengan beberapa siswa-siswa yang lainnya yang memang terlahir dengan kaki-kaki yang kuat untuk berlari.

“Sudah Dino mending kau jalan saja! Tak akan dapat kau mendahuluiku” ejek Teo yang masih berada di depan Dino.

“Sia-sia kau lari kepayahan seperti itu, menyerahlah saja!” lagi-lagi Teo berteriak ke arah Dino.

Dino hanya tersenyum kecut. Ia tahu tak ada gunanya menanggapi Teo. Toh ia juga pasti tidak mampu mengalahkannya. Dino hanya bertekad untuk tidak kalah pada dirinya sendiri. Ia tidak ingin menghentikan larinya dan menuruti bisikan-bisikan yang seolah mengajaknya untuk berjalan saja tanpa harus berlari kelelahan. Dino bertekad waktu berlarinya semester ini harus lebih baik dari waktu berlarinya semester lalu. Itu sudah kemajuan untuk dirinya sendiri dan itu sudah cukup.

Bagi Dino setiap orang mempunyai kelebihan dan keurangan masing-masing. Kelebihan yang kita punyai harus terus kita jaga sedangkan kekurangan kita harus kita perbaiki sedikit demi sedikit. Kita tahu dimana kelebihan dan kekurangan kita masing-masing. Seperti Dino ia paham jika untuk urusan fisik ia kalah jauh dibandingkan teman-temannya namun jika urusan akademik ia bukanlah yang terakhir. Banyak prestasi yang bisa ia banggakan jika ia mau namun baginya menjadi dirinya sendiri seperti ini adalah pilihan terbaiknya.

Pemikiran semacam itulah yang membuat Dino tidak mudah untuk dijatuhkan. Semangat yang datang bukan dari orang lain tapi justru dari dirinya sendiri. Itulah modal terbesar dalam hidupnya. Ucapan-ucapan dan gesture tubuh Teo yang mengejek dirinya tak dianggapnya beban. Baginya Teo melakukan itu karena ia tidak mempunyai prinsip sama seperti dirinya. Ya Teo memang jago soal lari tapi sayang ia luput untuk memperbaiki kekurangan dirinya disisi lain.

“Sepertinya kau semangat sekali berlari tadi, Dino? Kupikir kau bakal jadi yang pertama sampai di sekolah dan mendapat nilai terbaik dari Pak Hondoyo” sindir Teo sambil menyeruput es dalam plastik yang digenggamnya dengan sedotan.

“Ah kau bisa saja Teo. Itu terlalu berat bagiku. Aku hanya memperbaiki catatan lari atas namaku sendiri. Itu saja” balas Dino tenang.

“Taukah kamu, Teo? Kita tidak sedang berkompetisi dengan orang lain. Tapi yang paling penting adalah kita berkompetisi dengan diri kita sendiri. Mengalahkan malas, lelah dan segala perasaan yang bisa menjatuhkan diri kita sendiri” jelas Dino dengan ucapan yang tegas pada Teo.

“Kita mengalahkan waktu, keterbatasan, emosi dan segala rintangan yang pasti dihadapi setiap oramg dalam bentuk yang berbeda-beda, Teo.”

“Oh ya satu lagi. Kita diciptakan oleh Tuhan itu pada lintasan kita masing-masing. Cepat atau lambat kita sampai di akhir lintasan kita bukan karena orang lain tapi justru karena kita sendiri, karena kekuatan yang besar dari dalam diri kita sendiri. Apakah kau setuju itu, Teo?” tanya Dino sambil menatap ke arah Teo yang terdiam.

“Entahlah. Aku tak tau arah pembicaraanmu. Pembicaraanmu terlalu berat” jawab Teo sambil berlalu pergi meninggalkan Dino.

Dua puluh tahun sudah berlalu sejak kejadian itu. Prinsip yang Dino yakini benar-benar membimbing setiap langkah hidupnya. Ia telah menyelesaikan pendidikan hingga level magister, bekerja di sebuah perusahaan asing dengan menduduki jabatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata sementara Teo kini menjadi buruh tebas tebu di perusahaan gula di daerahnya.

Dino yakin setiap manusia mengikuti track hidupnya masing-masing. Kita tidak sedang berkompetisi dengan orang lain tapi kita berkompetisi dengan diri kita sendiri untuk melintasi track kita sendiri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERPUSTAKAAN KELILING MASUK SEKOLAH

Pada hari rabu, 31 Agustus 2022 SMPN 1 Terbanggi Besar kedatangan mobil perpustakaan keliling dari perpustakaan daerah Kabupaten Lampung Ten...