Selasa, 06 Oktober 2020

Janji Caleg: Bang Darto

Janji Caleg: Bang Darto

 

Namanya Bang Tohar, Toharudin bin Zainal. Lelaki jawa kelahiran Medan. Siapa yang tak kenal ia? Semua pasti paham dengan lelaki satu ini terutama orang-orang yang biasa pergi ke pasar. Setiap pagi ia akan sudah petantang-petenteng di pintu masuk pasar dengan asap rokok mengepul dari mulutnya. Rambut ikal yang terlihat tak pernah disisir, mata tampak melotot bagai harimau melihat mangsanya serta tato hampir penuh diseluruh badan mencari ciri khasnya.

Sehari-hari hidupnya berkeliling pasar. Menemui setiap pemilik toko ataupun pedagang untuk meminta upeti: ‘uang keamanan’. Tak ada yang berani menolak, lebih baik memberi daripada sengsara dihajar Bang Tohar. Pernah ada yang berani melawan. Babak belur ia dibuat Bang Tohar. Belum lagi intimidasi terhadap keluarganya. Bang Tohar akan mencari tahu seluk beluk keluarga yang berani melawannya.

Tak ada yang berani melapor ke polisi. Melaporkan Bang Tohar ke polisi sama saja mencari perkara. Daripada melaporkan Bang Tohar dan mengirimnya ke sel namun ujung-ujungnya Bang Tohar nanti keluar dan akan mencarinya hingga ke lubang semut lebih baik memberinya sedikit upeti setiap pagi: itu cara berdamai.

Alih-alih memperbaiki diri karena sudah makin tua, rupanya Bang Tohar justru makin sadis. Nenek-nenek penjual kacang Sihobuk alias kacang goreng khas Medan pun tak ia lewatkan, harus membayar upeti juga. Parah!

Uang haram tak akan pernah berkah. Selepas pasar bubaran, Bang Tohar akan segera berpindah tempat tongkrongan. Lapak-lapak tuak menjadi tempat favoritnya. Minuman beralkohol yang terbuat dari beras atau cairan yang diambil dari tanaman seperti nira pohon enau atau pohon nipah tersebut menemani hari-harinya.

Uang upeti hari itupun akan ludes dalam waktu sekejap di meja judi. Kalau soal judi Bang Tohar profesional. Jika kalah, ia akan mengaku kalah. Tak pernah dia marah-marah dan berlagak jagoan di tempat judi tersebut. Jika sudah kalah dia akan pulang dengan kondisi rambut dan baju acak-acakan di sore hari. Ia akan tidur dari sebelum magrib hingga pagi. Setelah itu ia akan berangkat ‘dinas’ lagi ke tempat tugasnya: pasar. Begitulah sehari-hari kehidupan Bang Tohar.

Namun pagi ini ada yang berbeda. Bang Tohar tampak rapi. Celana jins dan kemeja kotak-kotak menjadi seragamnya pagi itu. Tampak senyum tersungging yang dipaksakan setiap bertemu orang-orang yang datang ke pasar. Bagi sebagian besar orang itu pasti terlihat aneh, tak biasanya.

“Pagi Bang Tohar,” aku memberanikan diri menyapanya.

“Hei, pagi, Cok! Nampak buru-buru kali, Kau. Mau beli apa?” balas Bang Tohar sambil memanggilku ucok, panggilan untuk anak laki-laki di Medan.

“Omak minta aku beli daun ubi, Bang,” jawabku.

“Rupanya omak kau itu mau buat gulai daun ubi tumbuk ya? Sedap kali itu, Cok,” ucap Bang Tohar menyebutkan masakan khas Medan yang terbuat dari daun singkong yang biasanya ditumbuk halus menggunakan lesung dan diolah menggunakan santan.

“Iya, Bang. Saya duluan ya, Bang,” ucapku meninggalkan Bang Tohar melewati beberapa jajaran toko penjual kopi Sidikalang, kopi khas Medan.

Dari bisik-bisik pembicaraan penjual dan pembeli di pasar kuketahui Bang Tohar ternyata sedang mendaftarkan diri sebagai calon legislatif. Bah!! umpatku dalam hati. Partai mana pula yang menerimanya sebagai kader untuk dicalonkan sebagai anggota legislatif. Orang macam Bang Tohar tau apa untuk urusan negara. Bisa apa Bang Tohar sebagai anggota legislatif nanti pikirku. Lama-lama bisa hancur negara ini jika orang-orang seperti dia menjadi anggota legislatif.

“Sudah seminggu ini ia tak keliling menarik upeti dari pedagang” bisik penjual lemang pada pembelinya.

“Mimpi apa dia mau jadi caleg?” tanya si pembeli.

“Entahlah. Yang jelas satu minggu ini aku bisa berhemat tak perlu membayar uang keamanan padanya,” jawab penjual lemang, makanan tradisional yang berbahan dasar beras ketan dicampur santan dengan digulung menggunakan daun pisang kemudian dimasukkan ke ruas bambu dan dibakar di atas bara api tersebut.

Dari hari ke hari aksi Bang Tohar makin gencar. Spanduk-spanduk dan poster bergambarkan mukanya tersebut tampak memenuhi sudut-sudut pasar. Hampir di setiap keramaian ia ada: di pesta pernikahan, kegiatan-kegiatan sosial maupun upacara adat. Jadwal Bang Tohar sangat padat, bak artis yang kejar sinetron stripping.

Di beberapa kesempatan Bang Tohar bediri di atas panggung menyampaikan visi misinya jika ia terpilih sebagai anggota legislatif. Sejak kapan ia belajar berbicara di depan orang banyak? Yang jelas saat dia sudah berbicara semua seakan lupa siapa Bang Tohar sebelumnya.

“Bang Tohar, jangan lupa perbaiki jalan-jalan kita jika nanti Bang Tohar terpilih menjadi anggota legislatif” ucap seorang pemuda pada pada Bang tohar di suatu kesempatan.

“Kau tenang saja, Jamal. Akan kuaspal kembali jalan-jalan rusak kita ini sampai ke gang-gang rumah kalian. Serahkan itu pada, Tohar” ucapnya pada pemuda bernama Jamal tersebut.

“Pikirkan juga kebutuhan pokok kami, Bang. Semua barang-barang harganya makin tak terjangkau. Bisa mati kelaparan kami kalau terus begini” teriak seorang ibu dengan lantang.

“Iya betul itu. Sudah berapa puluh kali pemilihan umum. Nasib kita tetap seperti ini saja. Tak ada perubahan sama sekali” timpal ibu yang lainnya.

“Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak tenang saja. Tohar akan mewujudkannya asal Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semua mendukung Tohar. Kita buat daerah kita ini menjadi daerah yang maju, daerah yang tidak ketinggalan dari daerah lainnya,” teriak Bang Tohar lantang tanpa malu.

Sedikit bergeser dari tempat berdirinya ia menambahkan kalimatnya, “Jika Tohar terpilih menjadi anggota legislatif, urusan jalan dan yang lain-lainnya itu urusan kecil. Takkan lama Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu akan menikmati perbaikannya. Saya pastikan itu.”

Janji-janji manis Bang Tohar membuat terlena kepala-kepala yang tak berlogika. Bujuk dan rayunya memikat setiap telinga yang mendengar. Orang-orang yang dulunya takut meski hanya untuk lewat di depannya sekarang seolah rela mengejarnya seperti fans yang menantikan berfoto bersama artis pujaaannya. Setiap kali bertemu warga tak tak segan-segan Bang Tohar membagi-bagikan lembaran rupiah dari dalam dompetnya. Entah uang dari mana yang dia bagikan itu.

Tak pelak, saat pemilu usai Bang Tohar mendapatkan suara yang lebih dari cukup untuk mengantarkannya menjadi anggota legislatif mewakili orang-orang yang menerima sabun mandi dan susu kaleng serta kaos bergambar mukanya dan partai yang mengusungnya. Tak rugi ia mengutus penjilat-penjilat yang mengantarkan ampop-amplop berisi lembaran rupiah ke rumah-rumah warga di pagi buta sebelum pemilihan.

“Selamat, Bang Tohar. Jangan lupa realisasikan janji-janji Bang Tohar,” ucap Binsar dengan berani pada Bang Tohar.

“Tenang saja kau, Binsar. Setelah aku dilantik nanti akan segera kutunaikan janji-janjiku” jawab Bang Tohar dengan jumawanya.

“Akan aku aspal semua jalan kita ini hingga ke gang-gang kecil seperti janjiku tempo hari itu. Tak lupa juga aku akan perbaiki selokan-selokan mampet di pasar kita ini. Kau tak perlu khawatir dengan janji-janjiku, Binsar,” kembali Bang Tohar meyakinkan Binsar dan beberapa orang yang ada disitu.

“Satu lagi, akan kupastikan semua barang-barang kebutuhan pokok disini harganya stabil, Binsar,” tambah Bang Tohar sambil melempar sisa rokok yang sudah dihisapnya ke tanah.

“Baiklah, Bang. Kami menunggu realisasi tersebut” ucap Binsar penuh harap.

Aku yang mendengar percakapan kedua orang tersebut hanya mengernyitkan dahi. Menahan ludah agar tak membuatku tersedak. Tak tahu aku harus percaya atau tidak? Kutinggalkan kerumunan itu segera. Omakku sudah menunggu teri medan yang kubeli barusan.

Sudah hampir dua tahun sejak pelantikan anggota legislatif terpilih, Bang Tohar makin tidak pernah kelihatan. Tak seperti bisanyanya sangat mudah menemukannya mondar-mandir di pasar. Hanya dua kali aku melihatnya. Pertama saat upacara kemerdekaan di lapangan kecamatan dan yang kedua saat meninggal pamannya yang kebetulan berdekatan rumahnya dengan rumah orangtuaku.

“Kau bilang dulu pada warga itu untuk bersabar, Binsar. Tidak ada dana untuk pengaspalan jalan kita tahun ini. Aku sedang usulkan proposal untuk anggaran tahun depan, itupun jika disetujui” jelas Bang Tohar pada Binsar saat lagi-lagi Binsar menuntut janji Bang Tohar.

“Aku tak bisa memantau proposal itu terus. Aku ini sibuk setiap harinya. Harus rapat, kunjungan kerja dan lain sebagainya. Kau harus tau itu, Binsar. Sampaikan itu pada warga ya!” ucapnya berlalu pergi meninggalkan Binsar yang masih tegak berdiri di posisinya.

Aku tahu realisasi tak seindah janji. Hingga beberapa bulan sejak percakapan Binsar dan Bang Tohar, tak ada kabar lagi dari Bang Tohar. Entah sudah dimana dia? Sibuk rapat atau menyusun program kerjanya aku tak ingin tahu, yang jelas jalan-jalanku masih seperti dahulu: rusak.


 #Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"

My Twitter Tread

 My Twitter Tread

 

  

Kisah hidupku tak seindah cinderalla yang mulanya sedih tapi berakhir bahagia.

 

“Mau cerita apa nih, Kak,” tanya akun twitter @sashacubby.

“Alah paling-paling cuma pengen viral,” komen akun @netizenibukota.

“Hari gini masih ngomongin cinderella?. Bangun woi..bangun!” timpal akun @cintakia.

“Ceritain dong, Kak,” tulis akun @penyukakucing.

   Hari itu, aku baru saja lulus SMA sekitar satu bulan. Kuantar Mas Bram ke tempat dimana ia sudah ditunggu beberapa temannya yang akan diberangkatkan menjadi TKW. Kata agen penyalur TKW mereka akan ditempatkan di sebuah bengkel ternama yang mempunyai banyak cabang. Kurelakan kepergian Mas Bram meski terasa sangat berat saat itu. Tapi aku percaya, Mas Bram pasti kembali lagi dan kami akan bersama lagi.

“Cerita cinta nih kayaknya” ujar akun @Noprian.

“Oalah mau curhat nih ceritanya” tulis akun @entahsiapa.

“Wah pasti sedih banget ya kakak ditinggal Mas Bram nya” tulis @sashacubby.

“Jauh-jauh keluar negeri cuma buat kerja di bengkel, Kak? Di Indonesia juga banyak kali bengkel” tulis akun @GadisIdaman.

             Sebenarnya berat aku melepasnya. Aku kenal Mas Bram sejak SMA dan resmi pacaran saat kelas dua akhir. Waktiu itu belum ada hp dan pacaran waktu itu tak sebebas sekarang. Waktu itu bisa berangkat bareng dan pulang bareng saja sudah senang. Ketemu Cuma di sekolah. Tidak pernah Mas Bram ke rumah atau mengajak keluar seperti anak-anak sekarang. Kertas dan pena jadi saksi jika ingin berbicara banyak. Pagi hari sebelum bel masuk atau pulang sekolah aku atau Mas Bram akan memberi kertas yang sudah kami tulis di rumah atau di kelas. Isinya bisa ungkapan perasaan cinta ala anak SMA ataupun yang lainnya.

             Mas Bram orangnya ganteng. Salah satu idola di SMA ku. Wakil ketua OSIS saat itu. Aku tahu banyak yang suka dengan Mas Bram. Entah apa yang membuat dia memilihku, katanya sih lucu. Namun sayang Mas Bukan dari keluarga mampu makanya setamat SMA ia tidak melanjutkan kuliah tapi mendaftar jadi TKW. Tapi mengapa saat itu aku sangat takut jika berjauhan dengan Mas Bram.

“Seganteng apa sih Mas Bram nya, Kak. Kenalin aku dong hehehe “ tulis akun @Nadia

“Ceritanya long distance relationship ya, Kak?” timpal akun @Lambememble.

“Rame juga yang komen. Nggak ada yang mau mutualan sama saya apa?” ungkap akun @RendyCoy. Mutualan artinya mengajak berteman atau saling followback akun twitter masing-masing.

“Mas Bram nya setia gak, Kak? Hati-hati lo banyak pecokor alias perebut cowok orang,” tulis @birunyacinta.

“Wah ceritanya sama seperti cerita saya. Tapi ini kebalikannya. Saya yang jadi TKW dan cowok saya yang nunggu di Indonesia,” ungkap akun @mahadewi22.

             Ternyata pacaran jarak jauh seru juga saat itu. Ada rindu yang tak pernah terobati sepenuhnya, jadi hari-hari penuh rindu. Aku dan Mas Bram sering saling berkirim surat. Saat saling menerima surat balasan rasanya senang luar biasa.  Suratnya bakal dibaca berulang-ulang, ditaruh dibawah bantal dan akan dibaca lagi dan lagi. Kontrak Mas Bram dua tahun sekali. Setiap habis kontraknya maka di perpanjang lagi.

“Wah beruntung sekali ya Kakak dapet Mas Bramnya. PAP dong fotonya, Kak,” tulis @bellabandung. PAP adalah istilah post a picture. Sebuah istilah yang digunakan bila ingin meminta gambar atau foto.

“Iya Kak, PAP dong. Ganteng mana sama Nicholas Saputra. hehehe” tulis akun @anaksholehah.

“Terus gimana cerita selanjutnya, Kak? Mas Bramnya pulang? atau kecantol bule?” tanya akun @cewekmanis.

             Dua tahun pertama semua berjalan lancar. Pernah sekali Mas Bram berkirim foto dalam suratnya. Ah..tambah ganteng saja Mas Bram. Dimana pula ia berfoto tersebut. Kubelikan bingkai kecil di pasar untuk foto Mas Bram tersebut. Kutaruh di atas meja kecil di samping tempat tidurku. Setiap malam kupandangi. Kadang-kadang kuajak bicara sendiri. Begitulah cinta kadang bisa membuat kita gila.

             Setelah dua tahun disana Mas Bram memperpanjang kontraknya. Mas bram bilang ia paling sedikit akan berada disana enam tahun biar modalnya cukup untuk melamarku dan buat buka usaha. Menunggu enam tahun bagiku cukup lama tapi demi cita-cita kami aku rela.

“Hebat ya, Kakak bisa setia begitu. Pasti Mas Bram nya sangat beruntung dapatin Kakak” tulis akun @artisKW

“Kalau aku ogah ah….mending cari yang bisa ketemu tiap hari hehe,” timpal akun @cewekgibah.

“Ini lagi ngomongin apa sih? Bukan lagi ngomongin gue kan hihihi?” tulis akun @bosmuda.

             Tahun ketiga LDR-an sama Mas Bram datang cobaan buat hubungan kami. Ada cowok suka sama aku. Anak tuan tanah. Sawah orang tuanya dimana-mana. Punya kendaraan roda empat pada jaman itu. Jarang-jarang lo yang punya mobil saat itu. Pak lurah saja cuma punya motor Honda CB yang bisa buat dia bangga se kampung kami.

             Sudah beberapa kali dia main ke rumahku. Cerita sana cerita sini tapi aku masih menganggapnya teman. Beberapa kali ia mengutarakan maksud hatinya tapi aku tetap menolaknya dengan baik. Meskipun ia tajir, aku tak mau menghianati Mas Bram. Aku dan Mas Bram sama-sama saling mencintai. Kami sudah mempunyai komitmen. Tidak ada yang bisa mengganggu cinta kami.

“Oalah sudah di depan mata kok ditolak to, Kak! Rezeki gak datang dua kali lo,!” ujar @netijenjulid.

“Ia nih. Kalo aku sudah ku embat tuh cowok tajir. Ngapain nungguin kuman di seberang lautan. Mending gajah di depan mata udah jelas hahaha,” tulis akun @pejuangcinta.

“Dasar kalian kompor mleduk. Cewek setia gini jarang-jarang lo kok malah disuruh embat yang di depan mata,” timpal @priatulen.

“Kalau jodoh gak kemana kok, santai aja” tulis @burhansiomay.

             Meski si cowok tajir sudah bilang ke orang tuaku tentang perasaannya padaku tetap saja aku menolaknya. Tiga bulan dari itu aku dengar si cowok tajir mendapatkan belahan hatinya, mereka menikah. Beberapa temanku menyalahkan keputusanku namun aku biasa-biasa saja karena memang aku tidak suka. Aku tidak menyesal. Mas Bram tetap pilihanku.

             Awal tahun ke empat aku masih sering berkirim surat ke Mas Bram. Bercerita kondisiku di Indonesia. Bercerita ini dan itu. Mas Bram pun masih seperti awal selalu membalas suratku dengan mesra meskipun sering terlambat. Mas Bram bilang pekerjaannya sekarang makin banyak sulit cari waktu keluar untuk mengirimkan surat.

             Surat-surat dari Mas Bram kukumpulkan dari awal. Ku taruh di tempat khusus. Tak ada yang hilang satupun surat dari Mas Bram. Bahkan amplopnya pun tah ada yang rusak parah karena aku selalu membukanya dengan hati-hati. Kadang jika aku kangen dan ada waktu luang kubuka-buka kembali surat surat tersebut. Kubaca kembali sambil senyum-senyum sendiri membayangkan Mas Bram.

 

“Boleh dong Kak posting salah satu suratnya di thread kakak ini. Pengen lihat surat jaman dahulu seperti apa hehe,” tulis akun @fenitasari.

“Kisahnya bagus nih kak buat di jadiin FTV,” tulis @producercinta.

“Sekalian aja kak jadiin film layar lebar hahaha,” timpal akun @princegading.

By the way surat-surat Kakak disimpan juga gak ya sama Mas Bram nya??” tanya akun @julehagadiskota.

             Akhir tahun ke empat Mas Bram kembali berkirim surat. Mas Bram bilang ia tidak akan melanjutkan kontrak kerjanya. Ia akan pulang ke tanah air. Katanya orang tuanya meminta ia pulang. Aku sempet kaget tapi aku menghargai keputusannya. Di satu sisi aku juga senang bakal bisa ketemu Mas Bram lebih cepat dari rencana kami sebelumnya. Aku sudah membayangkan bagaimana ya reaksi kami bertemu lagi setelah empat tahun berpisah.

“Wah janur kuning bakal segera melengkung nih,” tulis @julehagadiskota.

“Sepertinya Mas Bram nya gak kuat pisah lama-lama, Kak hehehe” guyon akun @pejuangcinta lewat tweetnya.

 “Sah…Halal” @fenitasari mengomentari.

             Dua bulan sejak surat terakhir Mas Bram, ia kembali berkirim surat kepadaku. Kulihat alamat suratnya bukan dari luar negeri tapi sudah dari Indonesia. Tepatnya dari alamat rumahnya. Kenapa Mas Bram kirim surat kalau sudah ada di Indonesia tanyaku saat itu. Rumah Mas Bram dan Rumahku masih di satu desa saat kami di bangku SMA tapi setelah kami lulus SMA orangtua Mas Bram pindah tempat tinggal. Walau beda kecamatan tapi tidak terlalu jauh.

Harusnya Mas Bram ke rumahku saja. Kenapa harus berkirim surat?. Kubuka perlahan-lahan surat Mas Bram tersebut. Seperti biasa ada rasa deg-deg an namun tidak sabar untuk membacanya.

                   Retno, sebelumnya Mas minta maaf jika melalui surat ini Mas membuatmu kecewa. Bukan maksud Mas ingin menyakitimu tapi mas tidak ada daya menolak keinginan orang tua Mas. Retno, Mas minta maaf jika Mas tidak bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita. Orang tua Mas menjodohkan Mas dengan gadis pilihan mereka oleh karena itu Mas diminta untuk pulang ke Indonesia segera. Sekali lagi Mas minta maaf. Semoga Retno mendapatkan pengganti Mas yang lebih baik dari Mas. Tertanda Bramantio”

             Itu isi surat terakhir Mas Bram. Seperti mimpi. Tak ada badai ataupun topan cita-cita dan harapanku selama ini hancur menjadi berkeping-keping. Semudah itu Mas Bram memutuskan apa yang sudah kami bina selama bertahun-tahun. Tak pernahkah Mas Bram mengingat janji-janji kami. Aku benar-benar terpuruk saat itu hingga rasanya sampai berbulan-bulan aku baru bisa menerima kenyataan.


#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"











Track

 

Track

 

 

 

“Ayo, Dino kejar saya kalau bisa! Berlarilah yang cepat!” teriak Teo sambil berlari menoleh kearah Dino yang terengah-engah berlari jauh di belakang Teo.

“Ah..payah kau, Dino. Kakimu itu itu terlalu manja dan tak pernah diajak lari jauh” lagi-lagi teriakan Teo diarahkan pada Dino.

“Ayo kejar aku kalau kau bisa, Dino”? Pasti kau tak bisa mengejarku kaukan lemah, Dino hahaha…” teriak Teo terbahak-bahak.

Dino terus berlari sekuat tenaga. Siswa kelas lima sekolah dasar tersebut tak memperdulikan ejekan temannya tersebut. Keringat telah membasahi seluruh tubuh kurusnya tersebut. Ia tak memperdulikan ejekan-ejekan yang dilontarkan oleh Teo. Yang dipikirkan Dino adalah bagaimana ia bisa sampai di garis finish dengan secepatnya. Memperbaiki rekor atas dirinya sendiri adalah tujuannya.

Dino paham jika ia tak akan bisa mengalahkan teman-temannya. Apalah artinya ia jika dibandingkan dengan teman-temannya. Setiap lari sejauh dua kilometer dari sekolahnya mengelilingi jalan desa dan kembali lagi ke sekolahnya selalu menempatkan ia diurutan-urutan terakhir. Meskipun ia tahu jauh dibelakangnya masih ada beberapa siswa yang menyerah. Mereka memilih berjalan daripada tetap berlari padahal jika ia mau terus berlari ia akan lebih baik dari Dino.

Kegiatan lari ini dilakukan satu semester sekali pada jam pelajaran olahraga. Pak Handoyo sebagai guru olahraga akan selalu memberi beberapa wejangan-wejangan sebelum mereka berlari.

“Setelah Bapak tiup peluit silahkan kalian berlari dari sekolah ini melalui jalan yang tadi sudah bapak sebutkan. Tidak ada yang boleh mencari jalan pintas. Jika ada yang ketahuan mencari jalan pintas maka Bapak akan diskualifikasi dan tidak akan ada nilainya untuk mata pelajaran olahraga semester ini, ” ucap Pak Handoyo.

“Kemudian satu pesan bapak lagi saat kalian lari kalian tidak boleh merusak atau mengganggu apapun milik warga yang kalian temui di jalan. Apakah kalian paham?” tanya Pak Handoyo sambil melihat kami satu persatu.

“Pahaaam, Pak!” ucap siswa-siswa kelas lima tersebut hampir bersamaan.

Pritttt……. Peluit dibunyikan oleh Pak Handoyo dengan kuat. Semua berlari dengan secepat kilat. Masing-masing ingin menunjukkan bahwa merekalah yang paling hebat dalam berlari. Padahal saat setengah perjalanan dilalui sudah akan nampak kekuatan mereka masing-masing. Beberapa siswa mulai kelelahan. Mereka tampak berjalan santai menikmati pemandangan di kanan-kirinya dan tak menghiraukan lagi tujuan akhir agar sampai ditujuan lebih dahulu dan mendapatkan nilai yang terbaik.Namun ada juga siswa seperti Dino yang terus berlari meskipun ia kalah cepat dengan beberapa siswa-siswa yang lainnya yang memang terlahir dengan kaki-kaki yang kuat untuk berlari.

“Sudah Dino mending kau jalan saja! Tak akan dapat kau mendahuluiku” ejek Teo yang masih berada di depan Dino.

“Sia-sia kau lari kepayahan seperti itu, menyerahlah saja!” lagi-lagi Teo berteriak ke arah Dino.

Dino hanya tersenyum kecut. Ia tahu tak ada gunanya menanggapi Teo. Toh ia juga pasti tidak mampu mengalahkannya. Dino hanya bertekad untuk tidak kalah pada dirinya sendiri. Ia tidak ingin menghentikan larinya dan menuruti bisikan-bisikan yang seolah mengajaknya untuk berjalan saja tanpa harus berlari kelelahan. Dino bertekad waktu berlarinya semester ini harus lebih baik dari waktu berlarinya semester lalu. Itu sudah kemajuan untuk dirinya sendiri dan itu sudah cukup.

Bagi Dino setiap orang mempunyai kelebihan dan keurangan masing-masing. Kelebihan yang kita punyai harus terus kita jaga sedangkan kekurangan kita harus kita perbaiki sedikit demi sedikit. Kita tahu dimana kelebihan dan kekurangan kita masing-masing. Seperti Dino ia paham jika untuk urusan fisik ia kalah jauh dibandingkan teman-temannya namun jika urusan akademik ia bukanlah yang terakhir. Banyak prestasi yang bisa ia banggakan jika ia mau namun baginya menjadi dirinya sendiri seperti ini adalah pilihan terbaiknya.

Pemikiran semacam itulah yang membuat Dino tidak mudah untuk dijatuhkan. Semangat yang datang bukan dari orang lain tapi justru dari dirinya sendiri. Itulah modal terbesar dalam hidupnya. Ucapan-ucapan dan gesture tubuh Teo yang mengejek dirinya tak dianggapnya beban. Baginya Teo melakukan itu karena ia tidak mempunyai prinsip sama seperti dirinya. Ya Teo memang jago soal lari tapi sayang ia luput untuk memperbaiki kekurangan dirinya disisi lain.

“Sepertinya kau semangat sekali berlari tadi, Dino? Kupikir kau bakal jadi yang pertama sampai di sekolah dan mendapat nilai terbaik dari Pak Hondoyo” sindir Teo sambil menyeruput es dalam plastik yang digenggamnya dengan sedotan.

“Ah kau bisa saja Teo. Itu terlalu berat bagiku. Aku hanya memperbaiki catatan lari atas namaku sendiri. Itu saja” balas Dino tenang.

“Taukah kamu, Teo? Kita tidak sedang berkompetisi dengan orang lain. Tapi yang paling penting adalah kita berkompetisi dengan diri kita sendiri. Mengalahkan malas, lelah dan segala perasaan yang bisa menjatuhkan diri kita sendiri” jelas Dino dengan ucapan yang tegas pada Teo.

“Kita mengalahkan waktu, keterbatasan, emosi dan segala rintangan yang pasti dihadapi setiap oramg dalam bentuk yang berbeda-beda, Teo.”

“Oh ya satu lagi. Kita diciptakan oleh Tuhan itu pada lintasan kita masing-masing. Cepat atau lambat kita sampai di akhir lintasan kita bukan karena orang lain tapi justru karena kita sendiri, karena kekuatan yang besar dari dalam diri kita sendiri. Apakah kau setuju itu, Teo?” tanya Dino sambil menatap ke arah Teo yang terdiam.

“Entahlah. Aku tak tau arah pembicaraanmu. Pembicaraanmu terlalu berat” jawab Teo sambil berlalu pergi meninggalkan Dino.

Dua puluh tahun sudah berlalu sejak kejadian itu. Prinsip yang Dino yakini benar-benar membimbing setiap langkah hidupnya. Ia telah menyelesaikan pendidikan hingga level magister, bekerja di sebuah perusahaan asing dengan menduduki jabatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata sementara Teo kini menjadi buruh tebas tebu di perusahaan gula di daerahnya.

Dino yakin setiap manusia mengikuti track hidupnya masing-masing. Kita tidak sedang berkompetisi dengan orang lain tapi kita berkompetisi dengan diri kita sendiri untuk melintasi track kita sendiri. 

Surat Untuk Ayah

 

Surat Untuk Ayah

 

 

Hari itu tanggal 20 Maret 1997. Setelah hampir sepuluh tahun aku meninggalkan rumah kuberanikan diri untuk menulis sepucuk surat yang kutujukan kepada ayahku di kampung,

 

             Kepada Ayahanda yang Sofyan sayangi,

             Di Kampung.

 

             Assalamualaikum, Ayah.

Sebelumnya Sofyan mohon maaf jika Sofyan memberanikan diri berkirim surat pada Ayah. Setelah sepuluh tahun Sofyan pergi, ini surat Sofyan yang pertama kali. Apa kabar, Ayah? Semoga Allah memberikan kesehatan untuk ayah disana? Sofyan pun dalam keadaan baik dan sehat.

Ayah, Sofyan sangat rindu dengan Ayah. Apakah Ayah masih membenci Sofyan? Apakah Ayah masih mau menerima Sofyan jika Sofyan pulang ke kampung? Ayah, Sofyan benar-benar minta maaf atas kesalahan Sofyan dulu. Izinkan Sofyan untuk pulang dan berbakti pada Ayah. Sofyan sekarang sudah berubah, Yah. Sofyan sekarang bukan Sofyan yang dulu yang selalu menyusahkan Ayah, yang selalu membuat malu Ayah. Sofyan sekarang sudah berbeda, Yah. Izinkan Sofyan pulang dan mencium kaki, Ayah. Izinkan Sofyan menebus dosa-dosa masa lalu Sofyan pada Ayah. Sofyan menyesal. Sofyan rindu sekali dengan Ayah.

Ayah, dalam surat ini Sofyan cantumkan alamat Sofyan. Sofyan berharap sekali Ayah membalas surat Sofyan ini.

Salam rindu untuk Ayah.

             Wassalamualaikum, wr.wb

 

                                                                                                Dari Anakmu,

                                                                                                Sofyan

 

Surat yang kutulis dengan perasaan tak karuan tersebut segera saja kumasukkan kedalam amplop putih yang kubeli dua hari sebelumnya bersamaan dengan sebuah perangko bertuliskan Rp.1500 bergambar penari betawi. Bergegas aku keluar dari rumah dan naik angkutan kota menuju kantor pos. Kuserahkan surat tersebut pada petugas kantor pos dan kutinggalkan segera tanpa banyak bicara.

Ini adalah surat pertamaku pada ayah setelah 10 tahun aku merantau ke ibukota meninggalkan kampungku di pulau Sumatera. Sepuluh tahun lalu masih membekas dalam ingatanku amarah ayah padaku.

“Dasar anak tak tau di untung. Sudah berapa kali ayah bilang jangan pernah mencuri. Semiskin apapun kita, jangan pernah mencuri, Nak!” ucap ayahku berapi-api dengan mata merah menahan amarah.

“Minggu lalu gurumu memanggil ayahmu ini karena kamu mengambil uang milik temanmu. Tiga hari lalu kau di sidang di balai kampung karena ketahuan mencuri ayam jago Nyak Mutia. Untung warga kampung tidak mengadukanmu ke polisi. Mereka masih kasihan melihat ayahmu ini, Sofyan! Apakah kamu paham itu!!” bentak ayahku.

Aku hanya diam mengigil ketakutan. Kali ini ayah benar-benar marah.

“Kamu mau jadi apa jika kamu tidak berubah, Sofyan! Untuk apa kamu mencuri lagi hari ini? Ayahmu ini masih sanggup jika hanya memberimu makan sehari tiga kali!!”

“Maafin Sofyan, Ayah. Sofyan janji Sofyan tidak akan mengulanginya lagi,” akhirnya aku beranikan membuka mulutku.

“Itu yang selalu kau katakan pada ayah setiap kali kau berbuat salah. Kali ini ayah tidak dapat memaafkanmu. Tinggalkan rumah ini!! Ayah malu dipandang tetangga tidak bisa mendidikmu!!” kali ini tampak sorot mata ayah penuh kemarahan.

Ayah benar-benar marah setelah mengetahui bahwa aku mencuri sepeda Mak Iroh dan menjualnya ke pasar. Bagaimanapun usahaku meminta maaf pada ayah, ia tidak bergeming. Aku benar-benar diusirnya saat itu.

Aku sadar aku sangat nakal saat itu. Sejak ibuku meninggal saat aku kelas dua esempe aku menjadi sangat jauh dari biasanya. Sholat lima waktu yang rajin kukerjakan saat ibuku masih ada lambat laun menjadi sering kutinggalkan. Ayahku yang berprofesi sebagai nelayan tak punya cukup waktu mengurusiku anak semata wayangnya. Jadilah aku semakin liar dan sering melakukan hal-hal yang membuat malu ayahku.

Tanggal 22 April 1997. Kubaca kembali surat keduaku untuk ayahku yang akan kukirim melalui pos siang ini:

 

             Kepada Ayahanda Tercinta

             Di Kampung

 

             “Assalamulaikum, Ayah.



Semoga Allah SWT selalu memberi kesehatan pada Ayah. Apakah Ayah sudah menerima suratku sebelumnya? Sofyan tahu Ayah pasti masih sangat marah pada Sofyan.

Tahukah Ayah. Sepuluh tahun lalu Sofyan meninggalkan kampung kita dengan hati hancur. Sofyan tahu Sofyan salah dan sudah membuat malu Ayah di kampung. Sofyan menumpang pada truk yang akan menuju ibukota. Sesampai di ibukota Sofyan berhari-hari terlunta lunta, Ayah. Sofyan tak tahu harus kemana? Sofyan tak tahu apa yang harus Sofyan lakukan. Sofyan hidup dari sisa makanan yang Sofyan temukan selama berhari-hari.

Tapi mulai hari itu Sofyan berjanji Sofyan akan menjadi anak yang suatu saat akan membanggakan Ayah. Sofyan tidak meninggalkan sholat lagi. Sofyan tidak pernah mencuri lagi walau hanya serupiah. Sofyan selalu berdoa untuk Ayah dan almarhumah ibu. Sofyan selalu berdoa agar Ayah memaafkan Sofyan. Hingga akhirnya ada keluarga yang kasihan dan mengajak Sofyan untuk tinggal bersama mereka. Sofyan sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Setiap hari Sofyan membantu mereka berdagang di pasar. Hingga kini akhirnya Sofyan bisa mempunyai beberapa toko milik Sofyan sendiri. Kini saatnya Sofyan membuktikan pada Ayah bahwa Sofyan benar-benarr sudah berubah.

Maukah Ayah memaafkan Sofyan? Sofyan rindu dengan Ayah? Beberapa kali dalam minggu-minggu ini Sofyan selalu bermimpi Ayah menjemput Sofyan pulang. Rindu Sofyan makin menjadi, Ayah.

Sekian surat dari Sofyan. Semoga Ayah berkenan membalas surat anakmu ini.

Wassalamualaikum, wr,wb

Hormat Ananda,

Sofyan

 

Tak ada balasan sama sekali atas suratku yang kedua. Sepertinya ayah benar benar marah kepadaku hingga tak mau lagi membalas surat-suratku. Aku tahu betapa nakalnya aku dulu. Ayah pasti sangat kecewa padaku. Anak semata wayangnya yang dibangga-banggakannya ternyata justru membuatnya malu. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali.


Tanggal 2 Juni 1997. Ini surat ketigaku untuk Ayah. Ini akan menjadi surat terakhirku untuk Ayah.

 

Kepada Ayahanda Tercinta

Di Kampung

 

Assalamualaikum, Ayah.

Apa kabar, Ayah? Semoga Ayah dalam keadaan sehat. Minggu depan Sofyan akan pulang ke kampung. Apapun yang terjadi Sofyan ingin meminta maaf pada Ayah. Sofyan rindu Ayah.

Wassalamualaikum, wr.wb

Hormat Ananda,

Sofyan

 

Aku tak peduli apapun yang akan terjadi. Sudah satu minggu surat terakhirku kukirimkan pada ayah. Kali ini aku dalam perjalanan menuju kampungku. Ada banyak perasaan berkecamuk tatkala aku dalam perjalanan menuju kampungku. Apalagi saat perjalanan sudah semakin dekat kampungku. Ada rindu, malu dan semua perasaan melebur menjadi satu pada diriku. Tapi tekadku kali ini sudah bulat. Aku harus bertemu ayah. Meminta maaf dan mengajaknya hidup bersamaku agar ia tidak hidup susah. Akan kutebus semua kesalahanku pada ayah. Akan kubahagiakan Ayah dengan semua kemampuanku. Itu tekadku.

“Ayahmu sangat menyayangimu, Sofyan” ucap wak Tiro, tetangga samping rumah ayahku yang sudah kami anggap seperti saudara sendiri.

“Sepeninggalmu sepuluh tahun lalu, ayahmu sangat menyesal. Ia ingin mencarimu tapi tidak tahu harus kemana. Hampir seluruh warga kampung ini ia tanyai siapa tau ada yang pernah melihatmu atau tahu kabar tentangmu. Tapi tak ada informasi yang bisa ia dapatkan” jelas Wak Tiro padaku.

“Sejak saat itu ayahmu tak lagi bersemangat pergi melaut. Ia mulai sakit-sakitan. Setiap hari namamu yang disebut. Ia menyesal sudah mengusirmu dari rumah. Ayahmu selalu memafkanmu, Sofyan. Kami tahu jika namamu selalu disebutnya setiap berdoa. Ayahmu pernah bercerita pada wak Tiro jika suatu hari kamu pasti pulang. Ayahmu yakin itu karena ia selalu mendoakan itu, ” suara wak Tiro kudengar lirih di sampingku.

Aku bangkit dengan sisa tenaga dan mata sembab meninggalkan nisan ayahku dalam kesunyian. Wak Tiro mengikutiku dari belakang. Sudah lima tahun ayahku tiada, menantiku tiba meski tak bisa bertatap muka.


#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"

PERPUSTAKAAN KELILING MASUK SEKOLAH

Pada hari rabu, 31 Agustus 2022 SMPN 1 Terbanggi Besar kedatangan mobil perpustakaan keliling dari perpustakaan daerah Kabupaten Lampung Ten...