Rabu, 23 September 2020

ELEGI SANG BELALANG

 

ELEGI SANG BELALANG

 

 

Senja menjelang malam

Suara alam kian mencekam

Nampak berat kau lalui tanah lapang

Sesekali kau tarik napas panjang

 

Sungguh kasihan

Kau nampak seperti belalang dimusim hujan

Basah kuyub dan kedinginan

Sedang tak kau temukan sumber kehidupan

 

Kau tau ini perjuangan

Hidupmu masih panjang

Tangis dan rengekmu tak mendapat tanggapan

Andai waktu tak kau sia-siakan

 

Sementara…

Mereka semua sama

Yang datang hanya penyesalan

Hingga hanya ada dua pilihan

Bertahan atau mati dalam kehinaan

 

(Poncowati, October 2019)

HANTU SISWA

 

Hantu Siswa


 

             -Pengalaman yang tak terlupakan selama mengajar adalah menjadi guru bagi seorang hantu-

Aku adalah seorang guru baru di sebuah sekolah menegah pertama yang terletak di salah satu daerah pedalaman di Sumatera. Menjadi guru memang sudah menjadi cita-citaku sejak kecil. Entah mengapa ketika melihat guru dengan seragamnya yang rapi aku selalu tertarik. Ya tertarik untuk menjadi guru.

Dari SD hingga perguruan tinggi kuhabiskan pendidikanku di pulau jawa. Hingga suatu saat pamanku yang tinggal di Sumatera mengabarkan bahwa ada penerimaan calon pegawai negeri untuk guru SMP. Singkat cerita karena bujukan pamanku akhirnya aku mendaftar dan ternyata setelah melalui ujian tulis aku dinyatakan diterima.

Akhirnya akupun hijrah ke Sumatera. Menjadi guru matematika di sebuah SMP Negeri. Sekolahku ternyata bukanlah di sebuah tempat yang ramai. Sekolahku letaknya hampir di ujung sebuah desa, berbatasan dengan ratusan hektar kebun kelapa sawit. Aku tidak tahu mengapa sekolah ini didirikan di ujung desa seperti ini. Bukankah biasanya sekolah-sekolah didirikan di tengah-tengah pemukiman yang padat penduduknya. Tapi tak tahulah, mungkin bisa panjang ceritanya jika aku harus mencari tahu.

Pertama kali aku sampai disekolah ini ada kesan horor yang membuat bulu kudukku berdiri. Ya, aku memang sensitif dengan hal-hal yang demikian. Dulu aku sering demam tinggi ketika berusia enam tahun. Jika sudah demam begitu aku sering mengigau. Sudah beberapa kali di bawa ke dokter namun diagnosa dokter selalu berubah ubah. Bahkan antara dokter yang satu dengan yang lainnya bisa berbeda. Akhirnya ayahku membawaku ke seseorang yang di anggap mampu mengobatiku. Sesampai disana aku hanya diberi air putih. Sejak itu aku tidak pernah demam panas lagi.

Namun sejak saat itu aku merasa sedikit aneh. Aku menjadi bisa melihat hal-hal gaib di sekitarku. Beberapa kali pula ayahku membawa aku ke orang pintar untuk menyembuhkanku namun tidak juga berhasil. Kemampuanku tersebut kurasakan hingga aku kelas 3 SMP. Saat aku sudah memasuki SMA aku tidak terlalu sering melihat hal-hal gaib di sekitarku. Masih bisa melihat tapi tidak sesering waktu aku SD dan SMP. Aku tidak tahu apa penyebabnya.

Kemampuanku tersebut masih kumiliki hingga aku menjadi guru. Saat pertama kali aku mengikuti upacara disekolahku, aku sempat heran karena aku melihat ada beberapa siswa yang tidak berseragam. Mengapa anak-anak itu tidak berseragam? Apakah seragamnya basah atau tidak mampu untuk membeli seragam?

Setelah upacara selesai kuberanikan diri untuk bertanya kepada Bu Puji, guru Bahasa Indonesia di sekolahku tersebut.

“Kenapa beberapa siswa dibiarkan tidak berseragam ya, Bu? Apakah mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu yang tidak bisa membeli seragam?” tanyaku pada Bu Puji.

“Siswa yang  mana, Pak Iwan?” Bu Puji balik bertanya.

“Itu lo bu siswa yang berada di barisan tepat di depan saya. Jika tidak salah siswa kelas 7D,” aku menjelaskan pada Bu Puji.

“Ah rasanya semua siswa tadi berseragam yang sama semua, Pak Iwan. Bapak mungkin salah lihat. Jarak Pak Iwan sampai ke anak-anak tadi kan cukup jauh. Mungkin bapak yang salah lihat,” begitu ucap Bu Puji.

Sebenarnya aku masih ingin meyakinkan Bu Puji jika yang kulihat tersebut benar tapi niatku tersebut kuurungkan mengingat aku adalah guru baru disitu. Aku tak mau di anggap membicarakan hal-hal yang tidak benar.

Pertanyaanku tersebut akhirnya terjawab setelah aku tiga bulan berada di sekolah tersebut. Siswa-siswa yang tidak berseragam tersebut ternyata bukanlah siswa yang sebenarnya. Hal ini mulai kusadari saat sering sekali terjadi kesurupan pada siswa kelas 7D. Beberapa orang pintar yang didatangkan oleh Pak Margono, wakil kepala sekolah kami, mengatakan jika siswa-siswa tersebut di ganggu oleh hantu anak-anak. Hal itu terjadi berkali-kali di kelas 7D. Beberapa siswa tiba-tiba berteriak teriak tak tentu karena kesurupan saat jam pelajaran.

Kejadian-kejadian tersebut sangat menganggu proses belajar di kelas 7D maupun kelas-kelas disampingnya. Beberapa siswa tampak berhamburan keluar kelas karena ikut ketakutan, Sementara siswa kelas lain malah bergerombol di samping jendela-jendela kelas ingin menyaksikan apa yang terjadi di kelas 7D. Sekolah beanr-benar dibuat kerepotan saat itu karena ternyata tidak hanya satu siswa yang kesurupan melainkan beberapa siswa. Akhirnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak baik siswa-siswa dipulangkan lebih awal dari jadwal biasanya.

Suatu hari, saat jam pelajaranku di kelas 7D aku melihat seorang anak perempuan dengan seragam yang berbeda duduk di bangku paling belakang. Itu seharusnya adalah bangkunya Vina. Namun karena Vina tidak masuk hari itu maka anak perempuan yang tidak berseragam itu duduk disitu.

Aku sadar itu bukanlah siswaku. Kulihat anak perempuan tersebut terlihat murung. Namun tatapan matanya tetap mengarah kedepan memperhatikanku yang sedang menjelaskan materi.

Saat siswa siswa sedang sibuk mengerjakan tugas aku berjalan ke arah anak perempuan tersebut.  Kuambil sebuah kertas dan kutulis kalimat-kalimat pertanyaan pada anak tersebut.

“Siapa namamu?” tulisku pada kertas tersebut.

“Saya Aline, Pak,” tulisnya pada kertas yang kuletakkan dimejanya tersebut. Tentu saja siswa-siswa tak ada yang dapat melihat Aline saat menulis di kertas tersebut namun aku tetap hati-hati saat aku mengambil kertas di meja Aline tersebut untuk menulis dan meletakkannya kembali agar siswa-siswaku yang lain tidak mencurigai apa yang kulakukan.

“Kenapa kau disini,” tanyaku pada Aline.

“Saya ingin sekolah, Pak. Bolehkan, Pak?” tanya Aline.

Hantu ingin sekolah? Kok saya mendengarnya agak lucu ya? Untuk apa dia sekolah?

“Boleh, asal ikuti saya setelah jam pelajaran saya ini ya. Kita ke laboratorium biologi,” ucapku pada Aline.

“Baik, Pak” ucap Aline.

Aku melihat Aline seperti siswa biasa. Tidak ada yang menakutkan walau dia hantu. Hanya bedanya ia tidak memakai seragam seperti siswa lainnya. Ia hanya memakai baju kemeja biasa dan rok panjang semata kaki.

Saat jam pelajaran matematikaku selesai segera bergegas aku ke laboratorium biologi dengan sebelumnya mengambil kunci laboratorium tersebut di kantor TU. Sengaja aku memilih laboratorium biologi karena ruanggannya yang letaknya jauh dari ruang lain di sekolahku.

“Kamu siapa sebenarnya? Ceritakan pada saya,” tanyaku pada Aline saat kulihat tiba-tiba dia sudah didepanku.

“Saya Aline, Pak. Dua tahun lalu saya bersekolah disini. Saya meninggal karena bunuh diri di toilet sekolah. Saya depresi, Pak. Ayah dan ibu saya selalu bertengkar. Mereka tidak pernah memperhatikan saya. Saya senang belajar di sekolah tapi saya tidak pernah bisa fokus pada pelajaran sehingga saya sering melamun di kelas. Saya sering dimarahi guru karena melamun dan tidak fokus. Itu terjadi hampir setiap hari sehingga nilai-nilai saya juga hancur,” jelas Aline.

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya?” tanyaku semakin berempati pada cerita Aline.

“Saya tertekan, Pak. Di sekolah saya kena marah. Di rumahpun seperti itu. Hingga hari itu saya khilaf, Pak. Saya mengakhiri hidup saya di toilet sekolah dengan gantung diri menggunakan dua buah dasi sekolah yang saya punya. Saya menyesal, Pak” Aline tampak bercerita dengan penuh perasaan.

“Jadi selama ini yang mengganggu siswa-siswa kelas 7D itu kamu?” tanyaku penuh selidik pada Aline.

“Bukan, Pak. Itu teman-teman saya. Mereka tidak mau saya duduk di dalam kelas mengikuti pelajaran. Mereka inginnya saya bermain bersama mereka tapi saya tidak mau. Akhirnya mereka menganggu siswa-siswa kelas 7D tersebut agar proses belajar di kelas tersebut berantakan. Tapi saya bisa mengatasinya, Pak. Saya janji,” terlihat Aline sungguh-sungguh mengucapkan itu padaku.

“Baik. Kita harus punya kesepakatan mulai hari ini. Kamu boleh mengikuti pelajaran saya. Kamu juga boleh mengikuti pelajaran lain tapi kamu tidak boleh beriteraksi dengan guru pelajaran lain tersebut. Kamu juga tidak boleh mengganggu siswa-siswa sekolah ini. Kamu akan mengikuti setiap penilaian harian, penilaian tengah semester maupun penilaian akhir semester pelajaran saya. Abaikan penilaian mata pelajaran lain. Jika nilai matematikamu baik maka kamu akan naik kelas. Tapi ingat jika kamu naik kelas kamu harus masuk di kelas dimana saya wali kelasnya, bagaimana? Kamu setuju?” tanyaku pada Aline.

“Saya setuju, Pak” ucap Aline tampak berbinar-binar.

“Baiklah. Sekarang kamu boleh pergi.”

“Baik. Pak” ucap Aline yang tiba-tiba saja langsung hilang dari pandanganku.

Sejak saat itu tidak ada lagi kejadian kesurupan di kelas 7D. Sepertinya Aline benar-benar memenuhi janjinya padaku. Setiap pelajaranku di kelas 7D ia selalu hadir. Dia benar-benar siswa yang rajin. Setiap kali penilaian harian aku selalu melebihkan satu soal dan satu lembar jawaban untuk Aline, kuletakkan diatas mejaku. Kubiarkan Aline duduk di kursiku tersebut untuk mengerjakan soal-soal tersebut sementara aku berkeliling melihat siswa lain mengerjakan soal-soal mereka atau berdiri di bagian belakang sambil bersandar di tembok kelas.

Saat ujian tengah semesterpun Aline akan masuk di ruangan dimana aku mengawas. Begitulah yang kulakukan terhadap Aline. Aline cukup cerdas, nilai-nilainya tidaklah terlalu buruk. Jika ia nyata mungkin ia akan masuk dalam peringkat 10 besar dikelasnya.

Tak ada rapor khusus untuk Aline. Aku hanya mengatakan ia naik kelas. Maka ia akan berada di kelasku pada tahun ajaran berikutnya. Sengaja aku meminta kepada wakil kepala sekolah bagian kurikulum agar aku dijadikan wali kelas delapan. Kemudian tahun berikutnya aku meminta dijadikan wali kelas sembilan. Aku mengatakan pada wakil kepala sekolah bagian kurikulum bahwa aku ingin merasakan bagaimana menjadi wali kelas di level yang berbeda-beda.

Hingga suatu hari, aku sengaja memanggil Aline untuk berbicara dengannya di laboratorium biologi.

“Aline, hari ini pengumuman kelulusan sekolah kita. Semua siswa SMP kita dinyatakan lulus, termasuk juga kamu. Saya hanya melihat nilai matematikamu. Menurut penilaian saya, kamu layak untuk lulus,” ucapku pada Aline yang tampak serius di depanku.

“Kamu boleh meninggalkan sekolah ini, tapi ingat jangan pernah mengganggu siswa lain di sekolah manapun. Dan jika di sekolah yang lebih tinggi nanti kamu tidak menemui guru yang bisa berinteraksi denganmu seperti saya jangan kecewa karena tidak semua bisa seperti itu. Jika kamu ingin tetap belajar, belajarlah saja tanpa harus berinteraksi dengan guru ataupun siswa lain ya. Kamu paham yang saya bicarakan, Aline?” tanyaku.

“Saya paham, Pak. Terimaksih atas semua kebaikan, Bapak. Mulai besok saya tidak akan di sekolah ini. Terimakasih atas semua yang sudah Bapak berikan,” jawab Aline padaku.

Benar-benar pengalaman yang tidak biasa. Pertemuanku dengan Aline tak bisa kujelaskan pada siapapun. Tak akan ada yang percaya jika aku bercerita. Pengalaman yang benar-benar selalu terekam di memoriku.

Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu Aline lagi. Entah apakah ia benar-benar mencari sekolah lain lagi atau kemana aku tidak tahu.


#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"

JODOH PILIHAN BAPAK

 

Jodoh Pilihan Bapak

 


Namaku Wulan, tepatnya Ayu Wulandari. Nama yang begitu indah yang diberikan orang tuaku 38 tahun lalu. Kata bapakku ayu itu artinya cantik sedangkan wulandari itu artinya bulan purnama. Jadi jika diartikan Ayu Wulandari itu artinya bulan purnama yang cantik. Ah bisa saja bapakku. Tapi benar kata orang nama itu doa. Buktinya banyak orang yang bilang aku memang cantik. Kulit putih, rambut panjang dan lurus kuwarisi dari ibuku sedangkan tubuh tinggiku dapat dari bapakku. Aku benar-benar beruntung. Bayangkan jika aku mewarisi gemuk dan pendeknya ibuku serta keritingnya bapakku. Duh jadilah aku perempuan gemuk pendek dan keriting.

Aku anak sulung dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Adikku Naeswari sudah sepuluh tahun menamatkan kuliahnya. Adikku yang pendiam itu sekarang sudah jadi perawat. Bekerja di rumah sakit swasta di kota kami. Sementara Nastiti, adikku yang paling bungsu mengikuti jejak ibuku menjadi seorang guru sekolah dasar.

Namun untuk urusan jodoh ternyata nasibku tak seindah nama dan rupaku. Buktinya sampai usia hampir kepala empat aku masih sendiri. Seandainya dulu kuterima cintanya Adit pasti aku sudah punya anak dua atau tiga. Mengingat Adit membuatku menyesal. Adit adalah teman SMA ku. Sejak SMA aku sudah tau dia menaruh perasaan padaku tapi aku pura-pura tidak tahu. Kami berteman akrab sama seperti dengan teman yang lainnya. Hingga semester lima saat kuliah kami masih akrab. Berangkat dan pulang kuliah bersama karena kami memang satu universitas hanya beda fakultas saja. Adit sangat sopan padaku. Tak pernah ia marah sedikitpun, bahkan jika aku yang salahpun dia yang akan meminta maaf. Hingga suatu hari ia memberanikan diri menyatakan cintanya padaku. Ada perasaan senang namun bingung saat itu. Senang karena merasa dicintai seseorang namun bingung karena saat itu aku tidak ingin terikat dengan yang namanya pacaran. Aku hanya ingin berteman saja dan fokus pada kuliahku.

Sejak penolakanku saat itu, Adit terlihat sedikit menjauh dariku. Hingga akhirnya setahun setelah kami wisuda kudengar ia menikah. Ia sudah tinggal di kota yang berbeda denganku. Ia tak memberi kabar padaku tentang pernikahannya. Jujur saat itu aku merasa menyesal.

Sejak itu aku mencoba dekat dengan beberapa lelaki namun entah mengapa selalu kandas hanya dalam waktu yang tak lama karena aku merasa tidak cocok atau justru lelaki tersebut yang meninggalkanku.

“Jadi kapan nduk kamu mau menikah?” tanya bapakku untuk yang mungkin sudah ratusan kalinya. Aku hanya diam.

“Bapakmu ini sudah pensiun. Punya anak perempuan tiga kok ya belum ada yang menikah. Kapan bapakmu ini mau menimang cucu?” tanya bapak lagi.

Jika sudah begini aku, Naeswari dan Nastiti langsung akan diam semua. Acara malam minggu yang kami isi dengan nonton drama korea seolah berubah menjadi film horor. Kenapa sih pak kok ya topiknya itu lagi itu lagi jeritku dalam hati. Mungkin karena bapak punya waktu banyak dengan kami bertiga ya pada malam minggu begini jadilah ia tanyakan itu pada kami.

Aku tak menyalahkan bapak sepenuhnya. Sebagai orang tua wajar jika mereka cemas mempunyai tiga orang anak perempuan yang sudah cukup umur tapi kok belum juga ada tanda-tanda mau menikah. Sementara teman-teman bapakku sudah banyak yang mempunyai cucu tiga sampai lima cucu.

“Jangan-jangan kalian ini kena sengkolo kebo kemali. Terutama kamu Nduk Wulan,” ucap bapakku.

Kami bertiga serempak menoleh pada bapakku. Nastiti yang dari tadi diam akhirnya buka suara, “Sengkolo kebo kemali itu apa, Pak?”

“Itu lo Nduk sengkala atau kesialan seseorang yang sulit dapet jodoh. Katanya orang-orang yang seperti itu selalu saja ada kesulitan jika untuk urusan jodoh. Tapi itu kata orang-orang tua dulu,” jelas ibuku yang sejak tadi mendengar percakapan kami.

Duh, lagi-lagi bapakku bawa-bawa kepercayaan orang orang dulu untuk urusan begini. Susah menjelaskan ke bapak kalo sudah urusan begini.

“Kalian harus di ruwat!! Pokoknya sekali ini harus manut sama bapak!! Besok malam jumat bapak panggil Mbah Kromo,” tampak bapakku makin serius berbicaranya.

Apaan sih pak diruwat. Terus kenapa pula mbah kromo harus dipanggil.

“Diruwat itu apa sih, Bu” kembali Nastiti bertanya pada ibuku.

“Diruwat itu dimandiin kembang terus dibacain doa” ucap ibuku.

“Doanya apa, Bu?”

“ Ya gak tahu. Nanti  Mbah Kromo yang bacain. Paling ya doa biar kalian dapat jodoh,” kata ibuku.

“Aku gak mau, Bu. Itu tradisi lama, Bu. Gak dipakai lagi jaman modern sekarang. Nanti malah kita terjerumus hal-hal syirik lo, Bu. Dosanya malah besar. Enggak ah, aku gak mau” ucapku pada ibuku yang sebenernya kutujukan pada bapakku.

“Oalah kamu kok ngeyel to Nduk!! Bapakmu ini mengusahakan yang terbaik buat kalian kok malah bilangin bapak syirik!!” ucap bapakku dengan kesal dan nada tinggi.

“Ibumu itu juga pengen punya cucu seperti ibu-ibu yang lain. Bosan ibumu itu ditanya tetangga kapan mantu? Kapan mantu? Siapa nih yang mau nikah duluan anaknya?” kembali bapakku berucap berapi-api.

Kalau sudah begini kami bertiga hanya diam. Tak ada yang berani lagi menyangkal ucapan bapak. Jika diteruskan bisa-bisa penyakit asma nya bapak kambuh dan kami semua yang repot.

Ibu lebih banyak diam. Mungkin ia lebih tahu perasaan anak-anaknya. Anak mana yang tidak ingin menikah dengan usia-usia yang sudah tidak muda lagi? Tapi mau bagaimana lagi jika jodohnya belum datang. Kulihat ibu menyeka bulir-bulir airmatanya dan pergi meninggalkan kami. Jika sudah begini suasana menonton TV pun sudah tak nyaman lagi. Bergegas aku ke kamarku disusul Naeswari dan Nastiti ke mamar mereka.

Sejak saat itu aku mencoba semakin terbuka menerima lelaki yang mau mendekatiku. Setiap teman-teman yang menjodohkan aku dengan lelaki yang mereka kenal kucoba untuk membuka diri. Namun entah mengapa semuanya tak berujung pada kecocokan. Sementara Naeswari kulihat beberapa kali diantar oleh lelaki yang sama. Aku menduga itu adalah teman dekatnya atau teman satu rumah sakitnya karena kulihat mereka memakai seragam yang sama.

Sudah sebulan bapak kena serangan stroke. Hampir separuh badannya tak bisa digerakkan. Kaki kanan dan tangan kanannya tak bisa difungsikan seperti biasanya sehingga sangat sulit jika ingin ke kamar mandi. Kondisi beginilah yang membuat kami tak tega pada bapak maupun ibuku. Ibu sendiri usianya sudah 63 tahun. Tidak bisa ibu membantu bapak jika ingin ke kamar mandi atau keperluan lain yang harus memindahkan bapak dari kamarnya ke kamar lain.

Setiap pagi kami bertiga yang berbagi tugas. Aku di dapur mempersiapkan sarapan pagi. Naeswari sibuk mencuci baju kotor dan Nastiti yang membantu keperluan -keperluan bapak. Memapahnya ke kamar mandi atau toilet dan keperluan lainnya. Kadang Naeswari yang mengurusi bapak, kadang juga aku.

Namun saat kami bertiga sudah berangkat bekerja semua jadi serba sulit. Tidak ada yang bisa membantu bapak jika ingin ke kamar mandi. Atau jika ia bosan di kamar dan ingin duduk di ruang tengah rumah kami.

Setelah berembuk dengan ibu, kami bertiga sepakat untuk mencari orang yang bisa membantu keperluan bapak. Ia hanya mengurusi keperluan bapak saat kami semua berangkat kerja sampai salah satu dari kami sudah ada yang pulang terlebih dahulu. Bapak minta dicarikan yang laki-laki biar dia tidak merasa sungkan saat diurusi.

Singkatnya kami setuju dengan keputusan ibu memilih Abizar untuk mengurus keperluan bapak. Abizar adalah anak Bu Maemunah, sahabat pengajian ibuku di Masjid Muhajirin. Sehari-hari Abizar bekerja membantu ayah dan ibunya berjualan kebutuhan pokok di pasar. Usia Abizar sekitar 35 tahun.

Setiap pagi Abizar mengantar ibunya ke pasar. Sedangkan ayahnya berangkat sendiri dengan membawa barang-barang jualan mereka. Sesampainya di pasar Abizar akan membantu membuka toko kecil mereka. Membersihkan dan merapikannya. Setelah mengantar ibunya dan membereskan toko mereka, maka Abizar akan segera berangkat ke rumahku untuk membantu keperluan bapak. Memapah bapakku ke kamar mandi, ke toilet, ke teras dan lain sebagainya. Abizar sangatlah rajin. Setiap kali bertemu dengan aku maupun adik-adikku ia selalu menyapa terlebih dahulu. Namun aku sangat jarang bertemu Abizar. Saat ia datang di pagi hari aku sudah berangkat kerja terlebih dahulu dan saat aku pulang di sore hari ia sudah pulang karena biasanya Naeswari maupun Nastiti sudah pulang ke rumah.

Satu hal yang tak kulupakan dalam hidupku adalah saat suatu malam bapak memanggilku.

“Bagaimana? Apakah kamu sudah menemukan jodohmu, Yu?” tanya bapak tanpa basa-basi.

“Belum, Pak. Ayu kan dari pagi hingga sore kerja pak. Kadang gak ada waktu ketemu banyak orang lain,” aku membela diri.

“Jodoh itu kalau tidak datang ya harus dicari, Yu” ucap bapakku sambil memandangiku dengan tatapan yang tak kumengerti.

“Kamu mau bapak carikan jodoh?”

“Maksudnya, Pak?” tanyaku bingung.

“Kamu mau bapak jodohkan dengan nak Abizar?” tanya bapakku agak pelan.

“Hah…sama Abizar, Pak? Akukan lebih tua tiga tahun dari dia. Apa kata orang nanti, Pak. Kasihan Abizar nanti dikatain orang dapat perawan tua. Gak lah pak. Abizar bisa dapat perempuan yang lebih baik kok dari saya” jawabku pada bapak.

“Sudah tiga bulan bapak di urusi Abizar. Anaknya baik dan sopan. Ibadahnya juga tekun kok. Kalau jodoh, usia tidak jadi penghalang, Yu” bapakku tampak serius sambil memandangiku.

“Kemarin siang bapak sengaja ajak Abizar bicara. Bapak tanya apakah dia sudah ada calon? Dia bilang belum. Kemudian bapak tanya apakah mau jika dia bapak jodohkan dengan kamu. Awalnya dia minder karena dia tidak ada pekerjaan tetap. Tetapi bapak yakinkan kalau pekerjaan bisa di cari. Nanti bisa buka usaha dari rumah. Kalau kamu mau nak Abizar juga setuju karena sebenarnya ia juga suka sama kamu katanya,” panjang lebar bapakku menjelaskannya padaku.

Ah begitulah jodoh. Datangnya tak disangka-sangka. Diusiaku yang hampir kepala empat begini ternyata bapakku lah yang mencarikan jodoh untukku. Ternyata jodoh itu tidak rumit. Asal kita mau menerima kekurangan satu sama lain semua terasa mudah dijalani. Setiap masalah akan mudah dicarikan jalan keluarnya. Tak perlu kita hiraukan omongan orang lain karena yang akan menjalani hidup ini adalah kita sendiri.

Kini sudah hampir dua tahun pernikahanku dengan Abizar, ya mas Abizar. Kami sudah mempunyai seorang anak laki-laki berusia tiga belas bulan. Kesehatan bapakku semakin membaik. Ia tak perlu lagi di bimbing untuk ke kamar mandi. Ia sudah bisa berjalan meski masih menggunakan tongkat. Seringkali mas Abizar ingin membantunya tapi bapak tidak mau karena katanya ia bisa mengerjakannya sendiri.

Aku dan mas Abizar membangun sebuah toko kecil di depan rumah bapakku. Toko berisi keperluan sehari-hari, berjualan pulsa dan isi ulang air minum. Dari pagi hingga sore mas Abizar yang menungguinya sedangkan aku tetap bekerja di tempatku semula. Mas Abizar tidak pernah gengsi dengan pekerjaannya. Naeswari pun sudah menikah dengan teman yang dahulu sering kulihat mengantarnya pulang, namanya Emil. Kini mereka memilih mengontrak di komplek perumahan tak jauh dari rumah bapakku. Sering mereka datang ke rumah bapakku jika ada waktu kosong atau libur.

Tuhan maha baik, Ia mengabulkan doa- ayah-ibuku. Ia memberikan masa tua yang bahagia untuk bapak ibukku. Tuhan memberi kesempatan bapak ibuku untuk melihat cucunya. Menimangnya seperti bapak-ibu yang lainnya. Aku sangat bahagia saat melihat binar-binar bahagia di wajah bapak dan ibuku.

#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"






Rabu, 16 September 2020

About

Guru Penulis (https://gurupenuliz.blogspot.com) adalah sebuah blog yang didirikan oleh seorang guru yang salah satu hobinya adalah menulis. Hobi tersebut disalurkan melalui blog dengan tujuan memberikan inspirasi bagi pembacanya untuk ikut menulis atau menikmati tulisan yang ada. 

Adapun tulisan-tulisan yang dimuat dalam blog ini adalah cerita-cerita pendek dan puisi. Cerita pendek dan puisi hingga saat ini masih menjadi salah satu tulisan yang ditulis maupun dibaca oleh banyak orang. Meskipun jaman semakin modern tidak menyurutkan bagi pembaca cerpen dan puisi untuk meninggalkan kebiasaan/hobinya tersebut.

Blog ini diharapkan menjadi wadah yang pas bagi para pecinta cerpen dan puisi. 

Guru Penulis didirikan pada 15 September 2020, dengan adanya blog ini diharapkan cepen dan puisi tetap exist diantara kita.

Selasa, 15 September 2020

SENJA

 Senja

  

Mak berhenti saja menjadi penari ya” pinta Udin pada perempuan berkebaya hijau dengan selendang kuning terikat di pinggang yang berdiri di depannya tersebut.

“Kenapa, Din” tanya emaknya pada bocah berusia sepuluh tahun tersebut.

“Udin malu, Mak. Setiap hari Udin di ejek teman-teman Udin” jawab Udin polos pada emaknya.

“Kalau emak tidak menari kita dapat uang darimana, Din? Siapa yang akan mencukupi kebutuhan kita. Sudah! jangan kau dengarkan ucapan teman-temanmu itu!

“Emak kan bisa bekerja yang lain” pinta udin.

Sambil menatap Udin emaknya berbicara lirih, “Udin, kamu tahu emakmu ini tidak tamat sekolah dasar. Pekerjaan apa yang bisa emak dapatkan? Paling hanya jadi pembantu rumah tangga atau buruh cuci dan setrika. Pekerjaan itu membutuhkan loyalitas pada majikan, Udin. Emak tidak bisa izin seenaknya jika emak ada keperluan mendadak.”

“Tapi, Mak…” suara Udin sudah tak dihiraukan lagi oleh emaknya. Ia hanya bisa melihat langkah kaki emaknya semakin jauh meninggalkannya sambil membawa tape recorder kecil sebagai sumber musiknya saat ia menari.

Matahari mulai condong ke barat  namun gang-gang kota masih terasa ramai. Beberapa pengendara sepeda motor tampak melewati gang depan kontrakan Udin dan emaknya tersebut. Sebuah gang sempit yang hanya dapat dilalui satu sepeda motor saja. Beberapa perempuan asik mengobrol diteras-teras mereka yang saling berdekatan, dari pembicaraan kebutuhan harian hingga gosip-gosip tentang sesama warga. Beberapa anak seusia Udin masih tampak ramai berkejaran. Saling sembunyi di sudut-sudut gang. Saat salah satu menemukan maka akan pecahlah teriakan mereka satu sama lain.

Udin memilih menutup pintu dan menuju kamarnya. Ia tak ingin bergabung bersama anak-anak yang sedang bermain tersebut. Baginya ikut bermain sama saja dengan menambah luka. Ya, luka karena olok-olok mereka. Apa salah ia dan ibunya? Apa salah ibunya jika ibunya menjadi seorang penari? Udinpun tak mengerti kenapa teman-temannya tersebut selalu mengolok-oloknya dengan ucapan ‘dasar anak penari’,

Tak ada teman saat senja begini. Hanya TV kecil yang dibeli ayahnya dahulu saat usianya enam tahun. Itulah satu-satunya kenangannya terhadap ayahnya. Masih ingat betul Udin saat itu ayahnya mengajaknya ke toko elektronik Koh Acong setelah menghempaskan sebuah celengan tanah berbentuk ayam jago.

Saat ayahnya masih ada, kehidupan mereka tak sesulit sekarang. Meski ayahnya hanya seorang tukang servis elektronik keliling tapi kebutuhan mereka tidak terlalu kekurangan. Di rumahpun Udin masih ada emaknya yang menemani. Namun sejak senja itu, kehidupan Udin berubah. Senja telah mengambil ayahnya darinya. Sebuah truk yang blong rem nya menabrak ayahnya. Emak Udin pun akhirnya banting stir menjadi penari untuk menghidupi keluarganya. Setiap habis ashar ia akan keluar menuju taman-taman kota yang banyak pengunjungnya. Berpindah dari satu taman ke taman yang lainnya demi uang recehan dari penikmat tariannya tersebut.

Kini sudah ratusan senja ia lewati sejak kepergian ayahnya. Senja selalu membawa suasana haru tersendiri bagi Udin. Senja telah merenggut kebahagiannya dan setiap senja pula ia akan kehilangan emaknya. Menikmati senja sendiri di rumah kotrakannya yang terasa sunyi

Seperti senja kali ini, ingin sebenarnya ia ikut emaknya. Menghabiskan senja bersama emaknya berpindah dari taman yang satu ke taman yang lain. Namun sayang tak pernah sedikitpun emaknya mengizinkannya hal itu.

“Kamu di rumah saja, Din. Banyak bahaya di luar sana yang kamu tidak mengerti. Emak tidak akan bisa mengawasimu terus!” begitulah kalimat yang sering di dengar Udin jika ia ingin ikut emaknya.

Sungguh hidup ini keras! Tak seindah dunia para konglomerat atau pun para pejabat. Bisa makan dengan lauk, sayur dan nasi lengkap saja sudah mewah bagi Udin dan emaknya. Berharap pada tetanggapun tidaklah baik. Satu deret rumah kontrakan di kanan-kirinya semua orang susah. Ada pak Narjo si tukang siomay, Pak Yono si buruh kupas kulit udang, pak Unang hampir sama seperti ibunya penjual jasa namun ia jasa suara alias pengamen dan tetangga tetangga lainnya  Hanya emaknyalah perempuan di komplek rumah kontrakan tersebut yang mungkin bekerja setelah Wak Odah yang penjahit baju tak jauh dari rumahnya

Senja hampir berlalu. Gerimis tipis turun sejak tadi. Suara azan magrib sebentar lagi terdengar. Gelisah hati Udin memikirkan mengapa emaknya belum juga pulang? Sesekali ia menuju pintu depan rumahnya. Menatap keluar berharap melihat perempuan setengah baya berkebaya hijau itu berjalan ke arahnya. Namun harapan itu tak jua ia dapati.

Magrib berlalu dan Isya pun telah tiba. Hati Udin masih saja diliputi kecemasan. Tak biasanya emaknya pulang selarut itu. Apakah emaknya mampir ke sebuah tempat terlebih dahulu? Membeli sesuatu untuknya sebagai kejutan? Ah, tak ingin Udin membayangkan itu. Itu bukan kebiasaan emaknya. Dalam hidupnya , tak pasti setahun sekali itu terjadi.

Lalu kemana emaknya? Apakah terjadi sesuatu pada emaknya? Tiba-tiba ketakutan yang mendalam menyelimuti Udin. Satu-satunya harta berharga yang ia punya adalah emaknya. Kemana ia akan bertanya? Meski ia ke rumah tetangga pasti tak satupun yang akan tahu dimana emaknya.

Malam kian larut. Tak ada tanda-tanda kedatangan emak Udin. Matanya sudah sembab karena menangis semalaman sementara bibir Udin seakan tak kuasa lagi ia gerakkan setelah ribuan doa ia panjatkan. Ia tak ingin ini menjadi senja terakhir bersama emaknya.

Saat azan subuh berkumandang, Udin tersentak terbangun. Ia tak ingat lagi jam berapa ia tertidur semalam, Ia segera sadar emaknya belum juga pulang pagi ini. Diraihnya sajadah kecil diatas meja. Segera ia mengambil wudhu dan menjalankan sholat subuh. Hingga pagi tak beranjak ia dari duduk akhir sholatnya saat tiba-tiba ia mendengar pintu diketuk seseorang.

“Emaaak…..”teriak Udin saat menyadari siapa yang di depan pintu rumahnya tersebut. Tangis Udin pun pecah untuk kesekian kalinya setelah tangisnya semalamaan. Hatinya benar-benar bahagia melihat Emaknya kembali dihadapannya.

“Kenapa Emak tidak pulang semalam Mak? Udin takut, Mak. Udin takut kehilangan emak” tangis Udin makin pecah.

“Loh kenapa dengan kepala emak? kenapa di perban, Mak?” kembali Udin bertanya saat terkejut melihat kondisi emaknya.

“Senja kemarin saat emak hendak pulang, emak mengalami kecelakaan Din. Emak hampir tertabrak mobil. Untung emak cepat menghindar tapi malangnya kepala emak terbentur kaca spion mobil tersebut dengan keras. Emak pingsan, Din”

“Lalu, Mak?”tanya Udin sudah tidak sabar mendengar apa yang terjadi.

“Orang yang menabrak emak membawa emak ke klinik terdekat. Emak baru sadar saat tengah malam. Kata dokter klinik emak tidak apa-apa. Makanya Emak nekat minta pulang pagi ini. Emak kepikiran kamu Din. Semua biaya klinik sudah ditanggung orang yang menabrak emak tersebut” ucap emak Udin.

Udin memeluk emaknya dengan erat. Ia tak ingin senja kembali merenggut orang yang disayanginya. Ia tak ingin melewati ratusan senja yang akan datang tanpa emaknya.

#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"

MARTINA

 

Martina

 

  8 Agustus 2019

"Besok sekolah ya nduk. Sudah seminggu kamu ndak sekolah. Teman-temanmu banyak yang sudah kangen lo nduk." Suara Bu Yani terasa sangat lembut di samping Martina. Ia biasa memanggil siswa-siswa perempuannya dengan sebutan 'nduk'. Sebuah panggilan yang biasanya dipakai oleh orang jawa kepada anak perempuan.

"Gak bu. Tina gak mau sekolah lagi," jawab siswa kelas VIII sekolah menengah pertama tersebut dengan suara lirih nyaris tak terdengar.

“Kamu gak kangen to sama teman-temanmu? Mereka menanyakanmu lo. Apalagi teman dekatmu Yema. Beberapa kali dia bercerita ke ibu kalau dia berharap bisa melihatmu sekolah lagi," kembali Bu Yani membujuk siswanya tersebut.

Hanya gelengan kepala yang didapat Bu Yani dari siswanya tersebut. Sudah seminggu ini Martina mogok sekolah. Orangtuanya pun hampir putus asa menasehati dan membujuknya untuk berangkat sekolah.

Hari ini Bu Yani sengaja menyempatkan diri mampir ke rumah siswanya tersebut. Bersilaturahim dan menanyakan kabar keluarga Martina dan yang paling penting adalah membujuk Martina untuk mau kembali  bersekolah.

"Apa ada yang menyakitimu di sekolah? Atau ada masalah lainnya. Kamu bisa cerita ke ibu Nduk. Nanti ibu carikan solusinya," ucap Bu Yani penuh harap.

"Kalau kamu ndak mau cerita sama ibu, kamu bisa cerita ke ibumu nduk"

Martina masih saja diam. Ia terus menunduk sambil mengggaruk-garuk punggung tangan kirinya.

"Apa kamu mau dipindah kelaskan saja nduk? Biar kamu bisa sekelas dengan teman yang cocok dengnmu? Bu Yani menawarkan solusi sambil menggeser duduknya lebih dekat ke Martina.

"Kamu bisa pilih dari kelas VIIIA sampai VIIIG. Kelas mana yang kamu mau? Yang penting kamu sekolah ya nduk.

Mulut Martina seperti terkunci. Ia hanya diam menunduk dan tidak merespon kalimat-kalimat Bu Yani. Sementara pandangan Bu Yani tak lepas dari siswanya tersebut. Ada harap yang Bu Yani masih simpan agar Martina mau sekolah lagi. Bagaimanapun masa depan Martina masih panjang. Ia baru kelas VIII SMP. Ia berhak untuk sekolah lebih tinggi lagi.

Satu jam lebih Bu Yani di rumah tersebut. Menghadapi Martina yang tak kunjung mau berbicara. Mentari sudah terlihat menuju ke arah barat. Ia pun berpamitan dan berjanji akan datang kembali di kemudian hari.

Bu Yani pulang dengan tanpa bersemangat. Ia kehabisan usaha untuk membujuk Martina untuk sekolah. Sementara di dalam rumah, Martina beringsut masuk kedalam kamarnya, menutup pintu kamar rapat-rapat, menarik bantal gulingnya dan menutupkan ke wajahnya. Bulir-bulir air dari matanya terasa hangat menetes di pipinya.

 

12 Agustus 2019

"Nduk, gmn kabarmu? Ibu dengar kamu sekarang makin jarang keluar rumah? Keluar rumah di pagi hari itu sehat lo Nduk. Kamu bisa menyirami bunga, lari-lari pagi, menyapu halaman atau bahkan ke sekolah. Nah, sinar matahari pagi itu baik juga lo buat tubuh kita." Bu Yani terus berbicara sambil menatap wajah Martina yang masih terlihat kurang bersahabat.

"Kita ngobrol diluar yuk. Sepertinya di bawah pohon mangga di depan itu udaranya sejuk dan segar" Bu Yani bergegas menarik lembut tangan Martina.

Martina tampak dengan malas berdiri karena tarikan tangan Bu Yani. Diikutinya gerak langkah Bu Yani. Sengaja Bu Yani mengajaknya keluar biar Martina merasakan udara luar yang lebih segar.

Sudah seminggu ini Martina tidak keluar rumah. Ia lebih banyak mengurung diri di kamar. Orang tuanya pun sudah kehilangan akal untuk membujuknya seperti dulu lagi. Terkadang saat kesabaran orang tuanya teruji, emosipun meluap dan membanjiri isi rumah tersebut. Martina tetap dingin, diam dan tak banyak bicara.

"Nah disini lebih segar kan Nduk?" Kamu ingat di sekolah kita juga ada beberapa tempat yang nyaman buat kalian berdiskusi maupun bersantai saat istirahat."

"Oh ya.. pohon ketapang yang ada di depan perpustakaan sekolah kita itu sudah dibuatkan tempat duduk di bawahnya. Sekarang teman-temanmu banyak yang betah berlama-lama beristirahat disana." Bu Yani berusaha menceritakan kondisi sekolah mereka sekarang bermaksud agar Martina ingat masa-masa di sekolah.

"Kantin sekolah kita juga sudah direnovasi lo Nduk. Nih lihat fotonya di HP ibu." Bu Yani menunjukkan foto-foto kantin yang sekarang.

"Lebih luas dan bersih kan Nduk?"

Martina hanya mengangguk.

“Oh ya Nduk, 2 minggu lagi sekolah kita akan mengadakan festival seni. Ibu dengar kamu bagus dalam melukis. Kamu ikut ya. Siapa tahu kamu bisa juara. Gimana?" Bu Yani masih terus berbicara dengan lembut meski tak ada respon dari Martina.

Entah apa yang ada di pikiran Martina. Ia masih saja diam. Hanya sesekali ia mengangguk mengiyakan kalimat-kalimat Bu Yani. Ini kali kedua Bu Yani datang ke rumahnya. Namun sepertinya Martina makin tak bersemangat bercerita tentang sekolahnya.

Martina adalah anak tunggal. Ia terbiasa sendiri di rumah jika ayah dan ibunya harus berdagang di pasar. Ayahnya sudah akan berangkat ke pasar setelah subuh. Membuka toko kecil di sudut pasar, berdagang kebutuhan pokok. Sementara ibunya akan menyusul setelah Martina berangkat ke sekolah.

Sepulang dari sekolah Martina akan langsung makan siang yang sudah dipersiapkan ibunya sejak pagi. Tak ada yang menemaninya sejak ia sudah SMP ini. Saat SD dulu, sepulang sekolah Martina ditemani seorang pembantu yang memang di gaji oleh ibunya khusus menemaninya dari pulang sekolah sampai kedua orang tuanya pulang selepas ashar. Tapi sejak SMP orang tuanya tidak mencari pembantu lagi karena dianggapnya  Martina sudah bisa mandiri.

Di sekolahpun Martina termasuk anak yang pendiam. Ia hanya mempunyai beberapa teman akrab. Nilai-nilainya pun tergolong cukup. Tidak terlalu membanggakan. Tak ada kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya walaupun beberapa kali wali kelas menyarankan untuk mengikuti ekskul seni lukis karena ia berbakat dalam hal menggambar.

"Ibu pulang dulu ya, Nduk. Nanti kapan-kapan ibu mampir lagi. Besok kalau kamu sudah siap sekolah, hubungi ibu ya. Nanti ibu bakal mampir sebelum jam 7. Kamu berangkat bareng ibu saja ya," kalimat Bu Yani mengakhiri kunjungannya hari itu. Kalimat yang entah didengar Martina ataupun tidak.

Hari makin senja. Sebentar lagi mentari tenggelam. Nampak beberapa penduduk pulang dari ladang. Bu Yani menarik gas motornya dengan kecepatan sedang. Berharap segera sampai di rumahnya. 

 

20 Agustus 2019

Genap dua puluh hari Martina tidak bersekolah. Pihak sekolahpun sudah membahasnya di sela-sela rapat rutin yang diadakan beberapa hari lalu. Beberapa teman Martina sudah ditanyai oleh Bu Yani. Sedikit sekali informasi yang bisa digali tapi Bu Yani mendapat informasi jika beberapa teman Martina sering mengolok-olok Martina karena usianya yang hampir 16 tahun tapi baru kelas delapan sekolah menengah pertama.

Dari guru bimbingan konseling tidak ada catatan pelanggaran yang dilakukan oleh Martina selama di SMP. Namun ketidakhadiran Martina dan beberapa penilaian harian yang tidak diikutinya  hampir 20 hari ini bisa saja menjadi batu sandungan bagi Martina. Oleh karena itu hari ini Bu Yani bertekad kembali ke rumah Martina.

Tepat didepan rumah bercat biru dengan teras cukup luas dan beberapa pohon rindang dihalamannya Bu Yani berhenti. Mematikan sepeda motornya dan memarkirnya tepat d ibawah pohon kelengkeng yang sedang berbunga lebat. Bergegas seorang perempuan berusia empat puluhan menyambut kedatangan Bu Yani. Mengajaknya masuk ke dalam rumah.

"Martina sudah bulat tidak mau sekolah lagi, Bu. Kami sudah kehabisan akal membujuknya" ucap Bu Narto, ibunya Martina.

“Sudah dibujuk, Bu? ditanya lambat-lambat, diajak diskusi pelan-pelan, mudah-mudahan Martina mau. Kalau Martina mau pindah sekolah kami akan memfasilitasinya asal Martina mau sekolah lagi," ucap Bu Yani guru bimbingan konseling disekolah kami.

"Sudah, Bu. Tetep ndak mau. Sudah kami tawari pindah ke sekolah yang dekat sini  ndak mau juga. Kami juga tawari keluar kota nanti ikut pamannya biar suasananya baru juga ndak mau. Saya hampir putus asa, Bu" jawab Bu Narto berkaca-kaca.

Sudah dua kali Bu Narto ke sekolah. Memenuhi panggilan sekolah untuk menemui Bu Yani dan guru bimbingan konseling. Sementara ini kali ketiga Bu Yani mampir ke rumah Bu narto. Berharap Martina mau bercerita kenapa dia tidak mau ke sekolah lagi.

"Nduk, boleh Ibu tanya sesuatu?" Bu Yani membuka pembicaraan setelah ia mohon izin pada Bu Narto untuk berbicara dengan Martina.

Martina hanya mengangguk.

"Apa cita-cita Martina?" tanya Bu Yani

Martina hanya diam.

"Kamu ingin jadi apa, Nduk?"

Martina hanya menggeleng

"Lo kok gak tau. Harus ada cita-cita biar hidup kita ini penuh semangat?"

"Kamu ingin gak jadi polwan?"

Lagi-lagi Martina menggeleng.

"Kalau jadi guru seperti Ibu?

Gelengan Martina tambah kencang

"Bagaimana kalau jadi bu bidan?”

Martina sedikit melirik Bu Yani kemudian mengangguk.

Bu Yani tersenyum. Ada sedikit bahagia menyelinap di hatinya. Setidaknya masih ada sedikit harapan dalam hati Martina.

"Kalau kamu ingin jadi bidan besok sekolah ya, Nduk"?

Martina menggeleng.

"Lo gimana bisa jadi bidan kalau kamu gak mau sekolah."

"Teman-teman Martina jahat!!" suara Martina akhirnya keluar.

"Jahat gimana to, Nduk" tanya Bu Yani pelan.

"Pokoknya jahat. Setiap hari saya di bully, Bu" kini suara Martina semakin meninggi.

"Ya nanti ibu dan sekolah akan menasehati teman-temanmu ya. Nanti akan di panggil teman-temanmu itu untuk dilakukan pembinaan." Bu Yani memberi harapan ke Martina sambil mengelus kepalanya.

"Ibu tidak tahu, bertahun-tahun Tina pendam Bu. Dari sekolah dasar Tina sering diejek teman-teman karena Tina lemah dalam pelajaran. Tina tidak naik kelas dua kali di SD, Bu. Selama di SD Tina di bully teman-teman Tina." Martina menyeka air matanya.

"Tidak ada yang perduli Tina, Bu" tangis Martina semakin menjadi.

"Kini saat di SMP Tina makin di bully juga, Bu. Teman-teman Tina bilang sudah tua kok masih SMP. Tina itu seharusnya sudah SMA, Bu" lanjut Martina

"Siapa Bu yang belain Tina? Siapa yang perduli dengan Tina? Tidak ada, Bu" kembali Martina menumpahkan perasaannya. Sesak di dadanya selama ini ia tumpahkan pada gurunya tersebut.

Bu Yani sempat kehilangan kata-kata menyaksikan luapan hati Marlina yang selama ini terpendam. Kesedihan yang ia tahan bertahun-tahun akhirnya meledak juga hari ini. Ya, ia hanya diam selama ini di sekolah. Mengalah akan bully-an teman-temannya. Sekuat tenaga ia menyimpannya berharap teman-temannya akan menyudahinya. Tak pernah ia ceritakan pada gurunya, pada ayah ibunya maupun pada teman dekatnya, Yema. Kini ia merasa sudah tidak kuat lagi. Bagaimanapun ia harus bercerita kepada Bu Yani  karena ia tahu Bu Yani adalah salah satu guru yang paling mengharapkan ia kembali ke sekolah.

Isak tangis Martina mulai mereda. Bu Yani kini tahu apa yang membuat Martina seolah trauma untuk datang ke sekolah, dibisikkannya beberapa kalimat didekat telinga Martina. Ia berharap itu akan memberi kekuatan pada anak didiknya tersebut.

 

23 Agustus 2019

“Bu Guru, mohon maaf jika Tina tidak sempat bertemu Ibu lagi. Terimakasih ibu sudah meluangkan banyak waktu untuk Tina. Sekarang Tina sudah ada di Solo. Tina ikut paman. Besok Ibu Martina akan ke sekolah mengurus surat-surat pindah sekolah Tina. Terima kasih ibu. Mohon doanya Tina bisa sekolah dengan baik di sekolah yang baru. Semoga Tina bisa menjadi bidan seperti cita-cita Tina selama ini.

Surat dari Martina yang dititipkan melalui salah satu temannya tersebut masih dipegang Bu Yani saat tanpa terasa ada bulir-bulir hangat menetes dari kedua matanya.

#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"

PERPUSTAKAAN KELILING MASUK SEKOLAH

Pada hari rabu, 31 Agustus 2022 SMPN 1 Terbanggi Besar kedatangan mobil perpustakaan keliling dari perpustakaan daerah Kabupaten Lampung Ten...