Martina
8
Agustus 2019
"Besok sekolah ya nduk. Sudah seminggu kamu ndak
sekolah. Teman-temanmu banyak yang sudah kangen lo nduk." Suara Bu
Yani terasa sangat lembut di samping Martina. Ia biasa memanggil siswa-siswa
perempuannya dengan sebutan 'nduk'. Sebuah panggilan yang biasanya
dipakai oleh orang jawa kepada anak perempuan.
"Gak bu. Tina gak mau sekolah lagi," jawab siswa
kelas VIII sekolah menengah pertama tersebut dengan suara lirih nyaris tak
terdengar.
“Kamu gak kangen to
sama teman-temanmu? Mereka menanyakanmu lo.
Apalagi teman dekatmu Yema. Beberapa kali dia bercerita ke ibu kalau dia
berharap bisa melihatmu sekolah lagi," kembali Bu Yani membujuk siswanya
tersebut.
Hanya gelengan kepala yang didapat Bu Yani dari siswanya
tersebut. Sudah seminggu ini Martina mogok sekolah. Orangtuanya pun hampir
putus asa menasehati dan membujuknya untuk berangkat sekolah.
Hari ini Bu Yani sengaja menyempatkan diri mampir ke rumah
siswanya tersebut. Bersilaturahim dan menanyakan kabar keluarga Martina dan
yang paling penting adalah membujuk Martina untuk mau kembali bersekolah.
"Apa ada yang menyakitimu di sekolah? Atau ada masalah
lainnya. Kamu bisa cerita ke ibu Nduk. Nanti ibu carikan solusinya," ucap Bu Yani penuh harap.
"Kalau kamu ndak mau cerita sama ibu, kamu bisa cerita
ke ibumu nduk"
Martina masih saja diam. Ia terus menunduk sambil
mengggaruk-garuk punggung tangan kirinya.
"Apa kamu mau dipindah kelaskan saja nduk? Biar
kamu bisa sekelas dengan teman yang cocok dengnmu? Bu Yani menawarkan solusi
sambil menggeser duduknya lebih dekat ke Martina.
"Kamu bisa pilih dari kelas VIIIA sampai VIIIG. Kelas
mana yang kamu mau? Yang penting kamu sekolah ya nduk.”
Mulut Martina seperti terkunci. Ia hanya diam menunduk dan
tidak merespon kalimat-kalimat Bu Yani. Sementara pandangan Bu Yani tak lepas
dari siswanya tersebut. Ada harap yang Bu Yani masih simpan agar Martina mau
sekolah lagi. Bagaimanapun masa depan Martina masih panjang. Ia baru kelas VIII
SMP. Ia berhak untuk sekolah lebih tinggi lagi.
Satu jam lebih Bu Yani di rumah tersebut. Menghadapi Martina
yang tak kunjung mau berbicara. Mentari sudah terlihat menuju ke arah barat. Ia pun berpamitan dan
berjanji akan datang kembali di kemudian
hari.
Bu Yani pulang dengan tanpa bersemangat. Ia kehabisan usaha
untuk membujuk Martina untuk sekolah.
Sementara di dalam
rumah, Martina beringsut masuk kedalam kamarnya, menutup pintu kamar
rapat-rapat, menarik bantal gulingnya dan menutupkan ke wajahnya. Bulir-bulir
air dari matanya terasa hangat menetes di pipinya.
12
Agustus 2019
"Nduk, gmn kabarmu? Ibu dengar kamu sekarang
makin jarang keluar rumah? Keluar rumah di pagi hari itu sehat lo Nduk.
Kamu bisa menyirami bunga, lari-lari pagi, menyapu halaman atau bahkan ke
sekolah. Nah,
sinar matahari pagi itu baik juga lo buat tubuh kita." Bu Yani terus berbicara sambil
menatap wajah Martina yang masih terlihat kurang bersahabat.
"Kita ngobrol diluar yuk. Sepertinya di bawah pohon mangga
di depan itu udaranya sejuk dan segar" Bu Yani bergegas menarik lembut
tangan Martina.
Martina tampak dengan malas berdiri karena tarikan tangan Bu
Yani. Diikutinya gerak langkah Bu Yani. Sengaja Bu Yani mengajaknya keluar biar
Martina merasakan udara luar yang lebih segar.
Sudah seminggu ini Martina tidak keluar rumah. Ia lebih
banyak mengurung diri di kamar. Orang tuanya pun sudah kehilangan akal untuk
membujuknya seperti dulu lagi. Terkadang saat kesabaran orang tuanya teruji,
emosipun meluap dan membanjiri isi rumah tersebut. Martina tetap dingin, diam
dan tak banyak bicara.
"Nah disini lebih segar kan Nduk?" Kamu
ingat di sekolah kita juga ada beberapa tempat yang nyaman buat kalian
berdiskusi maupun bersantai saat istirahat."
"Oh ya.. pohon ketapang yang ada di depan perpustakaan sekolah kita itu
sudah dibuatkan tempat duduk di bawahnya. Sekarang teman-temanmu banyak yang
betah berlama-lama beristirahat disana."
Bu Yani berusaha menceritakan kondisi sekolah mereka sekarang bermaksud agar
Martina ingat masa-masa di sekolah.
"Kantin sekolah kita juga sudah direnovasi lo Nduk.
Nih lihat fotonya di HP ibu." Bu Yani menunjukkan foto-foto kantin
yang sekarang.
"Lebih luas dan bersih kan Nduk?"
Martina hanya mengangguk.
“Oh ya Nduk, 2 minggu lagi sekolah kita akan mengadakan
festival seni. Ibu dengar kamu bagus dalam melukis. Kamu ikut ya. Siapa tahu
kamu bisa juara. Gimana?" Bu Yani masih terus berbicara dengan lembut meski
tak ada respon dari Martina.
Entah apa yang ada di pikiran Martina. Ia masih saja diam.
Hanya sesekali ia mengangguk mengiyakan kalimat-kalimat Bu Yani. Ini kali kedua
Bu Yani datang ke rumahnya. Namun sepertinya Martina makin tak bersemangat
bercerita tentang sekolahnya.
Martina adalah anak tunggal. Ia terbiasa sendiri di rumah
jika ayah dan ibunya harus berdagang di pasar. Ayahnya sudah akan berangkat ke
pasar setelah subuh. Membuka toko kecil di sudut pasar, berdagang kebutuhan pokok.
Sementara ibunya akan menyusul setelah Martina berangkat ke sekolah.
Sepulang dari sekolah Martina akan langsung makan siang yang
sudah dipersiapkan ibunya sejak pagi. Tak ada yang menemaninya sejak ia sudah
SMP ini. Saat SD dulu, sepulang sekolah Martina ditemani seorang pembantu yang
memang di gaji oleh ibunya khusus menemaninya dari pulang sekolah sampai kedua
orang tuanya pulang selepas ashar. Tapi sejak SMP orang tuanya tidak mencari
pembantu lagi karena dianggapnya Martina
sudah bisa mandiri.
Di sekolahpun Martina termasuk anak yang pendiam. Ia hanya
mempunyai beberapa teman akrab. Nilai-nilainya pun tergolong cukup. Tidak
terlalu membanggakan. Tak ada kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya walaupun
beberapa kali wali kelas menyarankan untuk mengikuti ekskul seni lukis karena
ia berbakat dalam hal menggambar.
"Ibu pulang dulu ya, Nduk. Nanti kapan-kapan ibu
mampir lagi. Besok kalau kamu sudah siap sekolah, hubungi ibu ya. Nanti ibu
bakal mampir sebelum jam 7. Kamu berangkat bareng ibu saja ya," kalimat Bu Yani mengakhiri
kunjungannya hari itu. Kalimat yang entah didengar Martina ataupun tidak.
Hari makin senja. Sebentar lagi mentari tenggelam. Nampak
beberapa penduduk pulang dari ladang. Bu Yani menarik gas motornya dengan
kecepatan sedang. Berharap segera sampai di rumahnya.
20
Agustus 2019
Genap dua puluh hari Martina tidak bersekolah. Pihak
sekolahpun sudah membahasnya di sela-sela rapat rutin yang diadakan beberapa
hari lalu. Beberapa teman Martina sudah ditanyai oleh Bu Yani. Sedikit sekali
informasi yang bisa digali tapi Bu Yani mendapat informasi jika beberapa teman
Martina sering mengolok-olok Martina karena usianya yang hampir 16 tahun tapi
baru kelas delapan sekolah menengah pertama.
Dari guru bimbingan konseling tidak ada catatan pelanggaran
yang dilakukan oleh Martina selama di SMP. Namun ketidakhadiran Martina dan
beberapa penilaian harian yang tidak diikutinya
hampir 20 hari ini bisa saja menjadi batu sandungan bagi Martina. Oleh
karena itu hari ini Bu Yani bertekad kembali ke rumah Martina.
Tepat didepan rumah bercat biru dengan teras cukup luas dan
beberapa pohon rindang dihalamannya Bu Yani berhenti. Mematikan sepeda motornya
dan memarkirnya tepat d ibawah
pohon kelengkeng yang sedang berbunga lebat. Bergegas seorang perempuan berusia
empat puluhan menyambut kedatangan Bu Yani. Mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Martina sudah bulat tidak mau sekolah lagi, Bu. Kami
sudah kehabisan akal membujuknya" ucap Bu Narto, ibunya Martina.
“Sudah dibujuk, Bu? ditanya lambat-lambat, diajak diskusi pelan-pelan, mudah-mudahan Martina mau. Kalau Martina
mau pindah sekolah kami akan memfasilitasinya asal Martina mau sekolah lagi," ucap Bu Yani guru bimbingan
konseling disekolah kami.
"Sudah, Bu. Tetep ndak
mau. Sudah kami tawari pindah ke sekolah yang dekat sini ndak mau juga. Kami juga tawari keluar kota
nanti ikut pamannya biar suasananya baru juga ndak mau. Saya hampir putus asa, Bu" jawab Bu Narto
berkaca-kaca.
Sudah dua kali Bu Narto ke sekolah. Memenuhi panggilan sekolah
untuk menemui Bu Yani dan guru bimbingan konseling. Sementara ini kali ketiga
Bu Yani mampir ke rumah Bu narto. Berharap Martina mau bercerita kenapa dia
tidak mau ke sekolah lagi.
"Nduk, boleh Ibu tanya sesuatu?" Bu Yani
membuka pembicaraan setelah ia mohon izin pada Bu Narto untuk berbicara dengan
Martina.
Martina hanya mengangguk.
"Apa cita-cita Martina?" tanya Bu Yani
Martina hanya diam.
"Kamu ingin jadi apa, Nduk?"
Martina hanya menggeleng
"Lo kok gak tau. Harus ada cita-cita biar hidup kita
ini penuh semangat?"
"Kamu ingin gak jadi polwan?"
Lagi-lagi Martina menggeleng.
"Kalau jadi guru seperti
Ibu?
Gelengan Martina tambah kencang
"Bagaimana kalau jadi bu bidan?”
Martina sedikit melirik Bu Yani kemudian mengangguk.
Bu
Yani tersenyum. Ada sedikit bahagia menyelinap di hatinya. Setidaknya masih ada sedikit harapan
dalam hati Martina.
"Kalau kamu ingin jadi bidan besok sekolah ya, Nduk"?
Martina menggeleng.
"Lo gimana bisa jadi bidan kalau kamu gak mau sekolah."
"Teman-teman Martina jahat!!" suara Martina akhirnya keluar.
"Jahat gimana to,
Nduk" tanya Bu Yani pelan.
"Pokoknya jahat. Setiap hari saya di bully, Bu"
kini suara Martina semakin meninggi.
"Ya nanti ibu dan sekolah akan menasehati teman-temanmu
ya. Nanti akan di panggil
teman-temanmu itu untuk dilakukan pembinaan."
Bu Yani memberi harapan ke Martina sambil mengelus kepalanya.
"Ibu tidak tahu, bertahun-tahun Tina pendam Bu. Dari
sekolah dasar Tina sering diejek teman-teman karena Tina lemah dalam pelajaran.
Tina tidak naik kelas dua kali di SD, Bu. Selama di SD Tina di bully
teman-teman Tina."
Martina menyeka air matanya.
"Tidak ada yang perduli Tina, Bu" tangis Martina semakin
menjadi.
"Kini saat di SMP Tina makin di bully juga, Bu.
Teman-teman Tina bilang sudah tua kok masih SMP. Tina itu seharusnya sudah SMA,
Bu" lanjut Martina
"Siapa Bu yang belain Tina? Siapa yang perduli dengan Tina?
Tidak ada, Bu" kembali Martina menumpahkan perasaannya. Sesak di dadanya selama ini ia tumpahkan pada
gurunya tersebut.
Bu Yani sempat kehilangan kata-kata menyaksikan luapan hati
Marlina yang selama ini terpendam. Kesedihan yang ia tahan bertahun-tahun akhirnya
meledak juga hari ini. Ya, ia hanya diam selama ini di sekolah. Mengalah akan
bully-an teman-temannya. Sekuat tenaga ia menyimpannya berharap teman-temannya
akan menyudahinya. Tak pernah ia ceritakan pada gurunya, pada ayah ibunya
maupun pada teman dekatnya, Yema. Kini ia merasa sudah tidak kuat lagi.
Bagaimanapun ia harus bercerita kepada Bu Yani
karena ia tahu Bu Yani adalah salah satu guru yang paling mengharapkan
ia kembali ke sekolah.
Isak tangis Martina mulai mereda. Bu Yani kini tahu apa yang
membuat Martina seolah trauma untuk datang ke sekolah, dibisikkannya beberapa kalimat didekat
telinga Martina. Ia berharap itu akan memberi kekuatan pada anak didiknya
tersebut.
23
Agustus 2019
“Bu Guru, mohon maaf jika Tina
tidak sempat bertemu Ibu lagi. Terimakasih ibu sudah meluangkan banyak waktu
untuk Tina. Sekarang Tina sudah ada di Solo. Tina ikut paman. Besok Ibu Martina
akan ke sekolah mengurus surat-surat pindah sekolah Tina. Terima kasih ibu.
Mohon doanya Tina bisa sekolah dengan baik di sekolah yang baru. Semoga Tina
bisa menjadi bidan seperti cita-cita Tina selama ini.”
Surat dari Martina yang dititipkan
melalui salah satu temannya tersebut masih dipegang Bu Yani saat tanpa terasa
ada bulir-bulir hangat menetes dari kedua matanya.
#Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Cinta Darto dan Surat Untuk Ayah"