Surat Untuk Ayah
Hari itu tanggal 20 Maret 1997. Setelah hampir sepuluh tahun aku meninggalkan rumah kuberanikan diri untuk menulis sepucuk surat yang kutujukan kepada ayahku di kampung,
Kepada Ayahanda yang Sofyan sayangi,
Di Kampung.
Assalamualaikum, Ayah.
Sebelumnya Sofyan mohon maaf jika Sofyan memberanikan
diri berkirim surat pada Ayah. Setelah sepuluh tahun Sofyan pergi, ini surat Sofyan
yang pertama kali. Apa kabar, Ayah? Semoga Allah memberikan kesehatan untuk
ayah disana? Sofyan pun dalam keadaan baik dan sehat.
Ayah, Sofyan sangat rindu dengan Ayah. Apakah Ayah masih
membenci Sofyan? Apakah Ayah masih mau menerima Sofyan jika Sofyan pulang ke kampung?
Ayah, Sofyan benar-benar minta maaf atas kesalahan Sofyan dulu. Izinkan Sofyan
untuk pulang dan berbakti pada Ayah. Sofyan sekarang sudah berubah, Yah. Sofyan
sekarang bukan Sofyan yang dulu yang selalu menyusahkan Ayah, yang selalu membuat
malu Ayah. Sofyan sekarang sudah berbeda, Yah. Izinkan Sofyan pulang dan
mencium kaki, Ayah. Izinkan Sofyan menebus dosa-dosa masa lalu Sofyan pada
Ayah. Sofyan menyesal. Sofyan rindu sekali dengan Ayah.
Ayah, dalam surat ini Sofyan cantumkan alamat Sofyan. Sofyan
berharap sekali Ayah membalas surat Sofyan ini.
Salam rindu untuk Ayah.
Wassalamualaikum, wr.wb
Dari
Anakmu,
Sofyan
Surat yang kutulis dengan perasaan tak karuan tersebut segera saja kumasukkan kedalam amplop putih yang kubeli dua hari sebelumnya bersamaan dengan sebuah perangko bertuliskan Rp.1500 bergambar penari betawi. Bergegas aku keluar dari rumah dan naik angkutan kota menuju kantor pos. Kuserahkan surat tersebut pada petugas kantor pos dan kutinggalkan segera tanpa banyak bicara.
Ini adalah surat pertamaku pada ayah setelah 10 tahun aku merantau ke ibukota meninggalkan kampungku di pulau Sumatera. Sepuluh tahun lalu masih membekas dalam ingatanku amarah ayah padaku.
“Dasar anak tak tau di untung.
Sudah berapa kali ayah bilang jangan pernah mencuri. Semiskin apapun kita, jangan
pernah mencuri, Nak!” ucap ayahku berapi-api dengan mata merah menahan amarah.
“Minggu lalu gurumu memanggil
ayahmu ini karena kamu mengambil uang milik temanmu. Tiga hari lalu kau di
sidang di balai kampung karena ketahuan mencuri ayam jago Nyak Mutia. Untung
warga kampung tidak mengadukanmu ke polisi. Mereka masih kasihan melihat ayahmu
ini, Sofyan! Apakah kamu paham itu!!” bentak ayahku.
Aku hanya diam mengigil ketakutan.
Kali ini ayah benar-benar marah.
“Kamu mau jadi apa jika kamu tidak
berubah, Sofyan! Untuk apa kamu mencuri lagi hari ini? Ayahmu ini masih sanggup
jika hanya memberimu makan sehari tiga kali!!”
“Maafin Sofyan, Ayah. Sofyan janji Sofyan
tidak akan mengulanginya lagi,” akhirnya aku beranikan membuka mulutku.
“Itu yang selalu kau katakan pada
ayah setiap kali kau berbuat salah. Kali ini ayah tidak dapat memaafkanmu.
Tinggalkan rumah ini!! Ayah malu dipandang tetangga tidak bisa mendidikmu!!”
kali ini tampak sorot mata ayah penuh kemarahan.
Ayah benar-benar marah setelah
mengetahui bahwa aku mencuri sepeda Mak Iroh dan menjualnya ke pasar.
Bagaimanapun usahaku meminta maaf pada ayah, ia tidak bergeming. Aku
benar-benar diusirnya saat itu.
Aku sadar aku sangat nakal saat itu. Sejak ibuku meninggal saat aku kelas dua esempe aku menjadi sangat jauh dari biasanya. Sholat lima waktu yang rajin kukerjakan saat ibuku masih ada lambat laun menjadi sering kutinggalkan. Ayahku yang berprofesi sebagai nelayan tak punya cukup waktu mengurusiku anak semata wayangnya. Jadilah aku semakin liar dan sering melakukan hal-hal yang membuat malu ayahku.
Tanggal 22 April 1997. Kubaca kembali surat keduaku untuk ayahku yang akan kukirim melalui pos siang ini:
Kepada Ayahanda Tercinta
Di Kampung
“Assalamulaikum, Ayah.
Semoga Allah SWT selalu memberi kesehatan pada Ayah. Apakah Ayah sudah menerima suratku sebelumnya? Sofyan tahu Ayah pasti masih sangat marah pada Sofyan.
Tahukah Ayah. Sepuluh tahun lalu Sofyan meninggalkan kampung kita dengan hati hancur. Sofyan tahu Sofyan salah dan sudah membuat malu Ayah di kampung. Sofyan menumpang pada truk yang akan menuju ibukota. Sesampai di ibukota Sofyan berhari-hari terlunta lunta, Ayah. Sofyan tak tahu harus kemana? Sofyan tak tahu apa yang harus Sofyan lakukan. Sofyan hidup dari sisa makanan yang Sofyan temukan selama berhari-hari.
Tapi mulai hari itu Sofyan berjanji Sofyan akan menjadi
anak yang suatu saat akan membanggakan Ayah. Sofyan tidak meninggalkan sholat
lagi. Sofyan tidak pernah mencuri lagi walau hanya serupiah. Sofyan selalu
berdoa untuk Ayah dan almarhumah ibu. Sofyan selalu berdoa agar Ayah memaafkan Sofyan.
Hingga akhirnya ada keluarga yang kasihan dan mengajak Sofyan untuk tinggal
bersama mereka. Sofyan sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Setiap hari Sofyan
membantu mereka berdagang di pasar. Hingga kini akhirnya Sofyan bisa mempunyai
beberapa toko milik Sofyan sendiri. Kini saatnya Sofyan membuktikan pada Ayah
bahwa Sofyan benar-benarr sudah berubah.
Maukah Ayah memaafkan Sofyan? Sofyan rindu dengan Ayah?
Beberapa kali dalam minggu-minggu ini Sofyan selalu bermimpi Ayah menjemput Sofyan
pulang. Rindu Sofyan makin menjadi, Ayah.
Sekian surat dari Sofyan. Semoga Ayah berkenan membalas
surat anakmu ini.
Wassalamualaikum, wr,wb
Hormat Ananda,
Sofyan
Tak ada balasan sama sekali atas suratku yang kedua.
Sepertinya ayah benar benar marah kepadaku hingga tak mau lagi membalas
surat-suratku. Aku tahu betapa nakalnya aku dulu. Ayah pasti sangat kecewa
padaku. Anak semata wayangnya yang dibangga-banggakannya ternyata justru
membuatnya malu. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali.
Tanggal 2 Juni 1997. Ini surat ketigaku untuk Ayah. Ini akan menjadi surat terakhirku untuk Ayah.
Kepada Ayahanda Tercinta
Di Kampung
Assalamualaikum, Ayah.
Apa kabar, Ayah? Semoga Ayah dalam keadaan sehat. Minggu depan Sofyan akan pulang ke kampung. Apapun yang terjadi Sofyan ingin meminta maaf pada Ayah. Sofyan rindu Ayah.
Wassalamualaikum,
wr.wb
Hormat Ananda,
Sofyan
Aku tak peduli apapun yang akan
terjadi. Sudah satu minggu surat terakhirku kukirimkan pada ayah. Kali ini aku
dalam perjalanan menuju kampungku. Ada banyak perasaan berkecamuk tatkala aku
dalam perjalanan menuju kampungku. Apalagi saat perjalanan sudah semakin dekat
kampungku. Ada rindu, malu dan semua perasaan melebur menjadi satu pada diriku.
Tapi tekadku kali ini sudah bulat. Aku harus bertemu ayah. Meminta maaf dan
mengajaknya hidup bersamaku agar ia tidak hidup susah. Akan kutebus semua
kesalahanku pada ayah. Akan kubahagiakan Ayah dengan semua kemampuanku. Itu
tekadku.
“Ayahmu sangat menyayangimu, Sofyan”
ucap wak Tiro, tetangga samping rumah
ayahku yang sudah kami anggap seperti saudara sendiri.
“Sepeninggalmu sepuluh tahun lalu,
ayahmu sangat menyesal. Ia ingin mencarimu tapi tidak tahu harus kemana. Hampir
seluruh warga kampung ini ia tanyai siapa tau ada yang pernah melihatmu atau
tahu kabar tentangmu. Tapi tak ada informasi yang bisa ia dapatkan” jelas Wak
Tiro padaku.
“Sejak saat itu ayahmu tak lagi
bersemangat pergi melaut. Ia mulai sakit-sakitan. Setiap hari namamu yang
disebut. Ia menyesal sudah mengusirmu dari rumah. Ayahmu selalu memafkanmu, Sofyan.
Kami tahu jika namamu selalu disebutnya setiap berdoa. Ayahmu pernah bercerita
pada wak Tiro jika suatu hari kamu pasti pulang. Ayahmu yakin itu karena
ia selalu mendoakan itu, ” suara wak Tiro kudengar lirih di sampingku.
Aku bangkit dengan sisa tenaga dan
mata sembab meninggalkan nisan ayahku dalam kesunyian. Wak Tiro mengikutiku
dari belakang. Sudah lima tahun ayahku tiada, menantiku tiba meski tak bisa
bertatap muka.
#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar