Selasa, 06 Oktober 2020

Surat Untuk Ayah

 

Surat Untuk Ayah

 

 

Hari itu tanggal 20 Maret 1997. Setelah hampir sepuluh tahun aku meninggalkan rumah kuberanikan diri untuk menulis sepucuk surat yang kutujukan kepada ayahku di kampung,

 

             Kepada Ayahanda yang Sofyan sayangi,

             Di Kampung.

 

             Assalamualaikum, Ayah.

Sebelumnya Sofyan mohon maaf jika Sofyan memberanikan diri berkirim surat pada Ayah. Setelah sepuluh tahun Sofyan pergi, ini surat Sofyan yang pertama kali. Apa kabar, Ayah? Semoga Allah memberikan kesehatan untuk ayah disana? Sofyan pun dalam keadaan baik dan sehat.

Ayah, Sofyan sangat rindu dengan Ayah. Apakah Ayah masih membenci Sofyan? Apakah Ayah masih mau menerima Sofyan jika Sofyan pulang ke kampung? Ayah, Sofyan benar-benar minta maaf atas kesalahan Sofyan dulu. Izinkan Sofyan untuk pulang dan berbakti pada Ayah. Sofyan sekarang sudah berubah, Yah. Sofyan sekarang bukan Sofyan yang dulu yang selalu menyusahkan Ayah, yang selalu membuat malu Ayah. Sofyan sekarang sudah berbeda, Yah. Izinkan Sofyan pulang dan mencium kaki, Ayah. Izinkan Sofyan menebus dosa-dosa masa lalu Sofyan pada Ayah. Sofyan menyesal. Sofyan rindu sekali dengan Ayah.

Ayah, dalam surat ini Sofyan cantumkan alamat Sofyan. Sofyan berharap sekali Ayah membalas surat Sofyan ini.

Salam rindu untuk Ayah.

             Wassalamualaikum, wr.wb

 

                                                                                                Dari Anakmu,

                                                                                                Sofyan

 

Surat yang kutulis dengan perasaan tak karuan tersebut segera saja kumasukkan kedalam amplop putih yang kubeli dua hari sebelumnya bersamaan dengan sebuah perangko bertuliskan Rp.1500 bergambar penari betawi. Bergegas aku keluar dari rumah dan naik angkutan kota menuju kantor pos. Kuserahkan surat tersebut pada petugas kantor pos dan kutinggalkan segera tanpa banyak bicara.

Ini adalah surat pertamaku pada ayah setelah 10 tahun aku merantau ke ibukota meninggalkan kampungku di pulau Sumatera. Sepuluh tahun lalu masih membekas dalam ingatanku amarah ayah padaku.

“Dasar anak tak tau di untung. Sudah berapa kali ayah bilang jangan pernah mencuri. Semiskin apapun kita, jangan pernah mencuri, Nak!” ucap ayahku berapi-api dengan mata merah menahan amarah.

“Minggu lalu gurumu memanggil ayahmu ini karena kamu mengambil uang milik temanmu. Tiga hari lalu kau di sidang di balai kampung karena ketahuan mencuri ayam jago Nyak Mutia. Untung warga kampung tidak mengadukanmu ke polisi. Mereka masih kasihan melihat ayahmu ini, Sofyan! Apakah kamu paham itu!!” bentak ayahku.

Aku hanya diam mengigil ketakutan. Kali ini ayah benar-benar marah.

“Kamu mau jadi apa jika kamu tidak berubah, Sofyan! Untuk apa kamu mencuri lagi hari ini? Ayahmu ini masih sanggup jika hanya memberimu makan sehari tiga kali!!”

“Maafin Sofyan, Ayah. Sofyan janji Sofyan tidak akan mengulanginya lagi,” akhirnya aku beranikan membuka mulutku.

“Itu yang selalu kau katakan pada ayah setiap kali kau berbuat salah. Kali ini ayah tidak dapat memaafkanmu. Tinggalkan rumah ini!! Ayah malu dipandang tetangga tidak bisa mendidikmu!!” kali ini tampak sorot mata ayah penuh kemarahan.

Ayah benar-benar marah setelah mengetahui bahwa aku mencuri sepeda Mak Iroh dan menjualnya ke pasar. Bagaimanapun usahaku meminta maaf pada ayah, ia tidak bergeming. Aku benar-benar diusirnya saat itu.

Aku sadar aku sangat nakal saat itu. Sejak ibuku meninggal saat aku kelas dua esempe aku menjadi sangat jauh dari biasanya. Sholat lima waktu yang rajin kukerjakan saat ibuku masih ada lambat laun menjadi sering kutinggalkan. Ayahku yang berprofesi sebagai nelayan tak punya cukup waktu mengurusiku anak semata wayangnya. Jadilah aku semakin liar dan sering melakukan hal-hal yang membuat malu ayahku.

Tanggal 22 April 1997. Kubaca kembali surat keduaku untuk ayahku yang akan kukirim melalui pos siang ini:

 

             Kepada Ayahanda Tercinta

             Di Kampung

 

             “Assalamulaikum, Ayah.



Semoga Allah SWT selalu memberi kesehatan pada Ayah. Apakah Ayah sudah menerima suratku sebelumnya? Sofyan tahu Ayah pasti masih sangat marah pada Sofyan.

Tahukah Ayah. Sepuluh tahun lalu Sofyan meninggalkan kampung kita dengan hati hancur. Sofyan tahu Sofyan salah dan sudah membuat malu Ayah di kampung. Sofyan menumpang pada truk yang akan menuju ibukota. Sesampai di ibukota Sofyan berhari-hari terlunta lunta, Ayah. Sofyan tak tahu harus kemana? Sofyan tak tahu apa yang harus Sofyan lakukan. Sofyan hidup dari sisa makanan yang Sofyan temukan selama berhari-hari.

Tapi mulai hari itu Sofyan berjanji Sofyan akan menjadi anak yang suatu saat akan membanggakan Ayah. Sofyan tidak meninggalkan sholat lagi. Sofyan tidak pernah mencuri lagi walau hanya serupiah. Sofyan selalu berdoa untuk Ayah dan almarhumah ibu. Sofyan selalu berdoa agar Ayah memaafkan Sofyan. Hingga akhirnya ada keluarga yang kasihan dan mengajak Sofyan untuk tinggal bersama mereka. Sofyan sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Setiap hari Sofyan membantu mereka berdagang di pasar. Hingga kini akhirnya Sofyan bisa mempunyai beberapa toko milik Sofyan sendiri. Kini saatnya Sofyan membuktikan pada Ayah bahwa Sofyan benar-benarr sudah berubah.

Maukah Ayah memaafkan Sofyan? Sofyan rindu dengan Ayah? Beberapa kali dalam minggu-minggu ini Sofyan selalu bermimpi Ayah menjemput Sofyan pulang. Rindu Sofyan makin menjadi, Ayah.

Sekian surat dari Sofyan. Semoga Ayah berkenan membalas surat anakmu ini.

Wassalamualaikum, wr,wb

Hormat Ananda,

Sofyan

 

Tak ada balasan sama sekali atas suratku yang kedua. Sepertinya ayah benar benar marah kepadaku hingga tak mau lagi membalas surat-suratku. Aku tahu betapa nakalnya aku dulu. Ayah pasti sangat kecewa padaku. Anak semata wayangnya yang dibangga-banggakannya ternyata justru membuatnya malu. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali.


Tanggal 2 Juni 1997. Ini surat ketigaku untuk Ayah. Ini akan menjadi surat terakhirku untuk Ayah.

 

Kepada Ayahanda Tercinta

Di Kampung

 

Assalamualaikum, Ayah.

Apa kabar, Ayah? Semoga Ayah dalam keadaan sehat. Minggu depan Sofyan akan pulang ke kampung. Apapun yang terjadi Sofyan ingin meminta maaf pada Ayah. Sofyan rindu Ayah.

Wassalamualaikum, wr.wb

Hormat Ananda,

Sofyan

 

Aku tak peduli apapun yang akan terjadi. Sudah satu minggu surat terakhirku kukirimkan pada ayah. Kali ini aku dalam perjalanan menuju kampungku. Ada banyak perasaan berkecamuk tatkala aku dalam perjalanan menuju kampungku. Apalagi saat perjalanan sudah semakin dekat kampungku. Ada rindu, malu dan semua perasaan melebur menjadi satu pada diriku. Tapi tekadku kali ini sudah bulat. Aku harus bertemu ayah. Meminta maaf dan mengajaknya hidup bersamaku agar ia tidak hidup susah. Akan kutebus semua kesalahanku pada ayah. Akan kubahagiakan Ayah dengan semua kemampuanku. Itu tekadku.

“Ayahmu sangat menyayangimu, Sofyan” ucap wak Tiro, tetangga samping rumah ayahku yang sudah kami anggap seperti saudara sendiri.

“Sepeninggalmu sepuluh tahun lalu, ayahmu sangat menyesal. Ia ingin mencarimu tapi tidak tahu harus kemana. Hampir seluruh warga kampung ini ia tanyai siapa tau ada yang pernah melihatmu atau tahu kabar tentangmu. Tapi tak ada informasi yang bisa ia dapatkan” jelas Wak Tiro padaku.

“Sejak saat itu ayahmu tak lagi bersemangat pergi melaut. Ia mulai sakit-sakitan. Setiap hari namamu yang disebut. Ia menyesal sudah mengusirmu dari rumah. Ayahmu selalu memafkanmu, Sofyan. Kami tahu jika namamu selalu disebutnya setiap berdoa. Ayahmu pernah bercerita pada wak Tiro jika suatu hari kamu pasti pulang. Ayahmu yakin itu karena ia selalu mendoakan itu, ” suara wak Tiro kudengar lirih di sampingku.

Aku bangkit dengan sisa tenaga dan mata sembab meninggalkan nisan ayahku dalam kesunyian. Wak Tiro mengikutiku dari belakang. Sudah lima tahun ayahku tiada, menantiku tiba meski tak bisa bertatap muka.


#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERPUSTAKAAN KELILING MASUK SEKOLAH

Pada hari rabu, 31 Agustus 2022 SMPN 1 Terbanggi Besar kedatangan mobil perpustakaan keliling dari perpustakaan daerah Kabupaten Lampung Ten...